Antara Jakarta dan Taipei

“Hai, my name is Patricia, what is yours?” Sebuah text singkat ia dapati di whatsapps nya suatu siang beberapa minggu lalu. 11 digit nomor telfon , membuat keningnya berkerut sesaat, lalu tak lama senyum menghias wajahnya kembali.

“Patricia, you found me! Oh my ….” Yang dibalas dengan tawa berderai di sana dan “Sam, thank you for leaving your numbers there..” Ketiknya.

Senyum yang cukup tebal menetap pada wajah Samuel. Ingatannya flash back pada 1 tahun yang lalu, ketika pertama kalinya ia menemukan Patricia sedang berjibaku menghardik penggemar-penggemar nakal nya di sebuah sosial media. Patricia. Nama itu begitu seringnya bermain dalam angan-angannya beberapa bulan ini.

“Masa aku berteman dengan bunga mawar?” Begitu protesnya ketika Samuel, mengirimkan inbox perkenalan untuk kesekian kalinya di sebuah media sosial suatu hari, satu tahun yang lalu.

“Cobalah mencari tahu, siapa dibalik bunga mawar itu, Patricia. Abaikan bila ternyata aku tak pantas menjadi temanmu.. ” begitu jawabnya singkat yang dibalas dengan pertemanan manis berbulan-bulan kemudian.

“Selamat Natal, Patricia.. Tuhan memberkatimu..”
“Selamat Natal Samuel, Tuhan memberkatimu juga..”
“Senyum yang cantik, Patricia..”
“Warmth smile, Sam”
“Selamat ulang tahun, Patricia. Semoga panjang umur, sehat, dan bahagia..”
“Selamat ulang tahun, Samuel, sekarang giliranku yang mengucapkannya..” Setelah satu minggu berselang.
“Selamat Hari Valentine, Patricia”
“Selamat Hari Valentine juga, Sam”
“Selamat paskah, Patricia..”
“Selamat paskah juga untukmu Sam, terima kasih telah mengucapkannya lebih dulu..”
Dan begitu banyak pembicaraan-pembicaraan singkat yang sangat biasa, yang ternyata tak pernah ia lupakan sampai hari ini

Samuel telah sekian lama mengamati Patricia. Seorang perempuan berusia pertengahan 30 tahunan, yang benar-benar menarik perhatiannya.
Perempuan muda yang bersembunyi dibalik foto-foto dengan senyum manis yang selalu ia amati setiap waktu.
Ketikan-ketikan perempuan itu tak pernah luput ia baca. Tulisan-tulisan yang menggelitik, selalu terketik lincah dari jari-jari Patricia, entah tentang celotehannya sehari-hari, hingga topik-topik sosial yang selalu mengundang banyak respon dari berbagai kaum adam disana.. Samuel sering kali takjub, dibuatnya, entah sekedar senyum-senyum kecil, mengerutkan kening hingga tertawa lebar karenanya. Patricia, sungguh mengherankan. Tak banyak informasi yang ia tahu tentang Patricia. Perempuan itu sangat berhati-hati dan menutup rapat privacynya.
Sungguh misterius perempuan satu itu.

“Hai Patricia, aku melihat foto Papua di profilemu. Kamu pernah kesana?” Ia memberanikan diri untuk mengajak Patricia bicara, lewat sebuah inbox yang langsung dibalas saat itu juga.

“Hai Sam.. Iya, dua bulan yang lalu aku berkesempatan kesana. Hanya beberapa hari saja.” Begitu balasnya singkat.
Dan beberapa pembicaraan seputar Papua, tanah kelahiran Sam, masa kecil dan masa remaja mereka berdua mengalir hangat berhari-hari kemudian. Dan keanehan demi keanehan beruntun terjadi setelahnya.

“Aku seperti menemukan sosok seseorang yang sudah lama hilang, Patricia. Entahlah, aku seperti menemukan dirinya kembali padamu, Patricia.”

“Dan aku seolah-olah menemukan sahabat lamaku Samuel yang sudah kukenal berbelas-belas tahun lamanya.”

“De Ja Vu kah ini, Patricia?”

“Aku tak tau. Tapi aku percaya, tidak ada sebuah kebetulan dalam setiap perjumpaan, peristiwa dan perpisahan. Segala sesuatu yang terjadi hari ini, telah tertulis dan tergenapi dalam kehidupan roh kita.” Jawabnya.

“Kau percaya dengan reinkarnasi? Apakah Sam dan Patricia itu sudah pernah ada sebelum saat ini ?” Tanya Samuel lagi. Hening sesaat, yang kemudian dibalas..

“Sam, aku masih 1/2 percaya 1/2 tidak dengan Reinkarnasi. Tapi aku percaya bahwa perjalanan hidup kita telah dicatat dalam kitab kehidupan atas nama kita masing-masing dari lahir hingga mati. Mungkin nama Patricia sudah tercatat di kitabmu, demikian namamu sudah tercatat di kitabku. Biarlah menjadi misteri.”

Berhari-hari panjang mereka membiarkan perasaan mereka tersemat satu sama lain. Tanpa pertemuan. Hanya memandangi foto-foto yang selalu tersenyum disana dan surat-surat panjang bertutur dengan lembutnya.

“Patricia, andai aku bisa melukis, aku tentu fasih melukis wajahmu saat ini.”

“Sam, bahkan ketika aku memejamkan mata, hanya wajahmu yang aku lihat..”

Lalu mereka berdua termenung panjang. Mengapa mereka harus dipertemukan? Pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah terjawab.

“Firasat, Sam. Aku mengikuti firasat itu sejak awal, dan tibalah kita disini…” Tulis Patricia

“Sama seperti firasat ketika kau tiba-tiba berhasil menyebutkan nama lengkapku dan ketika akhirnya kau mengetahui siapa dibalik bunga mawar itu untuk pertama kalinya?” Ketik Sam pelan.

“Entahlah.” Patricia menjawab lirih.

“Seperti ada banyak anak kecil memegang panah dan siap mengarahkannya pada dua mata saya, Patricia.” tentu dalam hati.

Antara Jakarta dan Taipei. Rentang jarak demikian jauhnya tak menyurutkan kisah mereka.
Kata demi kata terketik indah, tentang harapan dan rasa.

Kali ini, cinta menautkan mereka. Patricia, perempuan misterius yang angkuh itu, dan Samuel, pria flamboyan, bermata teduh dengan senyum yang lembut itu..
Dua karakter yang berbeda, dua latar belakang yang sungguh bertolak belakang, terentang 2400 miles jauhnya.

“Aku rupanya jatuh cinta lagi, Patricia.. Jatuh cinta dengan segala keindahan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.”

“Sam, I will see you.. I dont know where, when and how. But I will see you” tulisnya dua minggu yang lalu.

***********

Taiwan Taoyuan International Airport, 2 Mei 2012: 07.15AM

“Excuse me, sir. Can u please turn off all of your devices? Our flight is about to board in 30 minutes? Thank you.” Pramugari itu mengingatkan Samuel dan membetulkan duduk sandaran kursinya. Taipei – Jakarta, akan ditempuh hanya dalam waktu 7 jam lagi.

Samuel memejamkan matanya. Alunan “Firasat” Marcel Siahaan mengalun lembut.
“Ya.. Aku pulang Patricia.. Tak sabar melihat lesung pipimu terukir begitu kau melihatku..”Bisiknya..

Ric Erica, 27 April 2012

 

3 Comments to “Antara Jakarta dan Taipei”

  1. Kalau tak salah ini sekelumit tntang dirimu , bukan ? Just imagine about your picture and the short story….

  2. I wayan suardiana says:

    it’s an admiring short story and to be an inspiration for your next post based on my true story married with nanjing girl, PRC full of complexity between culture, religious matter and atheism. keep inspired!!!

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store