A Nightfall

Dua anak perempuan kecil, berjalan bertelanjang kaki di suatu senja..
Menyusuri kolong jembatan,
Mencari tempat untuk duduk sejenak..
“Hari ini baru dapat 3000 rupiah kak”, begitu perempuan yang paling kecil berkata
“Tidak apa-apa dik, hari belum malam.. Mudah-mudahan kita bisa dapat 7000 lagi, supaya Bapak tidak marah.”
“Aku haus kak.. Dari tadi pagi, aku belum minum.”
Yah, nanti kita beli minum untukmu, sekarang bersabar dulu..

Setiap pagi, kakak beradik kecil itu, menyusuri jalan ibukota..
Kadang bernyanyi, kadang hanya berdiri diantara puluhan mobil di lampu merah
Untuk mendapatkan belas kasihan dari tangan-tangan yang iba..
Tak diperdulikannya, kulit yang menghitam diterpa sang mentari..
Dan kaki yang penuh luka-luka, karena tergerus aspal panas dan batu-batu tajam sepanjang hari..
“Adik kami banyak.. Bapak sakit-sakitan, sementara Ibu bekerja jadi buruh cucian.” Begitu kilah mereka ketika kutanya suatu hari..
“Kamu masih sekolah dik?” Tanyaku iba..
“Percuma sekolah kak, kalau nanti ujian, tidak bisa ujian karena tidak punya biaya.”

Lalu mereka berjalan dan terus berjalan, tak kenal lelah..
Mencari nafkah, untuk adik-adik mereka yang sulit mereka ingat jumlahnya..
Hujan panas, debu, caci dan maki mewarnai hari mereka..
Sorot mata polos, walau lelah, tak pernah terucap keluh dari bibir mereka..
Kadang mereka bercanda, kadang menyuarakan nada, kadang berhenti sejenak untuk berandai-andai..
Andai punya rumah yang nyaman, dan selimut yang hangat satu malam saja..
Dunia dan waktu seakan tak pernah berpihak pada mereka
Hingar bingar sibuk Jakarta, menenggelamkan impian mereka..
Masih adakah masa depan yang indah untuk mereka?
Kemarin adalah kemarin, dan hari ini, untuk hari ini..
Disaat banyak anak-anak seusia mereka, menikmati manisnya masa kecil..
Anak-anak itu seperti memiliki dunia mereka yang lain..
Tertinggal di belakang.. Mengais sisa-sisa harap yang belum menguap..
Salah siapa bila mereka lahir di keluarga papa?
Salah siapa bila mereka harus tumbuh di jalan, kerap menjadi sasaran manipulasi preman-preman tak berahlak..

Anak-anak polos itu, menjadi keras dan suram diterpa keadaan..
Terseok-seok di jalan, tak pernah rasakan cinta keluarga..
Hidup tak pernah bersahabat dengan mereka..
Ah.. Apa yang bisa kita buat?
Akan selalu ada banyak anak-anak seperti mereka.. Begitu kata-kata yang sering kita dengar..
Korban keegoisan orang tua, dan terjalnya metropolis..
Sebuah renungan untuk kita, apakah kita masih punya hati dan waktu untuk mengingat mereka?

Jakarta, 1 Maret 2010: 19.00 PM
Ditulis dari hati
Oleh : Ric Erica

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

1 Comment to “A Nightfall”

  1. Indra Pratama says:

    ………………………………………….

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store