Opening Phrase

Kok bertiga saja? Anaknya cuma satu? Kok?
Eh berdua aja.. Mana dedeknya? Cuma satu?
Kenapa cuma satu? Gak kepingin lagi emang?
Kenapa hanya satu? Kamu masih muda dan sehat loh. Tambahlah satu lagi. Perempuan.
Kenapa gak nambah? Kasihan kan anaknya nanti kesepian.
Kenapa gak punya satu lagi? Siapa yang nanti merawat kamu nanti?
Kenapa hanya satu? Tambah donk perempuan. Biar lengkap.
Kok hanya satu sih? Kedikitan… Idealnya mah punya dua ya.
Kok hanya satu? Emang sudah gak bisa punya lagi?
Kenapa cuma satu? Egois amat.
Kenapa satu? Kenapa gak dua, atau tiga? Biar rumahnya rame.
Sengaja memang cuma punya satu? Kenapa?

Opening phrase seperti itu bukan pertanyaan aneh buat perempuan seperti saya yang memutuskan untuk hanya punya satu anak.

Pertanyaan yang bisa kamu dapati, dari teman lama, kenalan lama, kenalan baru, kerabat dekat, kerabat jauh, entah itu di gereja, di tempat gym, di mall, di restoran, di resepsi, dimanapun, kapanpun, bahkan oleh orang-orang baru sepintas ketika sama-sama menunggu di tempat praktek dokter misalnya.

Opening phrase yang bisa saja dijawab dengan ringan, dengan senyum, dengan cerdas, dengan emosional, dengan lebay (berkepanjangan dan komplit, lengkap dengan penjelasan-penjelasan medis hahahahha yang bikin penanya nya ngantuk dan pengen kabur tentu saja), atau hanya dijawab dengan wajah datar, bibir mengerucut pertanda yang yang ditanya bete.

Opening phrase yang datang ketika mereka tidak punya pertanyaan lain yang lebih baik untuk memulai percakapan.

Opening phrase yang sulit dijawab tapi gak mudah juga untuk pura-pura gak dengar, apalagi kita sudah biasa ‘eye contact’ dengan lawan bicara kita.

Opening phrase yang seolah jadi pertanyaan baku, untuk membuka percakapan agar suasana menjadi cair.

Padahal kalau mau rempong nih, kebanyakan :

Yang bertanya hanya basa-basi doang.
Yang bertanya juga belum tentu serius nanya nya.
Yang bertanya sendiri, malah belum pernah menikah, meski usianya sudah cukup matang untuk punya anak.
Yang bertanya sendiri, sudah lama menikah, baru punya anak justru ketika ia sudah tak muda lagi.
Yang bertanya sendiri, selalu punya masalah dengan rumah tangga, anak-anak dan pembantu.
Yang bertanya sendiri, selalu muram, jarang senyum, wajahnya ruwet dan gak pernah enak dilihat. Gak tahu kenapa, gak penting juga nanya.
Yang bertanya sendiri, punya anak banyak dan depresi sama hidupnya.
Yang bertanya sendiri gak pernah menduga jika dampak dari pertanyaannya itu bisa menyebabkan seseorang pulang dengan sedih, dan mengurung diri di kamar seharian karena pertanyaan itu sensitif untuknya.

Nah, jika mereka ringan saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, kenapa juga kita harus serius memutar otak untuk menjawab? Jawab saja klise :

“Ini sudah kehendak Tuhan.”
atau “Ini sudah jalan Nya”
atau “Tuhan sudah punya rencana”
atau “Semua kembali ke pribadi masing-masing”
atau “Pengalaman pribadi yaaaa”
seperti comment-comment dimari itu ituuuuuuuuu..

atau, beri saja mereka senyum misterius dan biarkan mereka sibuk dengan fikiran mereka sendiri.

Atau sekalian saja langsung jawav dalam bahasa korea yang kalian hafalin siang malam itu.. aneyo seyong ndeee desyang desying amsyong biar puyeng dia.

Saya malah sering berjumpa dengan teman-teman yang punya alasan yang hebat, ketika mereka berbagi betapa melelahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan rempong seperti itu.

“Saya menikah di usia yang cukup, punya anak satu dan kami merasa itu baik. Ia berlimpahan kasih sayang darimana-mana. Ia cukup perhatian. Kebutuhan emosi dan fisiknya terpenuhi dengan baik. Ia sekolah di tempat yang bagus. Kami menikmati hidup, dan kami bertiga bahagia. Jadi letak masalah nya dimana?”

“Kami memutuskan hanya punya satu anak, yang akan kami besarkan dengan baik dan bertanggung jawab. Dan masa depannya akan kami siapkan cemerlang.”

“Hidup makin sulit, orang-orang makin kejam, dunia makin jahat. Rasanya kami gak sanggup, melahirkan anak-anak dan membesarkan mereka dengan ketakutan, kekhawatiran, dan menyaksikan ia tumbuh tidak maksimal. Sekolah, kesehatan, keamanan dan hidup nyaman itu mahal sekali.”

Sesungguhnya mereka hebat!! Mengambil keputusan hanya memiliki satu anak dengan perencanaan yang matang dan bertanggung jawab.

Tidak seperti orang kebanyakan yang punya anak lebih, dengan bangganya bercerita, “iya nih kecolongan”.

Tidak seperti pasangan lain yang beralasan “Sudah minum pil ini itu, minum jamu, eh kuat sekali anak itu, jadi ya punya tiga deh…”

Atau mereka yang punya anak lebih karena merasa harus membahagiakan mertua yang ingin anak laki-laki / perempuan.

Tidak seperti pasangan lain yang merasa harus punya anak dua, tiga, lalu kebat kebit memikirkan biaya dan masa depan anak-anak mereka.

Jadi sekarang tercerahkan kan?

Untuk teman-teman yang sering gak sadar ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan ala detektif semacam itu, sekarang mari membiasakan diri untuk berkomunikasi dengan opening phrase yang lebih segar, atau percakapan-percakapan lucu yang lebih menyenangkan.

Salam,
Ric Erica
Jakarta, 8 Juni 2015 : 10.32

1 Comment to “Opening Phrase”

  1. Hendra S. says:

    Tiap orang mempunyai perasaan “happy” belum tentu sama. Selama kita merasa “happy” dengan keadaan ini. Nikmatilah.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store