Perempuan Kedua Chapter 2

 

Sudah 6 minggu terakhir rumah itu sepi tak berpenghuni, namun tiba-tiba pagi ini ketika aku bangun pagi dan membuka pintu balkonku, aku mendengar suara anak perempuan berumur kurang lebih 9 tahun berlari-lari dengan cerianya di halaman rumah milik tetangga depan. Kuperhatikan lebih seksama, hanya ada seorang anak kecil dan seorang pembantu rumah tangga berumur kira-kira 30an. Sayangnya aku lupa seperti apa anak pertama Sus May, secara mereka jarang sekali keluar rumah, dan aku tidak pernah sekalipun melihat rupa anak itu dari dekat. Namun, apa mungkin setelah kejadian yang menghebohkan berbulan-bulan lalu, Sus May kemudian berani kembali ke rumah itu lagi? Apa dia tidak takut kejadian yang sama terulang kembali? Atau, apakah rumah itu sudah berganti penghuni yang kebetulan sama-sama memiliki anak perempuan seusia La Tifa, anak Sus May itu?

Separuh fikiranku berputar cepat. Kejadian 18 minggu lalu masih melekat erat dalam ingatan. Sudah 18 minggu pula, lingkungan perumahan kami berangsur-angsur tenang, hanya sesekali beberapa tetangga membicarakannya, bila kebetulan ada tukang pos / kenalan datang mencari Sus May.

2 jam kemudian, tampak sebuah mobil CRV hitam menepi, tak lama kemudian, seorang laki-laki menghampiri rumah itu. Anak perempuan yang tadinya sedang asyik bermain, lekas tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar dan mobil hitam itu segera menghilang dari balik pagar.

Tanda tanya besar meliputi fikiranku. Apakah benar sudah berganti penghuni? Aku cukup bersemangat, setidaknya, teka-teki tentang rumah itu, tidak lagi pekat terselubung.

*****************

“Mbok, tetangga depan balik lagi ya.” Aku sudah tidak bisa menahan rasa penasaranku lagi, dan mulai menginterogasi mbok Tinuk.

Sejak kejadian dini hari itu, aku dan mbok Tinuk jadi sering membicarakannya. Mbok Tinuk mulai sedikit-sedikit menceritakan apa saja yang dia tau.

“Setelah Sus May pergi, sebenarnya ada beberapa kali laki-laki kekar naik motor datang ke rumah depan mas Anto. Cuma parkir di depan pintu pagar, seperti menunggu sesuatu. Berjam-jam mas. Kadang pagi nanti sore kembali lagi.. Kadang siang sampai sore..” Bisik mbok Tinuk yang membuat aku geli setengah mati. Secara di rumah ini hanya ada aku dan mbok Tinuk, kok pakai bisik-bisik segala.

“Oh ya? Ngapain orang itu mbak?” tanyaku ingin tau.

“Sepertinya sih orang bayarannya istrinya suami Sus May mas Anto.” Mbok Tinuk mencoba berspekulasi. Yah berspekulasi bukan bergosip. Mbok Tinuk tidak suka bergosip.

“Taunya darimana mbok?” tanyaku lagi menahan geli. Kuamati wajah seriusnya yang penuh dengan gurat-gurat tua. Namun wajah itu tetap sama teduhnya dengan wajah muda yang berpuluh-puluh tahun silam mengasuhku.

Mbok Tinuk tertawa kecil sambil menutupi giginya yang ompong dengan tangan kanannya. “Ya mas Anto ini nanyanya detail sekali. Ya mbok kan cuma nebak-nebak, soalnya kalau keluarga kan pasti sudah tau Sus May gak tinggal disitu lagi. Atau jangan-jangan, orang yang mau nagih hutang. Apa itu mas, Bet Kotor…Apa itu mas Anto yang mas Anto bilang tempo hari…?”

Aku tertawa kecil, sambil menyeruput kopi kesukaanku. “Lho mbok, lalu terakhir-terakhir ini apa orang-orang kekar itu masih terlihat?”

“Oh sudah enggak lagi mas Anto. Sudah satu bulan lah, mereka sudah gak datang-datang lagi…”

“Mereka? Banyak, mbok?” tanyaku terheran-heran.

“Yah kadang sendiri, kadang berdua mas. Tapi ya gayanya begitu.. Sama. Hanya duduk-duduk merokok, atau sekali-kali menanyai orang-orang yang lewat. Tapi gak mengganggu sih. Aman-aman saja toh mas, malah rumah kita ikut dijagain..”

Keterangan mbok Tinuk cukup mencerahkan pagi itu. Pasca menghilangnya Sus May, lalu kedatangan beberapa orang kiriman untuk menunggui rumah Sus May, dan tiba-tiba rumah itu dihuni lagi, membuat insting detektif masa kecilku muncul lagi. Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi, siapa dia, dan siapa mereka, fikirku. *seru kannnnn? Hi hi..

*************

“Mas Anto, tuh ada taxi datang mas. Mungkin pesanan Sus May…”Mbok Tinuk memanggilku. Lalu kami pun mengintip dari jendela kamarku.

Yah betul perempuan itu adalah Sus May.. dengan warna rambut coklat mahogany dan potongan rambut yang berbeda. Sedikit lebih kurus, wajahnya menjadi tirus, namun makin cantik. Aku cukup gembira melihat kemunculannya kembali di rumah itu, setidaknya ada sedikit harapanku untuk mengenal Sus May lebih baik. Aku yakin, begitu geng Sapu Lidi mencium kedatangan Sus May, dipastikan komplek perumahan ini akan kembali menghangat. Sapu dan pengki akan kembali beradu dengan luwesnya, dengan iringan nada-nada harmonis bak sountrack film Hollywood, lalu para pembantu sudah tidak akan bergerombol-gerombol lagi di pojok satpam dan tentunya lingkungan ini menjadi lebih bersih dan asri, karena akan ada banyak kaum pencinta kehijauan yang tiba-tiba memiliki hobby baru bercocok tanam menghias pagar rumahnya dari luar ….

Ada beberapa perubahan dari Sus May yang kutangkap sejauh ingatanku tentangnya sebelum ia menghilang. Ia menjadi lebih ramping, pakaian yang ia kenakan sudah lebih fashion dibandingkan waktu itu dan ia sudah mempunyai pembantu rupanya. Setidaknya, ada kabar gembira untuk ibu Wandi, pemilik rumah besar di sudut portal, bahwa ia sudah tidak perlu khawatir lagi pembantunya dibajak.

Memang, sejak melihat Sus May kembali, aku menjadi semangat untuk memperhatikan rumah itu lebih seksama lagi. Aku bahkan membeli sebuah kursi yang cukup nyaman dan sebuah meja kecil untuk kuletakkan di balkon, untuk menemaniku bekerja sore-sore sambil berharap Sus May keluar rumah menikmati angin atau sekedar menanti kejutan-kejutan tak terduga…

***********

Siang itu setelah gerimis cukup lama, dan matahari mulai mengintip, ketika aku melihat pembantu Sus May tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar. Tak lama kemudian sebuah Honda CRV baru berwarna hitam melesat masuk dan menghilang dari balik pagar. Yah begitu saja, tanpa menyisakan sekelebat bayanganpun siapa pengendaranya, bahkan Sus May pun tak terlihat. Sedikit terheran-heran dengan tiga fakta bahwa mobil BMW butut itu sudah berganti Honda CRV hitam mengkilat, fakta kedua adalah jadwal suaminya berubah menjadi siang hari dan fakta terakhir adalah, pintu pagar Sus May sudah tidak berderit menyakitkan telinga lagi.

Tak lama kemudian, pembantu dan kedua anak Sus May keluar dari rumah dengan sebuah kereta bayi. Siang-siang walaupun tidak terlalu panas, bukanlah waktu yang tepat untuk mencari angin tentunya.

“Selalu begitu mas Anto.. Setiap mobilnya datang, anak-anak Sus May dan pembantu pasti disuruh keluar rumah, nanti baru kembali setelah mobilnya pergi. Mungkin biar tidak terganggu ya mas Anto.”
Mbok Tinuk berujar polos.

Aku menepuk punggung mbok Tinuk. Yah mungkin saja, fikirku.. Setidaknya keadaan menjadi banyak berubah sekarang. Kalau dulu suaminya selalu datang pada dini hari ketika semua orang telah tidur terlelap..

****************

“Aku berharap sekali, dia cepat-cepat pindah dari lingkungan ini…” Cetus bu Echi pedas, sepedas cabe rawit merah ngejreng yang baru saja dipetik dari pohonnya.

“Betul. Komplek perumahan kita bisa sial kalau dia masih betah tinggal disini. Malah sekarang suaminya 2 lho..”cetus ibu Endang, tetangga sebelah bu Echi. “Yang satu datangnya siang.. Yg lama datangnya malam.. Gak malu ya..”

“2 suami gimana? Emang ada yang baru lagi?” tanya bu Echi. Dua ibu yang lain berpandang-pandangan takjub.

“Duh bu Echi kemana aja? Yang lama kan mobilnya BMW tua hitam. Yang baru Honda CRV baru tuh.. Sepertinya hampir seumuran sama Sus May, sama-sama muda lah..” cetus bu Endang.

“Lho kok bisa tau? Emang yang baru kalau datang jam berapa? Kok aku gak ngeh ya…”tanya bu Echi keheranan.

“Kalau datang pasti siang-siang. Jam makan siang.. Kadang sore, tapi gak pernah malam. Kalau datang ya sebentar-sebentar. Paling lama juga 2-3 jam. Tapi Sus May lebih sering pergi sama yang baru kayaknya…”Bu Endang menjawab dengan seru.

“Aduh, kok bisa ya. Kemarin aja ribut-ribut didamprat istri pertama suaminya, eh sekarang cari masalah lagi dengan punya pacar baru. Lha kalau ketempuan gimana tuh? Hiyyyyy..” Bu Wandi mengkeret.

“Kayaknya nih pacar barunya Sus May ini lebih royal. Liat aja tuh penampilannya sekarang.. Rambut diwarnai, baju bagus-bagus.. Cuma mau duitnya kaliiii…”sahut ibu yang lain.

“Kasihan ya anak-anaknya.. Masih kecil-kecil udah hidup dalam keadaan yang seperti itu. Gak mikir apa nanti akibatnya untuk anak-anak itu?” Bu Echi mengomel.

“Yang penting duittttttttttt!”Jawab bu Endang sambil memainkkan jari jempol dan telunjuknya menggemaskan.

“Ya betul. Kalau yang satu pelit, jarang datang, ketahuan pula, apa yang bisa diandalkan. Mending punya lagi.. Mungkin itu yang difikirkannya.”

“Semoga cepat-cepat kena batunya.. Aku kepingin lihat tiga-tiganya ketempuan gak sengaja. Tontonan seru jengggg…” Obrolan pun semakin panas..

Demikian salah satu percakapan para ibu geng sapu lidi yang makin liar dengan penalaran dan pendapat pribadi mereka. Memang tak bisa disangkal, bahwa selama ini komplek perumahan kami selalu tenang tak bergejolak. Dan kehadiran Sus May dan fenomena nya seperti gelombang besar yang sanggup memporak porandakan kapal pelaut. Komplek perumahan kami pun bergolak lagi…

******************

“Mas Anto, ada sus May di bawah. Katanya mau minta tolong membetulkan kran. Sudah satu jam gak berhenti mengalir. Takut tagihan airnya jebol..”Mbok Tinuk mengetuk kamarku pelan.

Aku melompat dari ranjang. Kaget campur gembira.
“Awas ya mas Anto.. Jangan macem-macem lho.. Nanti bapak ibu datang ke Jakarta lagi, tak adukan lho…” Mbok Tinuk setengah mengancam. Aku menggodanya sebentar, lalu bergegas turun menemui Sus May yang sudah duduk di kursi kayu di beranda rumah.

“Eh kirain siapa. Sudah lama gak kelihatan. Ada yang bisa saya bantu, bu?” Aku mengamati wajah cantiknya. Masih muda, jangan-jangan lebih muda dariku beberapa tahun saja.

“Iya nih mas Anto. Saya bingung mau minta tolong pada siapa.. Keran rumah gak bisa dimatikan mas Anto. Sudah gak ada tempat nampung..” Uhhh cantiknya dia.. Kulitnya putih nyaris tak bercelah.. Matanya bulat…

“Ehem.. Mas.. Mas Anto..” panggilnya lagi..

“Ya sudah bu, saya lihat dulu saja kondisinya. Mudah-mudahan bisa diperbaiki. Tapi ya kalau harus diganti, ya kita ganti..” Aku harus SADAR!! Senyum perempuan ini membiusku dan oh no.. Dia cantik sekali!!!

“Panggil saya Maia saja mas Anto..”Demikian jelasnya.

Lalu aku menyeberang ke rumah Sus May, memeriksa keran dapurnya, melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Sus May mengucapkan terima kasih dengan lembut. Dari luar Ia seperti perempuan kebanyakan.

************

“Mas Anto, kok Sus May jadi sering ngirimin makanan sih? Di bawah ada talam singkong tuh. Ati-ati ya mas Anto. Gak usah deket-deket ah.” Mbok Tinuk mengkhawatirkanku.

“Ah cuma kirim talam singkong kan gak apa-apa ya mbok. Mungkin ucapan terima kasih karena kran nya sudah beres.” Ujarku.

“Nanti jadi bahan omongan.. Ini kalau nyonya besar tau, mbok pasti disalahin. Kemarin kirim soto ayam, kemarinnya lagi kirim puding. Kalau pingin makan apa-apa ya kasih tau mbok aja, nanti mbok buatkan..” Mbok Tinuk…. Mbok Tinuk …

Tinggal selangkah lagi jaraknya dengan keinginanku untuk mengenal perempuan misterius yang tinggal di depan rumahku itu dengan lebih baik. Sus May, perempuan kedua, dengan dua kekasih. Apa yang sesungguhnya ia cari?

Ditulis oleh: Ric Erica
Jakarta, 10 Maret 2011: 15.00PM

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

7 Comments to “Perempuan Kedua Chapter 2”

  1. xhax says:

    crv hitam????suatu kebetulan????

  2. iDon says:

    wah ceritanya lom selesaikan ?

    asyik nih klo lanjut sampe ke Anto dan sis Mai … wow selingkuh sana sini

    *tutupmata*

    • Erica Mascalova says:

      jadi nak diapoke si Sus May dan Anto ini? hehehe belum selesaiii. masih cak ado 3 buku lagi hahahahahaha

  3. iDon says:

    idak sabar aku nunggu jilid tigo…

  4. iDon says:

    spontan kak… nak aku pernah tinggal 5 bulan di Palembang… jilid tigo pake baso palembang idak masalah… hahahahahaha

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store