Nasib Anak Kos

Lagi seru-serunya ngobrol-ngobrol di Blackberry Messenger dengan beberapa teman lama, tiba-tiba kami bernostalgia membicarakan masa-masa tinggal di kos-kos an zaman kuliah, awal tahun 1990an.

Sudah bukan cerita asing, kalau tinggal di kos-kos an, adalah salah satu pilihan bagi kami-kami yang baru saja datang dari daerah untuk menetap dan melanjutkan pendidikan kuliah di Jakarta atau kota besar lainnya.

Ketika datang, masih dengan keluguan, hari pertama dan kedua, biasanya ditemani oleh oom-tante atau saudara mencari sekolah, dan setelah itu berkeliling mencari kos-kos an dekat dengan kampus. Menelusuri jalan menuju jalan raya, tempat makan sampai mini market terdekat. Aku masih ingat dengan perasaan-perasaan yang muncul saat itu. Antara ingin tahu, rikuh, semangat dan juga ragu.

Sepanjang kuliah dan bekerja, aku baru dua kali mengalami tinggal di kos-kos an. Pertama kali aku kos di dekat kampus Tarakanita, di daerah Pondok Kelapa Jakarta Timur, dan yang kedua, di daerah Slipi ketika mendapat pekerjaan di Jl. Letjend S. Parman Slipi.

Tinggal di dua tempat kos yang berbeda, dengan lingkungan, teman-teman, dan kebiasaan yang bertolak belakang, adalah pengalaman tersendiri buatku yang tidak bisa aku lupakan. Bahkan di awal-awal adaptasi, aku sempat merasa lonely dan tidak betah. Namun, setelah melalui masa-masa adaptasi yang cukup cepat, semuanya terbungkus dengan manis, lucu dan berkesan untuk dikenang. Ah rasanya waktu cepat sekali berlalu, masih lekat di ingatan baru saja lulus SMA, pindah ke Jakarta, eh sekarang, sudah seperti sekarang. Sayang ya, kalau hanya diingat tidak dituliskan. Secara zaman dulu, foto-foto mungkin gak banyak, dan media tulisan lah yang aku fikir sangat tepat saat ini untuk mendokumentasikannya.

Ketika zaman kuliah, aku tinggal bersama 10 gadis-gadis lucu berusia belasan tahun, dengan berisik dan ributnya gak ketulungan. Tinggal di sebuah rumah berlantai dua, satu halaman namun pisah rumah dengan ibu/bapak kos, keluarga yang ramah bangetttttttttttttttttt dengan 4 anak remaja-dewasa, dan 2 ekor anjing yang genit. Astagaaaaa… *mengelus-ngelus dada makan hati.

Tinggal ber sepuluh dengan gadis-gadis manis yang berisik, cerewet dan aktif itu, tentulah seru dan berwarna. Pagi-pagi nge take kamar mandi, secara kamar mandi yang disediakan hanya 1 untuk 10 orang. Cakeppppp… Jadi, acara pagi tentulah diisi dengan ribut-ribut rebutan kamar mandi, hingar bingar ketok-ketok kamar mandi, kalau ada teman yang lupa kalau yang antri mandi ada 7 orang lagi, karena kami semua masuk kuliah di jam yang bersamaan. Bangunnya juga bersamaan, dan leletnya juga samaaa. Problem banget deh… Hihihi.. Kalau ingat zaman itu, pasti Yuyun, teman sekamarku akan bersaksi dengan lancar dan fasih mengenai bagaimana rasanya berbagi suka duka di tempat kos itu.

Ketika menjelang jam 9 pagi, kos pun mulai sepi karena sepuluh gadis-gadis yang berisik itu sudah berada di kampus. Jam-jam sepi bisa dinikmati dengan tenang oleh satu-satunya pembantu kami, Pinah, untuk mencuci baju, menjemur, menyetrika, dan membersihkan rumah. Lalu kos mulai ramai lagi di jam-jam makan siang karena kami semua selalu memilih untuk makan siang bersama-sama di tempat kos, dan jam 1.15 sampai jam 3.30 kos kembali sepi karena kami semua kembali ke kampus.

Kos berangsur-angsur ramai menjelang pukul 4 sore. Heyaaaa… Take-take an kamar mandi lagi, gedor-gedoran lagi, teriak-teriak lagi, belum adu vokal lagu-lagu terkini masa itu… Hihihihi… Urusan take-take an kamar mandi ini berlangsung sejak aku menginjakkan kaki di tempat kos Palem sampai tamat kuliah. Kebiasaan teman-teman yang hobby nge take tapi gak hobby mandi, duh… bukan main menyebalkannya. Haha.. Jadi, main akal-akalan, gimana caranya supaya gak keduluan sama teman yang hobby nge take kamar mandi tapi gak hobby mandi itu. Caranya???? Bangun pagi-pagi sekali, taruh peralatan mandimu disana, dan tidur lagi sampai pukul 7. Lalu turun dengan wajah tak bedosa, mandi. Karena peraturannya, siapa yang duluan meletakkan peralatan mandi atau handuknya disana, tidak ada seorangpun yang boleh masuk. Aduh geli campur-campur kesel juga membayangkan masa-masa itu.

Tinggal di kos lebih disukai, dibandingkan menyewa rumah, atau tinggal bersama keluarga dekat. Salah satu pertimbangannya adalah karena praktis, tidak ada aturan mau bangun jam berapa tidur jam berapa, tidak perlu mikir biaya lain-lain seperti pemakaian air dan listrik, tidak perlu jaim-jaim harus bangun pagi dan membersihkan rumah. Bayarnya bulanan, tidak terlalu membebankan orang tua kan. Kalau tidak betah, ya tinggal beres-beres baju, angkat koper, pindah. Suka-sukalah.

Tiap sore di kos Lembah Palem (sebut saja begitu biar gampang mengingatnya), pasti kami semua akan duduk-duduk di balkon, menikmati angin sore, beli jajanan untuk dimakan bersama-sama, lalu ngobrol-ngobrol gak jelas arah, ketawa hahahihi, sambil genjrang genjreng gitaran dengan lagu-lagu cantik tentunya. Dari tempat itu, aku juga tertular bisa bermain gitar, walau lagunya gak jauh-jauh dari “Lihat Kebunku”, “Naik naik ke puncak gunung” dan setelah agak lancar, aku mulai trampil genjrang-genjreng lagu dengan kunci-kunci yang lebih sulit “Wanna Take Forever Tonight”nya Peter Cetera dan “Buku ini aku pinjam”nya Iwan Fals. Dan sekarang??? Lupa semuaaa… Cihuyyyyy…

Yang paling bikin kangen adalah, nasi goreng dan mie goreng tek-tek yang rajin lewat setiap malam dan mangkal di depan kos kami. Ketika suara tek-teknya terdengar, wajah-wajah gembira kami sumringah dan langsung berhamburan ke luar rumah kos, seperti menyambut kekasih yang lolos dari maut yang dikirim negara untuk berjuang di perang dunia ke dua.

Meladeni 10 gadis berisik, yang tidak sabaran, aku fikir, kalau abang nasgor gak kuat iman, bisa terancam membentur-benturkan kepalanya ke tiang listrik saban hari. Gimana enggak, sudah belinya rebutan, memesannya rebutan, gak mau jauh-jauh lagi dari si abang, dorong-dorongan. “Jangan pake kerupuk bang.”, “Kerupuk yang banyak ya bang..”, “yang pedessssssssssss”, “jangan pake cabe ah bang, sakit perutttt”, “bang, jangan pake bawang goreng ya…”, “mau donk bawang gorengnya..”, “bang, acar komplitttt…”, “bang, acarnya cabe rawit ajaaaa”, “bang, kembaliannya manaaaaaa?”, “bang, bayarnya bsk yaaaaaaaaaa”. Duh.. Pusing…

Setiap awal bulan, tanggal 1 sampai tanggal 7, ibu kos akan menjadi wanita yang paling baik hati dan ramah se Indonesia, diperhatiin dengan lebaynya, ditanya perlu ini itu atau apalah, suaranya dilembut-lembutin memanggil satu-satu anak, periode bayaran soalnya…si ibu kan mau shopping-shopping kali.. Tapi lewat tanggal 15, hmmmmm galaknyaaaa ckckckckckck… Anjing herder tetanggaku yang angker saja bisa ngibrit minder mendengar suaranya nyaring menggelegar. Pfiuh…

Lewat dari jam 11 malam, pintu pagar digembok. Cuma punya 2 pilihan, nginep di kos teman, atau nekad lompat pagar, dengan catatan siap digonggong si genit BELO dan kemudian seluruh isi rumah ibu kos akan keluar rumah dengan rambut awut-awutan, mata terkantuk-kantuk, dan tentu saja, besok siap disidang…

Kami bersepuluh, perlahan-lahan menjadi dekat dan kompak. Saling membantu, bahkan menyusun rencana busuk bagaimana caranya untuk menghilangkan si blasteran herder genit BELO. Hihihi. Saking genitnya si BELO, siapa saja dipeluknya. Bayangkan, sudah mandi, sudah rapi, siap kuliah, tiba-tiba dia memeluk dari depan dan liur-liurnya membasahi baju dan tangan. Mana sudah harus cepat-cepat berangkat ke kampus. Terpaksa mandi lagi… Arghhhh… Sok akrab sekali anjing itu.

Jadi kadang-kadang, kami sengaja membuka pintu pagar besar-besar dan sengaja lupa menutupnya, supaya BELO lepasssssssssssssss, kami bebasssssss dan anak-anak ibu kos lemasssssssssssss hihihi. Tentu saja aksi ini mengundang kehebohan pemilik kos. Semua anaknya akan berteriak-teriak sambil berlari ke jalan dengan dialog-dialog seperti ini… ” Roiiiikkkkkkk (anak bungsu pemilik kos namanya Roy – ih kasihan ya nama sudah kebarat-baratan, pasti ibu bapak kos mikir keras berhari-hari untuk mencarikan nama buat si Roikkkkkkkkkkk), si Belo lepassssssssssss…. Cepatlah kau kejar..!” atau “Belooooo… Kemana kauuu? Siapa yang beri kau makan nanti..? Pulanglah kau Beloooooooo.” Atau “Beloooo dasar anak nakal.. Kenapa kau lari? Apa kau kurang makan nak?” Hihihihihihihihi… Lalu beberapa jam kemudian, pulanglah si Belo dengan rombongan pemilik sambil mengomel-ngomel panjang pendek. Dan biasanya, kami akan dipesan-pesan berulang kali, untuk tidak lupa menutup pintu supaya Belo tidak lari lagi. Hiiihihihihi…

Jadi, kalau merasa sebal-sebal atau bete-bete sedikit pada ibu kos dan anak-anaknya, gampang… Lepaskan saja Belo… dan kekisruhan pun terjadi manakala mereka menyadari Belo kabur….Bwehhhh… Dijamin kami semua akan saling berpandang-pandangan sambil tersenyum-senyum bahagia penuh arti. Hihihihi…

Pernah saking kepahitannya dengan pemilik kos, kami bersepuluh sepakat untuk mencari tempat baru. Penyebabnya sih kebanyakan karena, fasilitas yang tidak memadai, ibu kos yang galak dan anak-anaknya yang merecoki, juga BELO donk… BELO ini memang menjengkelkan. Apalagi kalau musim hujan datang, dia suka bermain di halaman, lalu tiba-tiba tanpa diundang berinisiatif masuk ke rumah kos melepas rindu kepada kami, alhasil lantai yang sudah bersih ber stempel kakinya semua. Benar-benar menjengkelkan.

Suatu sore, kami memutuskan untuk mencari satu rumah kosong yang mau dikos-kos kan. Tentu saja sulit menemukan rumah kos baru yang bisa menampung 10 anak kos sekaligus. Apalagi ditambah syarat-syarat yang sudah kami bicarakan dan rencanakan setiap malam *baca MIMPI kali ye…

Misalnya nih, kos harus bisa menampung kami semua sekaligus (Tak Ingin Berpisah judulnya), kos harus ada balkonnya buat duduk-duduk sore berkumpul menikmati angin, kamar mandi minimal 3 (secara sudah kenyang ribut-ribut rebutan kamar mandi donk ya), ruang duduk atau ruang nonton TV yang besar, TV yang oke (secara TV yang disediakan di tempat kos adalah sebuah TV tua yang harus digebrak-gebrak dulu atasnya supaya gambarnya bener… Ckckckckck), pembantu yang bersahabat (atau minimal menyadari kodratnya… secara si PINAH lebih berfungsi sebagai mata-mata ibu kos daripada pembantu), dapurnya harus bersih dan agak besar (secara masak indomie saja hebohnya gak kepalang dan teman-temanku itu hobby sekali berekserimen membuat berbagai masakan, namun pas sudah jadi, ogah-ogahan mencicipi.. Kenapa ya..?) dan yang paling penting adalah, Pemiliknya harus baik dan tidak tinggal satu halaman dengan kami.

Nah kan, dengan syarat segitu banyak, emang adaaaaaa?????? Jadilah setiap hari Jumat sepulang kuliah selama dua bulan penuh, kami punya kesibukan baru, keliling Pondok Kelapa untuk mencari rumah kos yang tepat dan memenuhi syarat. Hasilnya????? Horeeee.. Jadi malas pindah kos. Hahahaha… Biar pemilik jutek, biar ada Belo nya, biar kamar mandi cuma satu, biar TV nya jebot, biar pembantunya nyebelin, yang penting tetap bersama. Uhhh… So sweettttt….

Kenangan lain yang tidak terlupakan adalah, ketika ramai-ramai menentukan jadwal masak dan menu makanan. Karena ber sepuluh, jadi sehari 2 orang yang tugas masak dan belanja. Tiap minggu kami mengumpulkan uang iuran. Ah manisnya masa-masa itu. Dari yang gak bisa masak sama sekali, akhirnya bisa masak, semua bahu membahu, saling membantu, lalu bersantap bersama-sama. Namun karena makin lama kesibukan kuliah semakin menyita waktu, kebiasaan masak bersama-sama tidak berlangsung lama, apalagi ibu kos sudah mulai malas-malasan membelikan gas. Lalu, kami bertemu mbak YATI, tukang katering, orang Jawa, yang selalu nrimo dan pasrah dibawelin sama temen-temen.

Sehari, dua kali diantar katering, aku masih ingat isinya, nasi, 2 macam lauk dan satu macam sayur, plus sambal. Sehari hanya rp 2500,00, dibayar mingguan. Sampai aku tamat kuliah, kami memakai jasa mbak Yati. Sekali-kali cuti kalau jenuh dan ingin mencoba katering yang lain atau makan di luar.

“Mbak Yati, ikan goreng sambal kecap donk…”, “Mbak Yati.. Ikan goreng balado donk..”, “Mbak.. Jangan tauge tahu terus donk…”, “Mbak.. Jangan telat kirim donk…” dan mbak Yati hanya sanggup senyum-senyum ber iya iya iya iya…

Banyak cerita seputar kos selama masa kuliah yang aku ingat, namun akan menjadi panjang sekali bila dituliskan semua disini. Jadi.. Dibuat berseri saja ya… Karena aku sering lupa diri kalau sudah asyik menulis. Tau-tau sudah panjang sekali dan kemudian repot sendiri mengurang-ngurangi supaya tidak melelahkan dibaca.

Sedianya aku rencana mendokumentasikan semua pengalaman-pengalaman manis dan lucu ku dalam bentuk tulisan, supaya suatu hari aku bisa mencetaknya, membukukannya untuk kubaca baca lagi suatu hari bila bila aku rindu masa-masa itu, tentu bersama keluarga kecilku.

Nasib Anak Kos II, akan lebih kental dengan kejadian-kejadian lucu, problem selama tinggal di kos Palem, juga ‘penampakan-penampakan’ nya.. (Kos tanpa cerita hantu..? Mana seruuuu?) …

Ditulis oleh :  Ric Erica

Jakarta, 31 Juli 2010 : 08.39 AM

di sebuah Sabtu pagi yang nyaman dan menyenangkan

2 Comments to “Nasib Anak Kos”

  1. Pra says:

    aku pernah kost di daerah selatan jakarta, bersama 160 temanku dalam satu lingkungan…hampir mirip asrama, ada yang kenal ada yang ngga saking banyaknya orang disitu, cerita? terlalu banyak hingga tak tau mau mulai dari mana…hehe… pokoknya masalah selalu muncul setiap saat, dari dimarahin induk semang gara2 bw cewe nginep sampe rebutan motor jatah untuk kost2an…. inget itu pun cengar2 sendirian di sini… brasa dibawa kembal ke memori masa silam… ^_^

  2. artawan says:

    nice artikel..ditunggu kisah kisah anak kos nya..

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store