Adakah Yang Salah?

Entah apa yang salah pada masyarakat hari-hari ini. Karena saya bukan psikolog bukan pengamat prilaku masyarakat juga bukan siapa-siapa, sehingga tanda tanya besar ini, masih saja belum terpecahkan.

Beberapa waktu yang lalu, di sebuah hari Sabtu saya mengantar putra saya berbelanja ke Senayan City. Tengah asyiknya berjalan melihat-lihat, tiba-tiba saya melihat beberapa orang berhamburan seolah menghampiri seseorang. Saya dan putra saya pun berhenti mengamati.

Rupanya, orang-orang itu mengerumuni sepasang selebriti yang sedang bergandengan tangan menebar senyum, sumringah, melayani permintaan foto dan salaman. Mereka adalah, Farhat Abbas dan saya menduga yang perempuan adalah kekasihnya, Regina.

Saya membatin, “Apalah prestasi kedua artis ini, sehingga orang-orang begitu antusias ingin menyalami dan berfoto dengan mereka berdua?” secara, yang disajikan di media online maupun media elektronik hanya kisah-kisah murahan tak bermutu, jika tak mau dibilang sampah.

Juga mengapa orang-orang bereaksi seperti menemukan berlian di gundukan pasir, ketika mendapati ada sepasang selebriti diantara mereka, dan rela antri seolah tak ingin kehilangan kesempatan untuk berfoto bersama.

Arghhh.. Apa yang salah. Apa kita semakin krisis tokoh idola? Sehingga siapapun yang pernah masuk TV, masuk berita, layak diperlakukan seperti idola?

Atau, saya yang salah? Berada di tempat itu dan memiliki rasa cemburu barangkali? Kok mereka disalami, sementara saya enggak, padahal liat deh FB saya, jempol dan comment lumayan banyak.

Di sisi lain, saya juga khawatir, melihat berbagai postingan lalu lalang disini, dari beberapa orang penulis, Tapi ketika saya baca, isinya hanya pemutar balikan fakta, berita dipelintir sedemikian rupa, informasi disesatkan, logika di balik-balik, mencari celah kesalahan kecil untuk disulap menjadi cacat besar, tapi justru mendulang begitu banyak pujian, simpati, kekaguman dan di share ribuan kali ke seantero dunia. Jangan-jangan orang sudah mulai bosan dengan celotehannya pak Mario Teguh.

Postingan yang memecah belah dilimpahi dengan puja puji, penulisnya didewakan seperti nabi, statusnya bertaburan kalimat penuh dengki, setiap hari menjangkitkan kebencian, mencari-cari kelemahan, komentar dari para penyembahnya penuh dengan makian, bahkan bahasa-bahasa yang paling tidak santun sekalipun bisa kalian temukan disana. Seolah tak ada lagi yang bisa dilakukan selain mem bully.

Atau memang ini lah trend nya. Yang berprestasi dan yang jelas bekerja keras di caci maki oleh mereka yang hanya gemar mencari sensasi? Inikah waktunya, yang pandai bekerja di salah-salahkan, sementara yang pandai bicara lah yang di puja puji?

Sekali lagi apa yang salah? Apakah untuk menjadi “someone” harus jahat? Harus buruk? Harus negatif? Harus menabrak rambu-rambu? Prestasi nomor sekian, yang penting √°khirnya terkenal dan pundi-pundi uang semakin tebal.

Apakah sudah kodratnya, orang-orang yang menjadi idola bukan orang yang sarat prestasi, tapi sarat sensasi?

Atau jangan-jangan, saya yang salah. Salah karena memilih menjadi penulis yang biasa-biasa saja, dan akhirnya jadi biasa-biasa juga.

Atau, kita semua lah yang salah.. telah memberi mereka panggung seluas-luasnya, untuk leluasa tebar pesona sedemikian rupa?

Ric Erica
Jakarta, 30 Oktober 2014 : 13.24

2 Comments to “Adakah Yang Salah?”

  1. albert widjaja says:

    maaf kalau comment/ulasan saya berantakan ya mba :
    Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi pada tulisan diatas. Sebagai manusia biasa sangat normal ingin selalu mendekati “sang idola” ketika melihat dan bisa berada di dekatnya. Namun yang patut digaris bawahi dan menjadi pertanyaan besar adalah apakah “sang idola” itu pantas untuk dieluk-elukan bagai seorang pahlawan yang baru pulang membawa kemenangan di medan perang?
    Sepertinya pernyataan saya di kalimat terakhir sudah tidak berlaku lagi. Karena betul seperti yang mba katakan dan saya sangat menyukai kata-kata ini : “orang-orang yang menjadi idola bukan orang yang sarat prestasi, tapi sarat sensasi?”
    Sensasi itu bisa jadi sensasi positif atau negatif tapi yang jelas selama ada orang yang membuat sensasi, pasti dia akan menjadi idola.
    Jadi menurut saya memang tidak ada yang salah dengan kejadian diatas karena biar bagaimanapun dan perlu kita akui bahwa FA dan R memang seorang pembuat sensasi. Tinggal bagaimana masyarakat menilai sensasi apa yang ditimbulkan, bisa positif atau negatif.
    begitulah kira2 pendapat saya mba, sekali lagi mohon maaf jika ada kesalahan dari tulisan saya ini.

    salam kenal mba

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store