Perempuan Kedua

 

 

Sudah 8 bulan ini, rumah itu menjadi pembicaraan. Rumah bercat abu-abu itu, hanya sekali-kali didatangi laki-laki berusia 40an yang sama bermobil BMW tua berwarna hitam. Suara tarikan panjang pintu gerbang yang berat mengusik telinga akan terdengar setiap pria itu datang dan pergi. Itupun selalu hanya 1-2 jam saja, dan selalu larut sekali menjelang pagi.

“Ah masa suaminya? Kalau suami, masa datang hanya sekali-kali. Kalau datang, langsung masuk garasi dan menghilang, begitu juga perginya.” Kasak-kusuk para ibu tetangga mencari pembenaran.

“Istri kedua, barangkali…”

“Ih mau-maunya … Mending kalau berduit. Lah mobilnya aja butut.”

“Lha biarkan sajalah, asal gak mencoba mengganggu suami kita..”

“Hiy.. Awas saja kalau berani mengganggu suamiku. Tak kasih hadiah celurit dia…” Sahut yang lainnya sambil menggulung-gulung bajunya. Lalu tawa mereka pun berderai. Demikian selalu setiap sore selama 5 bulan ini.

 

Sudah berbulan-bulan panjang, penghuni baru rumah abu-abu itu menjadi bahan pembicaraan yang panas di lingkungan itu. Penghuni rumah itu adalah seorang perempuan muda berusia awal 30an, mempunyai 1 anak perempuan usia sekolah, dan 1 anak laki-laki yang baru belajar berjalan. Perawakannya putih bersih, lumayan menarik. Siapa nama persisnya nya akupun tidak terlalu tahu. Hanya sekali-kali menangkap bayangannya dari balkon kamarku, ketika ia tengah menyapu halaman rumah, sebelum lekas-lekas ia menghilang ketika tahu sedang diamati.

Kehadiran perempuan itu di lingkungan kami, serta merta membuat lingkungan ini pelan-pelan berubah. Dulu, individualisme begitu kental disini. Hanya pembantu rumah tangga saja yang rajin saling bersilahturahmi, terlihat keluar menyapu halaman pada sore hari sambil bersenda gurau. Lalu, sekarang, dipastikan sudah lebih dari 5 bulan ini, para majikan-majikan merekalah dengan suka hati turun tangan dengan sigap memegang sapu lidi dan pengki.

Tak kurang-kurang, sampai ibu Wandi yang tinggal di ujung jalan, yang selalu pergi pagi pulang malam, 3 rumah dari rumah perempuan itu, dbuat gusar karenanya.

 

“Tau gak, setiap aku berangkat ke toko, dia mesti nyamperin rumahku. Nanya-nanya si Inem dan Inah. Gaji berapalah, dikasih makan apa aja. Orang rumah kemana saja, ngapain saja, dan lain-lain. Apa maksudnya coba?” Bu Wandi curhat dengan sengitnya suatu sore.

“Lho.. Ngapain dia nanya-nanyain pembantumu?” Ditimpali oleh ibu Echi, tetangga sebelah rumahnya, ketika mereka berkumpul disuatu sore. “Mau dibajak jeng?”

“Kayaknya sih dia lagi minta tolong dicari-cariin pembantu sama si Inem. Tapi keselnya nih, belakangan si Inem disuruh nyambi kerja di rumah dia. Pake ngatur-ngatur lagi. Kebangetan bener.” Ibu Wandi agak emosi.

“Wuihhhh, diganyang aja jeng!!! Orang seperti itu jangan dikasih hati!” Ibu Echi sengaja memanas-manasi, mencoba memancing ikan di air keruh.

Ibu Echi memang sudah kesal sekali dengan Sus May itu, demikian mereka memanggil perempuan itu. Sudah 3 kali setidaknya, ibu Echi mendapati sms-sms aneh masuk ke ponsel suaminya, dan dari isi sms itu, dugaan ibu Echi, Sus May lah yang mengirimkannya.

“Masa, gentengnya bocor ngadu ke suamiku. Lain kali minta tolong mencarikan dia pembantu. Owmaigattttt… Dia fikir suamiku penyalur PRT apa? Dasar genittttt!” Demikian curhatan ibu Echi suatu hari kepada gang sapu lidi dadakan itu.

Dan biasanya bisik-bisik tetangga itu baru akan berakhir bila hari mulai gelap atau nyamuk-nyamuk mulai hadir menunjukkan batang hidungnya.

**************

 

“Mas Anto, dicari tetangga depan tuh.” Suara mbok Tinuk membuyarkan konsentrasiku membrowsing detiknews.com sore tadi.

“Tetangga depan? Tumben.. Bapaknya atau ibunya mbok?”

“Ibu nya mas. Ayo ditemuin, ini gelas kopi sama gitarnya mbok beresin ya mas.”

“Iya mbok. Aku ganti baju dulu. Sebentar lagi turun.” Begitu jawabku sambil lekas-lekas mengganti celanaku dengan jeans andalan. Aku bersorak, secara tidak pernah melihat wajah Sus May dari dekat. Sedikit penasaran.

“Iya bu, ada yang bisa dibantu” aku tergopoh-gopoh menemuinya di teras.

“Mas Anto ya.. Boleh minta tolong gak mas, itu mobilnya tolong dipindahkan, karena menghalangi mobil suami saya mau masuk.” Begitu jelasnya.

Orangnya cukup santun. Bahasanya halus, dan tentu saja cantik. “Sayang juga ya cantik-cantik kok mau…..” Aku larut sejenak..

“Gimana mas Anto. Bisa dipindahkan mas? Sebentar lagi suami saya datang.” Sus May menegurku sambil tersenyum.

“Oh iya.. Iya.. Segera saya pindahkan.” Aku pun bergegas masuk kembali ke rumah, mengambil kunci, dan memindahkan sedan Accordku.

Lalu Sus May pamit pulang dan menggeser pintu pagar rumahnya, namun herannya kali ini suara derit pagar rumah itu tidak senyaring biasanya.

Tak lama aku memindahkan mobilku, sebuah BMW hitam dengan deru mesin berbunyi SOS datang dan langsung masuk ke halaman rumah itu, dan dalam hitungan 2 menit saja, Sus May menghilang dibalik pagar coklat tua yang sudah tertutup itu.

************

“Mbok, siapa sih tetangga seberang kita itu? Jarang keliatan ya..”

“Eh mas Anto ini, tumben nanya-nanya. Biasanya cuek..

Sudah ada yang milik ah..” Mbok Tinuk menggodaku. Perempuan tua setia yang sudah mengasuhku sejak kecil itu terlihat semakin tua. Namun gurat-gurat jenaka tidak pernah sirna dari wajahnya.

“Lumayan cantik juga ya mbok. Suaminya yang tempo hari ya mbok.” Tanyaku menyelidik.

“Ah cantikan non Sisy jauhhh.. Udah ah mas Anto, nanti mbok gak beres-beres ngelap nya. Orang sudah tua, kerja makin pelan, eh diajak gosipannnn…” Mbok Tinuk sangat menggemaskan. Kutepuk punggung mbok Tinuk pelan.

“Pelit informasi nihhh. Awas ya, nanti gak dibagi lagi bolu kukusnya…”Rengutku sedikit merajuk menggodanya.

Tak lama mulutnya terbuka lebar memamerkan giginya yang ompong dimakan usia. Lalu ia terkekeh-kekeh seperti biasanya tapi tetap tak satupun kalimat informatif yang kuharapkan keluar dari bibirnya. Inilah keistimewaan mbok Tinuk. Tidak pernah mau membicarakan orang lain, lebih-lebih keluarga kami. Itu jugalah yang membuat mbok Tinuk sangat disayang dan dianggap seperti keluarga sendiri.

**************

Suara pagar rumah sus May berderit lagi. Jam 2.10 pagi. Sudah 3 malam berturut-turut. Diluar biasanya. Aku memang belum tertidur. Sibuk mendownload lagu-lagu MP3 dari internet, sambil menonton film. Aku mencoba mengintip dari jendela kamar. Diluar gelap, sepi dan seperti biasa, tidak ada klakson apapun, hanya pintu bergeser terbuka, pertanda suami Sus May akan datang, dan tak lama kemudian sebuah mobil masuk dan pintu tertutup lagi.

Puluhan pertanyaan hinggap di kepalaku. Mengapa selalu datang di jam-jam dimana orang sudah terlelap, lalu pergi lagi 2 jam kemudian. Mengapa hanya beberapa hari saja dalam sebulan suaminya pulang? Mengapa sehari-hari sus May hanya ditemani oleh 2 anaknya. Mengapa wanita secantik itu harus berbagi suami, jika memang benar bisik-bisik tetangga bahwa ia bukan yang pertama. Apakah Sus May bahagia dengan hidupnya seperti itu? Apa yang ia cari? Puluhan kalimat-kalimat pertanyaan itu berulang kali memenuhi kepalaku sebelum sebuah suara ekstra keras menghantam pagar rumah tetangga.

Aku beranjak mengintip lagi dari jendela. Sebuah mobil Fortuner hitam menabrak pagar rumah Sus May. Tak lama kemudian, Sus May dan suaminya keluar rumah setelah seorang wanita dan dua orang laki-laki tegap membuka paksa pagar itu.

“Kamu memang tidak tahu diuntung! Sudah diberi pekerjaan, sudah diberi jabatan bagus, sudah punya duit, ini balasannya! Malah punya perempuan lagi! Kamu itu sudah tua! Tidak malu apa sama anak-anak?” Wanita itu histeris mengamuk pada laki-laki yang kuduga suaminya.

Aku memperhatikan dari jendela saja, tidak berniat membuka pintu balkon apalagi keluar rumah. Tetangga-tetanggapun sepi-sepi saja, tak satupun dari ibu-ibu yang heboh itu keluar memasang mata dan telinga. Dua tiga orang satpam perumahan berdatangan, namun pertengkaran makin sengit.

Suara bantingan pintu dan kata-kata keras beradu. Jam 3.15 pagi, bukan waktu yang tepat untuk berjaga sebenarnya. Namun kutahan kantukku, demi melihat sus May.

Mbok Tinuk mengetuk kamarku, berdua kami mendengarkan keributan itu. Sedikit-sedikit beradu pandang. Satu dua tetangga datang melerai. Dua jam kemudian, suasana kembali tenang, wanita asing dengan mobil fortuner meninggalkan TKP, disusul kemudian suaminya, meninggalkan Sus May yang tersungguk-sungguk memeluk kedua anaknya yang ketakutan.

Beberapa jam kemudian, aku melihat Sus May dan kedua anaknya meninggalkan rumah membawa 2 koper besar dengan menumpang taksi, dan setelah itu aku tak pernah melihatnya lagi. Namun berhari-hari bahkan berminggu kemudian, sekali-kali ibu geng sapu lidi masih beraksi dengan sapu lidi dan pengki, tak habis-habis membahas kejadian dini hari itu..

Kehadiran Sus May yang fenomenal, dan kepergiannya yang juga fenomenal, tidak mungkin bisa lepas dari ingatanku. Setidaknya, aku sempat berharap bisa mengenalnya lebih baik dari sekedar atribut Perempuan Kedua yang dipilihnya itu.

Ditulis oleh Ric Erica

Jakarta, 19 Januari 2011: 23.21PM

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

10 Comments to “Perempuan Kedua”

  1. Armo says:

    kasian anak2nya Sus May yaa Ricc ..
    mereka bisa jadi “trauma” … :-(

  2. xhax says:

    selalu!!!!!,…selalu aja digantung>>>hhahahhaah>> to be continued gak ne

    • Erica Mascalova says:

      hahahahahahhaah…. to be continued lah… sabar ya.. sabar sampai seribu tahun lagi hahahah.. thank you..

  3. iDon says:

    ternyato sis May ini yg diduokan… kita jingok crito selanjutnyo

    • Erica Mascalova says:

      nahhhh.. ngapo melok-melok bebahasa palembanggggggg.. ??? mari kito jingok cerito selanjutnyo.. jangan lupo makan pempek dukin ..

  4. adwipayana says:

    Mungkin dia lebih nyaman dengan perempuan kedua itu..dibanding harus bersanding hanya sebagai boneka si “Ratu” need to see the ending apakan mereka berdua bisa introspection ?

    • Erica Mascalova says:

      Alasan klasik dari semua perselingkuhan, adalah KENYAMANAN. Aku baru ngeh, kamu main-main disini juga rupanya, kiranya cuma gentayangan di Twitterland aja. Perempuan Kedua sementara ini masih 2 seri, aku belum mood melanjutkan, tapi seharusnya akan bisa dikembangkan jadi novel. Dengan catatan, kalau saya mood dan mampu.

  5. aldie says:

    tulisan km ringan tapi enak dibaca dan perlu
    kayak tagline nya TEMPo….

  6. Irwanto says:

    Bersambung terus…kaya cersilnya Kho Ping Ho……tp asik jg bikin penasaran Ric

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store