Cinta Monyet

Membicarakan Kisah Kasih di sekolah, zaman-zaman SMP dan SMA, tidak mungkin ada akhirnya. Selalu membawa banyak kenangan manis dan menyunggingkan senyum setiap mengenangnya. Setidaknya itulah yang aku tangkap dari komentar teman-temanku ketika tulisan “Kisah Kasih di Sekolah” aku publish 2 hari yang lalu.

CINTA MONYET. Hmmmm.. Entahlah, apakah dua kata itu tepat untuk menggambarkan suatu perasaan ketertarikan saat-saat itu. Secara, ketertarikan pertama kalinya pada seseorang di awal-awal usia belasan tahun, adalah suatu perasaan aneh, membingungkan, sekaligus menyenangkan. Antara exciting menjalaninya, dan pintar-pintar bodoh menyikapinya. Namun, aku justru memilihnya sebagai judul tulisan kali ini, karena ada beberapa kisah seru dan lucu, yang akan aku tuliskan disini dan semoga mendatangkan senyum, sukacita dan tawa ketika kalian membacanya.

CINTA MONYET. Rasanya sudah mendengar kata ini dari zaman batu. Dari aku kecil, kata-kata ini selalu dibicarakan oleh papa mama, oom tante dan orang-orang dewasa lainnya. Mereka dapat 2 kata ajaib itu darimana ya? Warisan jugakah? Apa yang dimaksud dengan Cinta Monyet? Siapa yang dimaksud dengan Cinta Monyet? Bagaimana rasanya Cinta Monyet? Yuk, kita kupas tuntas.

Aku masih ingat, ketika aku duduk di sekolah dasar dimana semua murid dan gurunya adalah perempuan, hanya 2.5 orang laki-laki yang kami kenal yaitu guru Olahraga, penjaga sekolah dan 1/2 nya lagi adalah anak penjaga sekolah, si Cecep, yang berusia sebaya dengan kami.

Masa-masa waktu SD, SD Katolik terbaik di kotaku, kami hanya tau belajar, PR, ulangan, dan bermain. Plus setiap Senin upacara, setiap Selasa SKJ (baca Senam Kesegaran Jasmani yang lagu nya teng teng teng teng teng..), setiap Jumat pelajaran agama, dan setiap Sabtu berpakaian Pramuka dan pritttt prittt prittt… Latihan berbaris, tali temali, berkemah, bercocok tanam… Wuihh menyenangkan.

Ketika masuk SMP, aku dan teman-temanku yang memilih sekolah campur, awal-awalnya agak kaget juga beradaptasi. Biasanya mau ganti baju di kelas, mau duduk seenaknya, mau jalan mau lari mau ngapa-ngapain tidak terlalu ambil pusing.. Namun, sejak hari pertama menginjak kaki di SMP, rasanya memang tak sama. Kanan kiri ada mahluk lain yang bercelana pendek, dan mahluk-mahluk itu tidak pernah bisa diam. Mengganggu sekali.

Dari tas sekolah yang jadi sasaran disembunyikan, peralatan sekolah yang tidak pernah dikembalikan, sampai bekal makanan yang tidak pernah utuh sampai di perutku… Benar-benar menjengkelkan. Jangan sekali-kali mereka tahu kita membawa coklat, roti atau apapun yang disebut makanan, bwehhhh siap-siap lenyap dalam sekejap. Namun… Keberadaan mereka (baca : temen-temen cowok itu), tidak selalu mengganggu, ada kalanya lucu dan tengil. Yang nakalnya, joroknya, nekadnya, bwehhh… Bikin hidup jadi berwarna.

Aku mulai menyadari adanya suatu ketertarikan pada lawan jenis, ketika pertama kalinya mendapat surat dengan kalimat-kalimat yang membuat hati berbunga-bunga di laci mejaku. Bagaimana tidak berbunga-bunga, orang biasanya setiap harinya aku menemukan bekas permen karet, yang ditempelin oleh teman-teman ku itu …

Memang anak laki-laki selalu terlahir jorok-jorok ya. Mengapa ya? Entahlah, tapi keluhan itu bukan milikku saja, namun hampir dialami oleh teman-teman perempuanku. Aku sampai berusaha memahami, bahwa mungkin itulah cara mereka mau mendekati kami. Lewat ampas permen karet dulu…

Saking senangnya mendapatkan surat pertamaku itu, sampai pulang ke rumah dibaca lagi dibaca lagi dibaca lagi, dan begitu nyelip, huaaa seperti kehilangan anting-anting emas yang dibelikan mama sejak kecil.

Padahal, yang ditulis juga enggak penting-penting amat. Tulisannya lebih bagus sedikit dari cakar ayam, banyak coretannya lagi. Aku sempat berfikir, jangan-jangan itu orang tidak pernah mengecap bangku SD, jadi tidak pernah belajar menulis indah. Seingatku, tulisannya cuma, Hai Erica.. Salam kenal dan salam kompak selalu. Leo Boy. Nah, kan gak penting kan… Dan apakah ada di buku absensi ada teman cowok namanya Leo Boy? Kalau Leonardo atau Leon mungkin ada. Mungkin maksudnya cowok berbintang Leo. Merepotkan bila harus mendata tanggal lahir semua cowok yang ada di sekolah untuk mendapatkan datanya.

Paling seru kalau memperhatikan temen-temen yang lagi taksir-taksiran sama temen yang kelasnya dekat toilet. Wuihhh jadi pada rajin ke toilet aja. Apalah maksudnya. Hihihihi… Kebetulan kelasku gak terlalu jauh dengan toilet cowok. Nah seru juga kan. Tiba-tiba di tengah pelajaran, ada yang manis-manis lewat.. Terus mereka juga jalannya pelan-pelan. Wuihhh.. Segerrr ada pemandangan lain. Daripada melihat si Johny lagi Johny lagi. Depan liat Budi, belakang Hendri. Bosen banget gak sih…

Yang paling kasihan ya temen-temen perempuan yang kelasnya dekat toilet perempuan. Duhhh… Bete.. Hihihi.

Zaman itu, kalau ketauan aja siapa naksir siapa, atau siapa pergi sama siapa, wuihhh langsung satu sekolah tahu dan dibicarakan. Jadi, kalau mau pergi, ngumpet-ngumpetan. Pura-pura pergi sama temen-temen perempuan, terus tengah-tengah hilang, janjian sama si dia. Terus, zaman itu, paling nge trend salam-salaman. Si A nitip salam untuk B, B nitip salam untuk C, terus kadang-kadang juga temen-temen pada iseng, malsu-malsuin salam. Tinggal yang dipalsukan deh canggung-canggungan. Karena, dulu, menitipkan dan menerima salam saja, sudah dianggap punya perasaan lebih. Sesuatu bangettttt…

Ditaksir adik kelas juga pernah. Wuihh, ternyata bikin jadi semangat sekolah. Tadinya telattttttttt terus, begitu tau ditaksir, 30 menit sebelum bel sekolah sudah datang. Rapi, berkucir dua, kadang berkepang lengket (dulu nyebutnya gitu) atau dikepang kecil-kecil, yang butuh waktu 2 jam dan seratus karet warna-warni yang banyak juga 2 tangan yang tahan pegelllll untuk mendapatkan jalinan kepang yang super rapi dan sakit tentunya.. Apalagi kalau teman-teman cowok di kelas yang jahil itu tergoda untuk menariknya satu per satu.. Lalu poni dibuat jatuh dengan lucunya di jidat.. Poni selamat datang, aku menyebutnya.

Jam tangan warna warni, hasil tuker-tukeran sama teman satu geng. Biar kelihatan banyak… Padahal muter aja tuh jam tangan dari satu tangan ke tangan yang lain. Mohon jangan disebut gak modal, tapi tolong disebut “cara murah dan pinter tampil gaya”.

Berusaha setengah mati untuk tidak ketahuan siapa yang naksir, secara… Yang naksir itu gak keren-keren amat, genduttttttt menjurus over weight, manja gampang ngambek, dan kalau jalan seperti berayun-ayun. Mudah-mudahan dia sudah berbody peragawan sekarang, karena dulu dia pernah mengisi album kenangan (cieee ilehhh zaman dulu album kenangan nge trend banget kali… Nanti kita kupas tuntas di Note berikutnya…), bahwa cita-citanya ingin mejadi PERAGAWAN terkenal. Uhuk uhuk…. Aduh jadi batukkk…

Zaman itu, aha… Tidak lepas dari radio. Salam-salaman / kirim-kiriman lagu di radio juga jadi satu cara untuk mengungkapkan rasa hati yang mungkin malu diungkapkan ketika ketemu. JAIM sihhh… Lagu-lagu waktu itu top top deh. Sampai sekarang pun selalu manis untuk didengar. Yah mungkin karena membawa banyak kenangan di dalamnya. Dari kenangan konyol, lucu, sampai yang termanis sekalipun. Kirim-kiriman lagunya juga lucu. Hanya menyebut nama pendek dan nama tempat. Misalnya, untuk Yenny di Jalan Anggrek, atau untuk Nia di SMP 1, atau untuk Donnie yang tadi datang ke rumah. Lhaaaa… Gimana tau siapa yang dimaksud? Ah itu sih tinggal bagaimana yang merasa saja deh… Hihihi..

Lagu yang dikirim juga cantik-cantik, seperti “Love will Lead you back” nya Taylor Dayne, “Silent Morning”, “I’m gonna miss you” nya Milly Vanilie, lagu-lagunya Debbie Gibson seperti “Lost in your eyes”, “Good Bye-” dan “No More Ryhme” dan tentu lagu-lagunya Michael Jackson.

Setelah aku dewasa dan mempunyai keluarga, aku baru mengerti, mengapa orang tua kita galak banget waktu itu. Pacaran dilarang, jalan-jalan sama lawan jenis dilarang, berteman saja dibatas-batasi. Itu semua karena, di usia usia belia itu, kita masih belum punya pengetahuan dan pengalaman yang benar tentang menjaga diri.

Bayangkan, di usia-usia belasan tahun, kita masih senang-senangnya bermain, mencoba sesuatu yang baru, penasaran akan hal ini dan itu. Semakin dilarang? Semakin berhasrat untuk tahu.

Rasanya nih, dulu waktu baru-baru masuk SMP, belum ngerti yang mana yang disebut cowok cakep, yang mana standard, yang mana yah agak standard, yang mana standard bangettt dan yang dibawah standard. Kayaknya semua sama. Poninya ala Aaron Kwok semua, dengan rambut hitam legam mengkilat poni dilempar, atau poni ala John Taylor, uihhhhh agak disasak dikit naikin ke atas jambulnya.. Mantapppphhh…

Potongan bajunya ya digelung setengah lengan.. Gaya sekali.. Orang otot kayak cacing-cacing kelaparan aja mau dipamerin. Kadang kalau lagi ketombean atau kutuan, itu cowok-cowok menutup kepalanya dengan topi Jepang lurik-lurik tentara. Kalau sudah berdandan seperti itu. Astagaaaa… Sudah merasa seperti cowok cowok terganteng di dunia. Jempol deh…

Jadi ingat, dengan seorang teman cowok yang cerita, sebut saja dia E, ketika zaman cinta monyet, dia akan mengajak beberapa temen dekatnya untuk berkunjung ke rumah cewek yang ditaksir. Maksudnya biar berani gitu. Tengsin kan datang sendirian, kalau dicuekin gimana. Maksud hati sih, biar didukung teman-temannya supaya percaya diri di hadapan cewek pujaan. Apa daya, yang diajak jauh lebih keren, bermobil pula… Wkwkwkwk.. Alih-alih sukses mempesona cewek pujaan, malah cewek yang ditaksir kepincut sama temen yang keren itu. Duhh susah juga ya ngomong, salah sendiri sudah tau berwajah standard kenapa ngajak-ngajak yang lebih keren.. Sudah telat E, gak bisa balas dendam.. Terima kenyataan saja. Wkwkwkwkwwkwk…

Ada lagi teman cerita, zaman SMA setiap ngapelin cewek yang ditaksir pasti berat di ongkos. Lho kenapa? Aku bertanya pura-pura gak tau kan… “Gimana enggak? Adiknya 6. Masih kecil-kecil semua.Semua bawel-bawel.Cewek semua lagi. Tiap ngapel, itu adik-adiknya pada berdatangan, ngajak mainlah, nanya ini itulah.. Akhirnya gue beliin seorang sebatang coklat untuk satu jam yang tenang. Eh coklat abis dateng lagi. Capeee dehhh.” Terus aku tanya, “tapi dapet donkkkkk.” Dia menjawab dengan lemah (mungkin lho ya.. Karena aku kan mewawancarai temenku itu di Blackberry Messenger..) “Enggaaaaaakkkkk. Temen gue yang dapet.” Hihihihi… Salah investasi kalau begitu. Hihihihihi…

Temen satu lagi waktu diwawancarai, uh susahnya.. merasa menjadi narasumber yang paling dikejar-kejar saat ini.. ckckck.. tapi sekalinya cerita, ckckkckckc panjang kali lebar sama dengan luas.. Sampe bingung yang mana koma, tanda titik sampai tanda seru. Seru aja pokoknya. Temenku B, katakanlah begitu, cerita, dulu baru sadar kalau menyukai temen sekelasnya justru ketika, temennya itu pindah ke luar kota. Tiap pagi, rasa semangat sekali pergi sekolah, terus memandangi lekat-lekat tanpa satu kalimatpun terucap. Kalau sehari dia gak masuk, gak bergairah hidup. Rasanya gelappppp dan sekolah berjalan lama sekali. Tiap jam istirahat, inginnya dekat-dekat, walaupun gak berani dekat sekali. Hanya bisa mengamati dari jarak beberapa meter. Menikmati senyumnya, ketawanya, atau sekedar mencuri-curi pandang kalau si dia lengah. Pernah beberapa kali menulis surat, tapi tidak pernah punya keberanian untuk mengirimnya. Bwehhh.. salah besar dulu waktu SMP gak kenal aku dia.. Kalau enggak, aku bisa bantu mikirin tuh gimana caranya supaya itu surat sampai. Hihihi.. Gampang kan. Tinggal taruh aja di tasnya, atau di lacinya, atau titipin temen. Payah ahhhh.. Nah ketika temen ceweknya itu pindah keluar kota, dia baru sadar, ternyata dia suka banget. Suka yang terlambat.

Ah.. Sudah sore. Mesti mandi dan beres-beres. Udah dulu ah.. Dibuat berseri saja yah kisahnya.. Capek ngetiknya…..* gelagat minta diomelin, lagi seru-serunya baca eh putus… Wkwkwkkwkw…

 

Ditulis oleh : Ric Erica

Jakarta, 20 Juli 2010 : 17.45

Selasa sore yang cerah, sejuk dan lucu

3 Comments to “Cinta Monyet”

  1. Very S says:

    Baca cerita ini, jadi kembali ke masa lalu …. :) kelihatan mirip dengan cerita lama saya, Erica. Masa di mana semua hanya polos hati. Percaya atau tidak Erica, saya pernah menjadi “the Leo Boy” dengan versi yang berbeda. Bedanya saya hanya sebatas secret admirer yang sudah senang hati dengan cuma melihat wajahnya atau antar dia pulang dari sekolah. Dia menjadi semacam indikator gadis ideal. Gadis  blasteran itu adalah adik kelas saya yang kebetulan dia tinggal tidak jauh dari rumah oma saya. Jadi beruntung saya bisa sering antar dia pulang. Tapi, tidak pernah ada ungkapan apapun sampai saat saya berangkat dari kota itu. Hmmm entah di mana si Overbeeck itu sekarang.

  2. Gardian B says:

    hmm… cinta monyet oh cinta monyet… jd inget dulu waktu SD klo lg istirahat suka main kejar2an gk jelas sm tmn cewe di lapangan… :D

  3. EKO IRIANTO LAKSONO says:

    Cinta monyet … iya jadi inget waktu sekolah … sayangnya … gak seperti yang lain … saya cuma mandang yang saya suka dari jauh tanpa berani menyatakan … seperti teman2 lainnya …. jadi yaa lewat gitu aja …

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store