60 Menit

Hujan di bulan November, selalu mempunyai harapan tersendiri buatku. Aku sangat senang mencium bau tanah yang menyertai hujan. Udara yang sejuk, membuatku betah berlama-lama duduk di balkon sambil menulis. Menulis apa saja yang ada dalam benakku. Dan memanjakan fikiranku bebas berkelana kemana saja ia mau.

Dalam hitungan hari, Bulan Desember akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Berlibur di akhir tahun, pulang ke kota kelahiran, bertemu sahabat dan saudara melepaskan rindu, mungkin menjadi agenda rutin sebagian orang.

Aku sendiri sudah tidak sabar lagi menyambut Christmas. Christmas yang selalu berbeda setiap tahunnya. Dimana biasanya, kami sekeluarga tidak pernah merayakannya di Jakarta. Tahun demi tahun terlewati dengan berlibur ke suatu tempat, menikmati atmosfir Natal di tempat-tempat yang berbeda.

Salah satu cerita Natal yang paling berkesan dan selalu aku ingat, adalah ketika aku berkesempatan untuk berkunjung ke Cairo / Mesir, 2 tahun yang lalu. Begitu berkesannya pengalamanku, sehingga aku tidak pernah melupakan kisahku ini.

Dan aku ingin membaginya kepada teman-teman yang tidak sabar menanti Natal. Hanya sebuah tulisan sederhana yang aku buat di Cairo, di sebuah malam menjelang pergantian tahun 2007 – 2008, dimana begitu berkesannya pengalamanku, sehingga aku tidak bisa menunggunya hingga pulang ke tanah air.

Semoga tulisan ini boleh mewarnai saat-saat kalian menyambut Natal.

Egypt, 31 December 2007 : 22.30 PM

Sore ini aku dan teman-teman satu grup mengadakan perjalanan untuk melihat gereja yang dibangun di kawasan pembuangan sampah. Awalnya enggan, karena pasti bau, kumuh, kotor, capek, sedangkan nanti malam ada New Year Party di atas cruise menyusur sepanjang sungai Niel. Makin males saja. Apa gak ada tempat yg lebih baik, gumamku.. Tapi, atas dukungan suamiku, dan aku juga orang yg selalu ingin mencoba pengalaman baru, akhirnya jadi juga aku berkunjung di kawasan sampah itu.

Rutenya dibuat sedemikian rupa oleh Tour Leader kami, dimana aku dan temen-temen lain harus berjalan kaki, benar-benar masuk ke perkampungan, sebelum sampai ke gereja tersebut. Padahal setelah sampai, kami banyak melihat mobil-mobil yang bagus masuk dari jalan yang lain.

Bau tidak sedap langsung menusuk hidung, aku dibuat terbatuk-batuk dan hampir muntah karenanya, rasa jijik menyergap, bau asap pembakaran sampah, bercampur dg udara dingin winter saat itu ditambah dengan pemandangan darah yang berceceran di tanah, dari hewan-hewan piaraan yang mati terlindas mobil. Namun semakin jauh aku masuk ke perkampungan sampah tersebut, rasa simpati dan rasa takjub datang silih berganti.

Bagaimana hidup dengan hanya bergantung pada mata pencaharian mengolah sampah, bagaimana beberapa keluarga hidup dalam satu tempat (yang jauh dari layak untuk disebut rumah) dengan kambing, babi, keledai, kucing secara bersama-sama. Tempat itu benar-benar sangat menyedihkan. Tetapi orang-orang yang tinggal disitu sepertinya tak perduli.. anak-anak tetap bermain dengan sukacita, orang-orang yang selalu tersenyum dan melambai tangan kepada kami sambil berkata “Syallom…” Havennu syalom.. aleikhem.. havennu shalom .. aleikhem.. hanya itu yang kusenandungkan dalam hati.

Selama 15 menit berjalan kaki, dengan perasaan yang bercampur aduk, aku melihat hal-hal yang kufikir sedikit banyak merubah sikap hatiku. Kusingkirkan rasa jijik, takut, dan lelah, setelah melihat anak-anak Mesir tersenyum dengan lugu dan tulusnya, melambaikan tangan untuk kami, dengan baju yg sangat sederhana utk musim winter bersuhu 9 derajat.

Mataku terhenti pada satu orang anak laki-laki Mesir, umurnya sekitar 4 tahun, yang sedang sibuk mengaduk-aduk sampah dan menemukan sepotong roti dan jeruk disana. Dan ketika ia hendak
memakannya, aku berseru “Hai, may I have your pictures? Give your best smile for me Ockay.. “ dan tidak lewat 2 detik, jeruk dan roti yang ditemukan dibuangnya lagi ke tumpukan sampah dan dg senyum yang manis, wajahnya terekam oleh kameraku.

Lalu, aku pun berlalu, tidak ada yang dapat aku lakukan, karena aku tak dapat memberikan makanan yang lebih baik saat itu, dan tour leaderpun sudah berpesan untuk tidak memberi mereka uang demi mencegah kami dikerumuni pengemis disana.

Sepanjang perjalanan, aku menangkap banyak senyum dan wajah cerah yang menyambut kami. Perkampungan itu sangat kumuh, Tetapi semua orang bersukacita menyambut Christmas (bagi umat Ortodoks Mesir, mereka merayakan natal setiap tanggal 7 Januari).

,;

Rumah-rumah mereka dihiasi lampu-lampu natal sederhana, di tembok-tembok tertulis “Jesus loves Us” dan atmosfir natal sangat kental dari musik-musik Arabic yang sayup-sayup terdengar dari tempat itu.

Tiba di gereja itu, ada rasa kagum dan haru, begitu indah gereja itu dibangun, dengan altar yang ada di dalam gua, dan kekagumanku semakin bertambah begitu ada pengurus yang berasal dari kawasan sampah tersebut bersaksi betapa banyak mukjizat yang terjadi di gereja itu. Dari orang lumpuh yang bisa berjalan, dan lebih takjub lagi ternyata mayoritas penduduk di kawasan sampah yang tadi aku lalui adalah jemaat di gereja itu. Aku sangat takjub bahwa gereja indah itu dibangun untuk melayani kaum yang tersisih, kaum yang luput dari perhatian dan perduli pemerintah Mesir.


Aku bertemu dengan seorang Bapak setengah tua, penduduk asli Mesir, yang hidup sehari-harinya menjadi pemulung sampah. Bapak pemulung itu tinggal di kawasan yang kami lalui sebelum ke gereja tersebut. Aku merasa diberkati sekali oleh cerita Beliau. Bagaimana perjalanan beliau hingga bisa sampai dan tinggal di tempat itu, dan bagaimana banyak orang yang mulai percaya bahwa Sang Juru Slamat yang kita sembah itu nyata bagi semua orang.

Selesai berdoa dan mengambil foto di tempat itu, aku pun berjalan pulang menuju bus yang parkir di ujung gang, aku pulang sambil menundukkan kepala. Sepanjang perjalanan menuju hotel, aku hanya diam, berfikir dan merenung. Tuhan sungguh dasyat, walau terkadang sulit dimengerti. Siapalah aku ini Tuhan, yang mudah sekali mengeluh jika mendapat kesulitan, mudah mengumpat dalam hati bila susah sedikit. Sedangkan mereka…. Meski hidup dalam serba keterbatasan, tetapi mereka tetap tidak kehilangan sukacita dalam menyambut Christmas yang datang beberapa hari lagi.

Perjalanan sore ini sangat berkesan untukku. Suami dan teman-teman yang lain boleh berkomentar, di Indonesia juga banyak tempat-tempat kumuh, Rika. Kamu saja yang tidak pernah kesana. Tapi, mungkin baru di Cairo, dimana ada sebuah gereja indah dibangun di atas kawasan sampah, yang menampung dan melayani dg hati orang-orang miskin dan terbuang seperti mereka. Mungkin baru di Cairo, dimana mayoritas penduduk di kawasan sampah, datang menyembah dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Ditulis dengan hati oleh Ric Erica

Pesan yang aku ingin sampaikan, Bagaimanapun keadaan kita, susah atau senang, berkecukupan atau terbatas, janganlah mengurangi sukacita kita menyambut Natal. Bersukacitalah.. Bahkan lebih bersukacitalah..

 

 

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store