Satu Sudut di Rumah Putih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu sudut di Rumah Putih,
Empat dinding, Satu pintu dan dua jendela yang tidak pernah terbuka..
Senyum tipis tergurat di wajah pucat wanita muda itu..
Dengan kekuatannya yang ada,
Ia berusaha menampilkan senyum terindah..
Untuk putra tunggal kesayangannya..
“Anakku, kita akan baik-baik saja.”bisiknya

Rumah Putih itu selalu sunyi..
Bagai terasing di tempat yang terasing..
Empat dinding, satu pintu dan dua jendela yang selalu tertutup rapat..
Menyimpan seribu kisah tentang air mata dan asa..

Harapan datang silih berganti..
Bersama kecewa dan mimpi..
Yang Ia dan anaknya selalu percaya..
Tiada penantian yang sia-sia..

Dengan kisi-kisi asa yang ada,
Ia bergumul dengan waktu dan usia..
Binar-binar bola mata putranya bercahaya..
Menjadi kekuatan yang baru setiap harinya..
Suatu saat kelak, Ia akan mengantar anaknya ke suatu masa..
Suatu masa yang ia sebut bahagia..

Dan hingga tiba hari itu..
di suatu pagi yang terang..
Hanya satu hari diantara ribuan hari abu-abu..
Dipakaikannya pakaian putih yang bersih ke tubuh putranya yang rupawan..
Dipakaikannya sepatu putih baru..
Dan pewangi tubuh yang lembut harumnya..
Dan tiba saatnya Ia berdandan..
Ia juga memakai gaun putih yang indah..
Disisir rambutnya yang hitam berkilau..
Dan semuanya telah ia siapkan dengan baik untuk hari itu..
“Putraku, Ibu akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah..
dimana bahagia itu nyata”

Dua hari kemudian,
Sebuah headline Harian Ibu Kota memuat berita tentang rumah itu..
Ibu muda dan anak tunggalnya yang belia..
Tewas berpelukan di suatu sudut rumah yang megah..

Semua orang terkejut, terhentak dan membicarakannya..
Demikian juga orang-orang yang mengenal mereka dengan baik..
Sudut rumah putih yang megah itu…
Menjadi saksi dari ribuan kisah yang tidak pernah terungkap..
Menyimpan kisah tentang sebuah pengharapan dan penantian yang berakhir sia-sia..

Ditulis oleh Ric Erica

Jakarta, 31 Januari 2009: 10.30AM

Puisi ini didedikasikan untuk semua wanita Indonesia yang sepanjang hidupnya mengalami kekerasan fisik dan psikis, namun tidak berani mengambil langkah baru dalam hidupnya. Puisi ini hanya untuk mengingatkan bahwa hidup ini terlalu indah untuk berakhir dengan sia-sia.

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

1 Comment to “Satu Sudut di Rumah Putih”

  1. Very says:

    ….. “bahwa hidup ini terlalu indah untuk berakhir dengan sia-sia”. …….. Pesan ini sangat menyentuh

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store