Bias Pelangi di Matanya

 

“Wi, izinkan aku menikahi Anti. Hanya untuk memiliki keturunan, Wi. Setelah itu, aku akan ceraikan dia.” Langit serasa runtuh menimpa kepalaku, waktu Andra suamiku, pulang dari rumah ibunya dengan wajah kusut dan mengutarakan niatnya.

Anti adalah anak sahabat karib mertuaku, anak seorang pengusaha kaya raya di Surabaya. Mereka bersahabat sejak kecil bahkan pernah hampir menikah karena perjodohan, hanya saja Andra lebih memilih mempertahankan cintanya untukku.

Dan sekarang, aku harus menelan kenyataan, bahwa hanya karena aku tidak mampu memiliki anak dari rahimku sendiri, aku harus merelakan Andra menjadi milik perempuan itu.

Aku hanya diam memandang suamiku dengan tatapan tak berdaya, “Andra, kita sudah menikah 7 tahun lamanya, apa yang baik untukmu, tentu baik untukku juga. Namun, berbagi cinta dengan wanita lain? Aku rasa aku tak mungkin sanggup.”

“Dewi.. Jangan mempersulit keadaan. Mengapa tidak kau izinkan saja aku menikahinya, mendapat anak, lalu aku ceraikan dia dan selesai. Tidak akan ada cinta di antara kami, percayalah..” Emosi Andra sudah mulai terpancing. Bukan hari yang baik untuknya dan aku.

“Apa maksudmu? Menikahi Anti, memperoleh anak, lalu setelah anak itu lahir, kita ambil, dan semua akan baik-baik saja? Perempuan mana Andra yang rela mengingkari anaknya sendiri? Tidak akan ada cinta? Aku tidak percaya itu. Ingat, Anti itu anak teman baik mama. Dan keluarganya kaya raya? Siapa yang mau anaknya dipermainkan seperti itu?”

“Kalau begitu.. Beri aku anak Dewi! Laki-laki!” Begitu bentaknya. Dan aku hanya menangis. Pahit sekali.

Andra membeku, menolehku pun tidak, hanya berlalu sambil menghela nafas panjang. Tapi aku kenal sekali Andra, dia akan memikirkannya ketika dia sudah tenang nanti.

Bukan tanpa alasan mertuaku mendesak Andra menikah lagi. Tahun ini pernikahan kami menginjak 7 tahun, Andra adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga besar kami, dan setelah mengalami beberapa kali keguguran, dokter melarangku untuk hamil lagi.

Selain itu, memang aku satu-satunya menantu yang kurang disukai. Aku bukan dari keluarga orang berada, papaku hanya seorang karyawan swasta dan mamaku hanya ibu rumah tangga biasa. Aku memiliki 2 orang adik, dan semua telah menikah, memiliki anak dan tinggal di luar kota.

Aku beruntung, mempunyai suami sebaik Andra. Selama 7 tahun menikah, pernikahan kami baik-baik saja. Andra begitu sabar dan pengertian. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Andra dipercaya untuk mengelola bisnis keluarga. Hidup kami mendekati sempurna, bila saja aku bisa mempersembahkan anak untuk keluarga kami.

“Ini Jakarta Dewi. Jakarta. Semua mungkin terjadi selagi punya uang.. Ingat itu Wi..” kata-kata terakhir Andra menghujam ulu hatiku sebelum pintu kamar kami dibantingnya dengan keras. Tidak pernah dia marah sekasar itu. Aku memilih diam, masuk ke kamar, dan menulis. Sudah kebiasaanku, bila hati gelisah, aku mengalihkannya dengan menulis. Bicara tidak akan menyelesaikan masalah. Aku akan membiarkan Andra dengan marahnya. Andra perlu waktu untuk sendiri. Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil dinyalakan dan pintu gerbang dibuka. Dia pergi.

*****************************************

Jam sudah menunjukkan pukul 1.30 dini hari, dan aku tidak bisa memejamkan mata, aku memikirkan Andra yang belum pulang juga, dan kata-katanya yang membuatku terpukul. Semalaman aku menangis. Melepaskan semua ketidakbahagiaanku. Bagaimana mungkin aku mengizinkannya menikahi perempuan lain? Bagaimana mungkin pernikahan mereka tidak akan melibatkan cinta? Ketika seorang anak lahir dalam suatu pernikahan, semua akan berubah. Andra pun mungkin berubah. Dan aku? Aku hanyalah seorang istri yang mungkin kelak akan hidup dalam penyesalan seumur hidup.

Otakku tidak berhenti berfikir, rasa sedih makin menjadi, setelah beberapa kali aku mencoba menghubungi Andra, namun ponselnya mati. Oh Tuhan, apa yang harus aku perbuat?

Dan hari-hari berikutnya Andra tidak pulang juga. HP nya selalu mati setiap kali aku coba menghubungi. Aku memutuskan untuk menghubungi mama mertuaku, menceritakan perselisihan kami, namun ternyata bukanlah keputusan yang tepat, hatiku makin luka ketika mama berkata keras, “Coba kamu mau mengalah Wi, Andra dan mama sudah menunggu lama. Tujuh tahun Wi. Mama ingin secepatnya punya cucu dari Andra.” hatiku makin pedih.

Aku hanya bisa menangis. Menyesali diri. Mengapa aku tidak bisa memberikan anak untuk Andra? Padahal di luar sana, ada banyak perempuan yang mempunyai banyak anak dengan mudahnya. Aku mulai mengeluh dan mengasihani diri. Mengapa Tuhan tidak adil padaku.

Di hari ke 5, di siang hari yang sepi, tiba-tiba aku mendapatkan telfon dari seseorang yang tidak pernah aku harapkan.

“Dewi, ini aku Anti. Boleh kita ketemu, bicara dari hati ke hati?” Setengah hatiku enggan. Namun, akhirnya aku mengiyakan. Satu jam kemudian, aku dan Anti terlibat dalam pembicaraan yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

 

“Wi, yakinlah.. Aku tidak akan pernah mau merampas Andra dari kamu. Itu hanya ide gila mama dan tante Vonny. Mohon kamu tidak salah sangka. Aku tidak akan mau menikah dengan suami orang, merampas kebahagiaan orang. Menari-nari di atas penderitaan orang lain, adalah kebodohan yang tidak bisa dimaafkan. Aku juga perempuan Wi. Aku tidak menemukan alasan yang tepat, untuk menikahi Andra apalagi, hanya demi memberinya keturunan. Aku tidak gila Wi.”

Aku tidak bisa berkata-kata, hanya mampu mendengarkan dan berharap dalam diam.

” Tahun depan aku akan menikah dengan Daniel, sahabat Andra juga. Kami sudah menjalin hubungan selama 3 tahun. Aku tidak mau rencana kami gagal total hanya untuk menyenangkan mama dan tante Vonny. Andra sekarang bersama Daniel, mereka ada di Bali sekarang. Kamu tenang saja. Jangan membuat action apa-apa. Andra sudah tenang sekarang, dia bicara banyak dengan Daniel tentang kegundahannya. Besok Andra pulang. Semua akan baik-baik Wi.” demikian sambung Anti, memberiku harapan.

Aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Hatiku tenang seketika. Aku mengucap syukur, sosok Anti yang belum pernah aku kenal, hanya sering mendengar namanya disebut-sebut, ternyata adalah sosok yang dewasa dan matang. Ada harapan baru untukku. Besok Andra pulang ke rumah, dan aku akan menyambutnya dengan baik, seperti tidak ada kejadian apapun diantara kami.

*****************************************

Keesokan sorenya, Andra pulang ke rumah, wajahnya lelah, terlihat dia menyesal sekali. Diusapnya rambutku lembut, sementara aku bergumul dengan perasaanku sendiri, mencoba bersikap setenang dan sebiasa mungkin. Andra memelukku, dan dengan lembut dia berkata,

“Maafkan aku ya Wi. aku telah pergi meninggalkanmu dalam keadaan yang tidak baik. Pasti kamu khawatir ya Wi. Mestinya aku tidak boleh bersikap kasar begitu. Aku menyesal Wi.”

“Aku mengerti, Andra. Kejadian kemarin memang tidak mudah. Aku juga minta maaf ya, tidak memikirkan baik-baik apa yang aku katakan. Aku lega kamu pulang. Rumah ini sepi. Aku takut ada apa-apa sama kamu.”

“Besok kita ke dokter ya Wi. Kita akan berusaha yang terbaik, supaya kita bisa punya anak. Mau ya Wii?” aku kaget. Selama ini, Andra tidak pernah mau menemaniku ke dokter untuk konsultasi atau apapun.

Air mataku berlinang, “Lalu seandainya upaya dokter tidak berhasil juga, dan kita tidak akan pernah punya anak, apa yang harus aku lakukan? Apa kamu akan tetap menikah lagi?” Aku terbata-bata.

“Kita akan membeli 2 ekor anjing yang lucu supaya kamu tidak kesepian. Lagipula kita punya keponakan yang banyak, kita bisa mengundang mereka untuk menginap setiap akhir pekan, sehingga rumah kita tidak akan pernah sepi. Kamu bisa bermain piano, menulis, dan aku bisa mendengarkan musik atau membeli beberapa keping DVD film-film yang kita sukai. Atau kita bisa pergi setiap akhir pekan ke pulau, kamu senang pantai kan..”

Andra bicara dengan semangat. Dan akupun terbawa dengan rencana-rencananya.

“Kebahagiaan kita jauh lebih berarti. Yang penting, kita berusaha dulu. Pelan-pelan mama akan aku beri pengertian. Kalau kita bisa bertahan selama 7 tahun dengan setiap masalah yang datang, apalagi sekarang. Kamu mau ya besok kita ke dokter berdua? Aku akan minta sekretaris kantor untuk membuatkan appointment dengan dr. Freddie.”

Aku menganggukkan kepala. Tak pernah lebih tenang dari sekarang. Terima kasih Tuhan, kau kembalikan suamiku dan keceriaan itu dalam rumah ini. Aku tak berhenti mengucap syukur. Dadaku bergemuruh karenanya.

“Andra.. Kita makan ya, aku akan membuatkan salad kesukaanmu, steak dan pudding mangga.”

Andra mengecup keningku, “Aku yakin, tidak ada yang lebih mengerti aku selain kamu. Kamu tidak akan pernah tergantikan. Kita akan baik-baik saja melewati ini semua ya Wi.”

*************************

Satu tahun kemudian..

“Selamat pak, anak bapak kembar, laki-laki dan perempuan. Sehat Normal. Ibunya sudah bisa ditengok pak. Baik ibu dan bayi, semua sehat.” Demikian suara suster menghentikan lamunan Andra.

Andra sudah tidak sabar untuk menemui Dewi. Dikecup kening istrinya, “Terima kasih ya Wi. Buah kesabaran dan cinta kita adalah sepasang anak kembar yang manis. Sekarang, kamu ada temannya, dan rumah kita akan semarak dengan kehadiran anak kita”

Dewi tersenyum bahagia. Lelah dan sakitnya hilang seketika. Ditatapnya kedua bayi mereka dengan rasa haru tak tertahankan. Tuhan ajaib. Menjawab semua doa tepat pada waktunya.

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Dewi, daripada telah mempersembahkan keturunan untuk suaminya. Matanya basah, perasaan haru menghinggapi. Disentuhnya wajah Andra dengan perasaan bangga. Binar-binar bahagia terpancar dari wajahnya, dan ada bias pelangi di sudut matanya.

Ditulis dari hati oleh : Ric Erica
Jakarta, 13 April 2010 : 17.05PM
Dipersembahkan untuk sahabat-sahabat yang selalu setia membaca tulisanku.

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store