S H E

 

Aku mengenal dia sejak masa kecil kami. Dia, anak sahabat papa. Keluarga kami mengenal dekat satu sama lain. Bahkan dulu, orang tua kami sepakat untuk menjodohkan kami bila kelak dewasa.

Aku ingat, waktu kecil dulu, aku suka mengganggunya. Menyembunyikan mainannya dan tertawa terbahak-bahak ketika melihatnya cemberut. Dia tidak pernah marah. Hanya cemberut dan memalingkan muka bila terganggu dengan keusilan masa kecilku. Tapi, tak jarang pula, dia membuatku menangis. Entah menarik pilinan rambutku, atau mencoret-coret pipiku dengan spidol aneka warna. Yah, 28 tahun yang lalu, kami menghabiskan banyak waktu bersama, apalagi ketika libur sekolah tiba.

Erwin namanya. Erwin Sinatra. Dan hari ini keluarga kami akan bertemu lagi, setelah 18 tahun mereka pindah ke Amerika. Tepatnya ketika Erwin memutuskan untuk melanjutkan study nya pasca SMA, dan assylum mereka untuk mendapatkan PR disana disetujui. Aku baru saja lulus sekolah menengah pertama waktu itu.
Ketika menginjak remaja, kami sudah mulai malu-malu ketika bertemu, kami kerap mencari dalih sibuk dengan teman-teman dan tugas sekolah. apalagi mengingat bagaimana orang tua kami begitu gigihnya ingin menjodohkan kami.

Selama ini, aku hanya bisa melihat fotonya di Facebook. Kami saling menemukan kembali setahun yang lalu, ketika dia melihatku di foto salah satu sahabat kecil kami. Wajah blasterannya tidak banyak berbeda sejauh aku bisa mengingatnya dulu. Bahkan lebih rupawan kini.

Dan nanti malam, aku, papa dan mama, akan menemui keluarganya di sebuah pesta pernikahan anak sahabat baik mereka.

*************************

“Fe.. Sini.. Masih ingat Erwin kan?” bisik mama menyenggol tanganku.

“Erwin? Erwin anak oom Sinatra ma?” tanyaku dag dig dug.

“Iya.. Itu mereka datang. Makin handsome ya. Nambah bule aja…” Mama berbisik-bisik.

“Deketin Fe, kalian kan dulu dekat sekali waktu kecil.. “desak mama.

Nafasku tercekat. Dia dekat sekali sekarang. Uhh lebih charming daripada foto-fotonya di facebook… Hatiku gemuruh.

“James… Baru datang? Bagaimana kabarnya? Makin awet muda nih, nyonya juga.. ” Papa merangkul oom James Sinatra, dua sahabat karib melepas rindu, lalu menariknya pergi untuk bergabung dengan sahabat-sahabat mereka yang juga baru tiba.

Mama mencium pipi tante Sisy, dan kemudian menarik tanganku.

“Sy, ingat kan sama Fe, yang dulu mau kita jodohkan sama Erwinmu… Gimana… Jadi gak?” Arghhhhh mama mulai lagi deh. Aku tidak bisa menyembunyikan semburat merah muda di pipiku. Pipiku panas.

“Lihat wajahnya merah Yun.. Tambah cantik ya.” Lalu tante Sisy menarik tanganku, mencium pipiku.

“Tante senang melihat kamu lagi Fe.. Sudah punya gandengan belum?” Tante Sisy memelukku erat.Malu sekali rasanya. Aku cuma menggelengkan kepala sambil tersenyum, dan sedikit melirik Erwin yang sedari tadi hanya tersenyum simpul melihatku salah tingkah.

“Hai Fe, apa kabar?” Dalam senyumnya dia menyapaku lembut. Erwin terlihat menawan dengan balutan setelan jas dan celana hitam dengan kemeja abu-abu gelap. Kulitnya putih kemerah-merahan.

Aku tersenyum.”Hai juga. Kapan sampai?” Tanyaku berbasa-basi. Arghhh.. Pertanyaan standard.. Dia pasti tau aku sedang salah tingkah.

Erwin hanya tersenyum, matanya tersenyum. “Kita jalan-jalan di taman yuk.. Tidak baik berada di antara dua pasang orang tua yang getol sekali ingin menjodohkan kita berdua.” katanya menggodaku.

Aku tertawa kecil. Berharap salah tingkahku surut. Lalu kamipun keluar menuju taman. Pesta pernikahan itu bertema garden dengan dekorasi yang disulap menjadi taman Sakura. Bunga-bunga sakura yang cantik memperindah pesta itu.

“Kapan kembali ke Amerika Win? Ada rencana menetap di Jakarta lagi?”

“Aku belum tau Fe, tapi, papa sempat bilang, dia rindu Indonesia dan teman-temannya. Dia rindu papa kamu, dia ingin melanjutkan bisnisnya kembali, yang sempat dikelola oom Irvan, adik papa.”

“Lalu, kamu sendiri disana? Ada rencana pulang ke Indo selama-lamanya?” aku memetik setangkai bunga sakura dan memain-mainkannya di tanganku.

“Aku bekerja di sebuah perusahaan auditor di Seattle. Sudah tahun ke 3. Lingkungannya enak, banyak orang-orang muda yang bersemangat. Aku jadi terbawa. Kangen sama tanah air, tapi semua memang harus dipertimbangkan matang-matang. Kecuali, ada sebuah alasan yang sangat tepat untukku meninggalkan hidupku disana.”

“Misalnya…?” tanyaku ingin tahu.”Misalnya… Hmm.. ” Dia tersenyum misterius.

“Nanti kamu tau sendiri.. ” Menggantung.

“Ya ya.. Selalu dan selalu. Aku harus mencari tau sendiri.. Dari dulu begitu..” kataku pelan.

“Ya semua masih sama, kecuali kamu bertumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Sudah berapa tahun ya kita gak ketemu? Untung ada facebook ya Fe..”katanya mengalihkan pembicaraan. Aku tersenyum kecil.

“Untung ada Melly ya. Untung kalian berfoto sama-sama ya.. Kalau tidak bagaimana aku menemukan mu ya..”

Aku tertawa lagi, lucu mengingat Erwin menegurku pertama kali di Facebook. Memastikan aku adalah sahabat kecilnya dulu.

“Fe, kita masuk ya. Nanti kedua orang tua kita sibuk mencari. Sabtu depan ada waktu?” tanyanya.
Aku ingin sekali menganggukkan kepala. Sayang, gengsiku sangat kuat menahannya.

“Tanya lagi donk…” Begitu harapku dalam hati, namun pertanyaan itu tak datang lagi..

“Ah.. Tidak menjawab berarti sudah ada yang menunggumu.” Begitu dia menarik kesimpulan, entah hanya menggodaku atau tidak.

“Kapan-kapan kita pergi ya. Aku ingin diajak ke tempat-tempat baru di Jakarta, sebelum aku pulang ke Seattle. Boleh?”

“Bangettttt..” Jawabku tentu dalam hati dengan segaris senyum yang tebal.
Erwin mencubit pipiku.

“Tidak menjawab dengan senyum yang manis berarti boleh.. Betulkah?” katanya lagi menggodaku.

Malam itu berlalu sangat singkat. Hatiku berbunga-bunga. Sejak dulu aku memang menyukainya. Sejak kecil malah. Perasaan yang aneh..

**********************

“Fe… Papa mama sama oom James dan tante Sisy mau ke Bandung 2 hari. Kamu mau ikut?” tanya mama hari Senin sore, ketika aku baru pulang kerja.

“Kapan ma? Naik apa?” tanyaku.

“Yah, kalau kamu ikut, Erwin pasti ikut, bawa mobil dua. Supaya papa mama, dan oom tante bisa satu mobil, dan kamu dan Erwin bisa satu mobil. Biar akrab..” Mama tersenyum jahil sekali.

“Ini pasti akal-akalannya mama deh. Mana zaman lagi ma jodoh-jodohan. Udah modern masih aja menempuh cara Siti Nurbaya ma..” Aku meneguk lemon tea hangat kesukaanku.

“Abis kalau menunggu kalian berdua yang mulai, bisa keburu jadian sama orang lain semuanya.. ” Mama mengamati air muka ku, yang kurasakan agak berubah sedikit demi sedikit. Arghh apa yang bisa kusembunyikan dari mama?

“Mama dan tante Sisy sangat berharap, kalian bisa meneruskan pertalian keluarga yang demikian eratnya menjadi lebih lagi Fe. Apalagi Erwin baik, terpelajar, dan sepertinya dia juga menyukaimu” Nah kan.. Dukun wanna be sekarang..

“Mau ya ikut ke Bandung. Kita bakal tinggal di Lembang, di villa nya oom James, dan biar tante Sissy yang mengurus Erwin. Jujurlah Fe.. kamu juga suka Erwin kan?”

Aku hampir tersedak. Selalu mati gaya di depan mama. Ide ke Bandung dan Lembang tentu menyenangkan. Tapi bersama dua pihak orang tua yang aktif sekali ini, agak mengkhawatirkan juga. Aku berfikir sambil memegang cangkir tehku erat-erat.

“Oh ya Fe, tadi siang mama kasih no hp kamu ke tante Sisy lho.. Buat Erwin katanya..” Aku membelakangi mama karena tak ingin mama membaca perubahan wajahku, namun aku tau, mama sedang tersenyum lebar sekarang.

**********************

“Papa mama kita kekeh ingin menjodohkan kita, Fe. Bagaimana menurutmu?” Erwin bertanya ketika kami berdua satu mobil dari Jakarta ke Bandung.

“Entahlah.” kataku gugup. Aku tidak siap dengan pertanyaan itu.

“Kamu tidak menanyakan bagaimana menurutku?” tanya Erwin hati-hati, sambil mengecilkan suara musik, SHE, soundtrack Notting Hill, lagu kesukaanku.

Aku berfikir beberapa detik, takut mendapatkan jawaban yang hanya akan membuat week end kami menjadi tak karuan.

“Aku takut menanyakan itu Win. Juga takut mendengarkan jawabannya.” kataku.

“Tapi, kita harus punya sikap Fe. Tiga hari dua malam di Lembang yang sejuk, bersama orang tua kita yang berharap lebih kepada kita.Apa yang mesti kita lakukan?” jawab Erwin pelan-pelan. Aku yakin, Erwin cukup matang untuk itu. Aku percaya padanya.

“Win, kamu tau, aku paling sulit membicarakan perasaanku. Kita bersahabat dari kecil. Aku rasa, kamu sangat paham itu.”

“Oke, biar aku yang terbuka duluan ya. Kamu sudah kuanggap adik perempuan kecilku. Keluarga kita sangat dekat. Aku tidak mau memberikan harapan yang berlebih, yang nantinya akan berakhir kekecewaan.” katanya pelan, namun menusuk ulu hatiku. Ngilu. Aku hanya diam, mendengarkan, sambil berusaha menutupi gelisahku.

“Aku tidak menyukai perjodohan ini Fe..” Lanjutnya lagi. “Kamu mau diatur-atur seperti ini?”
Ulu hatiku semakin nyeri, namun melegakan.Aku tercekat. Masih belum bisa berkata-kata.

“Akupun juga sudah menganggapmu saudara Win. Aku tidak mengerti mengapa mereka ingin kita menikah.”

Erwin tersenyum, meraih tanganku.”Fe.. Ingat waktu kita kecil dulu? Kita pernah menjadi pengapit pengantin tante Vena, adik mamaku.. Semua orang melihat kita dan berbisik-bisik. Kamu dengan dress putih lucu, begitu menariknya, sementara aku hanya mengikutimu dari belakang. Kadang-kadang kamu menggangguku, dan rasanya semua orang tersenyum melihat kita.”Yah, aku ingat.

“Kenangan itu yang paling aku ingat tentang kamu Fe. Bahkan, ketika aku menemukan kamu kembali, sering aku berfikir, Fe kecil ada dimana? Fe kecil sedang apa..”

Erwin menggenggam jariku. “Saat-saat seperti inilah yang selalu aku tunggu Fe. Berdua denganmu, secara dewasa, bicara dari hati ke hati tentang perasaan kita dan harapan mereka.”

Aku menjadi tidak mengerti, namun aku berusaha tersenyum untuk menutupi canggungku.

“Sebaiknya kita tolak perjodohan itu.. Kita berdua harus satu suara, bilang pada mereka, bahwa kita tidak menyukai perjodohan ini.”Aku menganggukkan kepala.

“Karena aku ingin sesuatu yang natural. Cinta lahir bukan karena perjodohan, tapi lahir karena kita berdua menginginkannya.” kata-kata Erwin yang terakhir menyihirku.

“Maksudmu?” Aku bertanya hampir tak bersuara. Lirih.

“Maukah kamu mencoba, menjalani 3 minggu ke depan dengan aku, menjajaki apakah kita punya perasaan yang sama?”

“Setelah itu?” tanyaku.

“Tidak penting setelah itu. Karena kelak, semuanya tergantung kepada bagaimana kita menjalani 3 minggu pendekatan kita. Aku sayang padamu Fe..” Jarinya semakin erat menggenggam jariku. Lagu SHE diputarnya berulang-ulang, semakin menambah rasa hati.

“Kamu belum menjawab..”

Aku menganggukkan kepala. Entah apa yang akan terjadi. Namun aku rasa, Erwin tau persis apa yang kurasakan tentangnya.Telfonku berbunyi,

“Fe.. Bilang sama Erwin, kita berhenti di restoran depan, 1 km dari sini. Ada rumah makan Sunda enak sebentar lagi.” suara mama di seberang sana.

**********************

Mama dan papa terlihat kecewa dengan sikap kami. Terlebih tante Sissy. Kami memang tidak mengatakannya ketika kami berada di Lembang weekend itu, namun kami memilih mengatakannya secara terpisah. Aku bicara pada mama, dan Erwin membicarakannya dengan tante Sissy tak lama kemudian.Papa lebih terlihat bijaksana,

“yah ma, gimana anak-anak saja.. Mereka berdua yang menjalani. Mungkin Erwin dan Fe sudah memiliki calon yang lebih baik. Masa mau kita paksa terus..”

Aku sempat mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu. Dan sejak itu, mereka tidak pernah membicarakannya lagi.

Sementara, aku sendiri masih menjalani pendekatan-pendekatan rahasia dengan Erwin. Hampir setiap hari kami menyempatkan bertemu, tanpa setahu mama dan tante Sissy tentunya. Erwin ingin, selama masa 3 minggu dia di Jakarta, kami bisa saling mengenal dengan lebih baik. Tidak ada pembicaraan lagi tentang apa dan bagaimana kami. Aku dan Erwin hanya menjalaninya dengan santai. Ada kalanya kami bermain bowling berdua, nonton film-film kesukaan di bioskop, makan dimsum sebanyak-banyaknya di senayan, atau hanya sekedar menikmati sunset di pantai.Tapi yang aku tau, banyak tulisan-tulisanku tentang dia. Tentang bagaimana rasaku padanya. Aku mungkin tak pandai berkata-kata secara verbal, namun ya, aku menyimpan rasa yang berbeda untuknya.

***************************

11 bulan kemudian…

She may be the face I can’t forget
The trace of pleasure or regret
May be my treasure or the price
I have to pay
She may be the song the summer sings
May be the chill the autumn brings
May be a hundred different things
Within the measure of the day.
She may be the beauty or the beast
May be the famine or the feast
May turn each day into a heaven or a hell
She may be the mirror of my dream
The smile reflected in a stream
She may not be what she may seem
Inside her shel
lShe, who always seems so happy in a crowd
Whose eyes can be so private a
nd so proud
No one’s allowed to see them when they cry

Lagu itu menggema di ruangan ini. Semua tersenyum dan melihat kami. Mama dan tante Sissy tersenyum paling bahagia malam ini.Warna merah hati, emas dan ribuan bunga tulip yang cantik membingkainya..

Aku melangkah pelan, di sisinya, dia sangat rupawan malam ini.

Dulu, aku dan dia pernah berjalan berdua seperti ini..Aku dengan gaun putih mungilku..Dan dia dengan setelan jas hitam kecilnya..

“Ingat kata-kataku waktu kau bertanya, mungkinkah aku kembali ke Indonesia?” bisiknya..

“Ya, aku ingat. Dan jawabmu waktu itu, “Aku kelak akan tau sendiri. Dan aku harus mencari tau sendiri.. Karena dari dulu selalu begitu..” kataku pelan.

Dia tersenyum indah dan menatapku lekat-lekat.. Lesung pipinya melukis indah. Aku tersenyum, mungkin senyum termanis yang pernah aku punya.

Lagu SHE masih lembut mengalun, mengiringi our very first step..Disaksikan banyak pasang mata yang berbahagia untuk kami dan semoga bahagia ini abadi.

She may be the reason I survive
The why and wherefore I’m alive
The one I’ll care for through the rough and years
Me, I’ll take her laughter and her tears
And make them all my souvegnirs
For where she goes, I’ve got to be
The meaning of my life is… SHE

Ditulis oleh : Ric Erica
Jakarta, 24 September 2010 : 05.00AM
Sebuah pagi yang memberi inspirasi.. Menutup September yang basah..

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store