Fireworks In My Heart – Part 1

“Hai..” Sebuah kata singkat yang mampir di inbox facebookku, yang kemudian menggoyahkan hari. Akhirnya dia menyapaku juga. Dengan satu sentuhan klik, kubuka profilenya, hmmm… Handsome, tinggi, kulitnya coklat kemerah-merahan, kelihatannya mapan, siapa dia… dan sudah berapa lama bertengger di friendlist facebook ku ya? Ku cek personal info nya. Tidak banyak yang bisa kutemukan disana, kecuali tanggal lahirnya, alamat emailnya, ketertarikannya akan musik Andrea Bocelli, Eagles dan film action.Suka membaca, dan pekerjaannya berhubungan dengan advertising. Itu saja.

Begitulah caranya aku mengenal dia, hampir dua tahun yang lalu. Tiba-tiba dia sudah ada di friendlistku tanpa kusadari kapan, mengamati pergerakan statusku dari hari ke hari, dan “Hai…” Kelak menjadi sebuah awal perkenalanku dengannya yang tidak mungkin bisa aku lupakan, juga yang dengan mati-matian ingin aku hapuskan dari ingatan. Seperti sebuah lagu, “I blessed the day I found you” dan biar lengkap, lagu itu aku tambahkan dengan kalimat “I cursed the day I met you”. Dan hari itu, kedua mataku tidak pernah lepas dari sebuah layar kotak ajaib itu, memperhatikan profile nya, membuka-buka koleksi fotonya, untuk mencari tau siapa dia.

****************************

“Hai. Namaku Rangga. Lahir bulan Juli tahun 1972, pekerjaan wiraswasta, berkantor di Casablanca, dan maukah tuan putri yang cantik ini, menerima salam perkenalanku?” Demikian message nya kembali masuk dalam inboxku. Aku tersenyum, membiarkannya, namun berharap dengan sangat keras, dia mau mencoba beberapa kali lagi supaya aku punya alasan untuk membalasnya.

Sebuah inbox berikutnya masuk beberapa jam kemudian, “Hoping so much that I can talk to you.” Ditutup dengan sepuluh digit angka nomor telfon di bawahnya.Tiga hari kemudian, aku memberanikan diri membalas inboxnya, dan mencantumkan nomor telfonku disana.

Lalu, sejak itu, dia selalu menelfonku atau sekedar SMS, yang tanpa kusadari membuatku semakin dekat dengannya.6 bulan kemudian, aku memutuskan untuk menemuinya. Bukan tanpa alasan aku mau menemuinya. Selain sifat-sifat simpati nya, aku menemukan banyak hal yang membuatku nyaman bicara dengannya. Dan tidak salah kan, bila aku menemuinya? Aku belum terikat pada sebuah pernikahan, dan aku menemukan hal yang sama padanya.

**************************

Sudirman, 20 Juli 2008: 14.30PM

Profile nya tidak jauh berbeda dengan foto-fotonya yang selama ini aku pandangi dari balik layar notebook ku. Bahkan lebih baik. Senyumnya merekah ketika mendapati aku duduk di sebuah coffee shop di bilangan Sudirman.”Hai.. Terima kasih ya, kamu sudah mau datang menemui aku.” Dia menjabat tanganku hangat. Senyumnya begitu cerah.

“Nadya.” Begitu aku mengulurkan tangan menyambut jabatannya. “Apa kabar?” Aku mencoba menutupi kecanggunganku dengan suara yang kubuat seringan mungkin.

“Nad, mau minum apa? Aku pesankan ya.. ” Begitu dia menawarkan diri.

“Apa saja, asal jangan kopi ya.” Begitu jawabku. Berharap dia berlalu cepat, karena aku kewalahan menata detak jantungku yang begitu cepat.

“Yah aku tau, kamu tidak pernah suka kopi. Frappuchino coklat, mau?” Matanya menatapku lekat-lekat. Dan kuanggukkan kepalaku.

Dua buah frappuchino coklat tak lama kemudian dia bawakan untuk kami. Kami berbincang-bincang lucu, hangat, seolah-olah sahabat lama yang sudah belasan tahun tidak bertemu. Aku suka caranya menatapku, aku suka caranya bicara padaku, senyumnya, caranya memperhatikanku.

Tak terasa, waktu 2 jam kami lewatkan dengan perbincangan-perbincangan lucu, dan disudahi dengan kalimatnya “Nad, ini bukan pertemuan kita yang pertama dan terakhir kan? Aku ingin, masih ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Aku harap, kamu mau.”

Dan setelah pertemuan itu, masih ada banyak pertemuan-pertemuan lagi. Dan semua berjalan dengan baik, dan tanpa kusadari, aku telah mengizinkan perasaanku tersemat kepadanya. Aku berfikir, tidak perlu banyak kata untuk dinyatakan, namun dari perhatiannya, sikapnya, caranya memperlakukan aku, dari setiap usahanya untuk meluangkan waktu untukku, aku percaya kepada siapa rasa itu kutitipkan.

Hingga, tiba-tiba di suatu hari, pada minggu pertama bulan September 2009,……………..

“Halo, bisa bicara dengan Nadya Winata?” Suara seorang perempuan diujung sana.

“Betul. Dengan siapa saya bicara?”tanyaku pelan.

“Saya, Andrea. Istrinya Rangga. Saya minta maaf, harus menelfon mbak Nadya, namun saya tidak punya pilihan mbak. Saya minta mbak Nadya berhenti menemui suami saya. Saya mohon mbak. Mas Rangga sudah berkeluarga, anak-anak kami masih kecil-kecil. Dan sejak mas Rangga kenal dengan mbak Nadya, mas Rngga menjadi sudah tidak perduli lagi kepada kami. Maaf mbak Nadya, kalau saya lancang.” suara perempuan itu lirih, mencoba menjaga emosinya.

Aku tertegun. Telfon Andrea sore itu, seolah-olah menjawab beberapa tanda tanya dalam benakku. Sudah 5 hari, Rangga menghilang. Profile nya sudah tidak kutemukan lagi di friendlist Facebook ku, puluhan kali kucoba menghubungi namun tidak pernah tersambung, SMS tidak pernah terbalas.

“Andrea.. Mungkin Andrea salah orang? Saya dan Rangga hanya teman biasa, tidak ada yang istimewa. Dan saya tidak mengerti, mengapa Andrea tiba-tiba menelfon saya. Boleh saya menelfon Andrea sehabis jam kerja?” Aku mencoba mengatur nada bicaraku sebaik mungkin. Aku memang berbohong padanya dan mengingkari perasaanku sendiri. Suasana di kantor cukup ramai, dan aku tak mau persoalan pribadiku menjadi bahan pembicaraan dari sekat-sekat kantor.

“Baik mbak Nadya. Saya minta maaf sekali lagi. Tapi saya mohon, mbak Nadya mau membantu saya, dengan melepaskan Rangga. Saya tunggu telfon mbak Nadya.” kata Andrea sebelum menutup telfonnya.

Sore itu, menjadi sore yang paling tidak nyaman untukku. 14 bulan mengenal Rangga dengan baik, baru sekali ini aku tiba-tiba merasakan kebencian yang menusuk kepadanya. Aku tidak mengerti, mengapa Rangga melakukan itu kepadaku dan Andrea. Lalu, aku pelan-pelan menyesali perkenalanku dengan Rangga. Beberapa kali aku mencoba menghubungi Rangga, namun tidak pernah tersambungkan. Kutitipkan sebuah pesan di emailnya, “Kita harus bicara. Penting.” Namun, sepertinya email itu tidak pernah dibacanya.

Sepulang kantor, aku memutuskan untuk menelfon Andrea, entah karena kasihan atau ingin tau duduk permasalahan yang sebenarnya, aku menemui Andrea di sebuah cafe di bilangan Senayan.

Andrea, terlihat cantik, lembut dengan balutan terusan putih dengan sedikit bunga-bunga hijau tosca. Ia hampir sebaya denganku, tutur katanya santun, dan mungkin itulah yang membuatku bersimpati dan mau menemuinya. Aku lebih banyak mendengarkan dengan empati. Andrea, perempuan sederhana itu, bukanlah perempuan kebanyakan. Ia bisa saja, menelfon dan memaki atau melayangkan puluhan SMS bernada tajam kepadaku, namun itu tidak dilakukannya. Aku pasti akan lebih menyukai Andrea, kalau saja dia bukan istri Rangga.

“Bukan sekali dua kali ini hal seperti ini dilakukan oleh mas Rangga mbak. Sebelum bertemu dengan mbak Nadya, mas Rangga pernah menjalin hubungan dengan beberapa nama, bahkan ketika aku hamil Safira, putri pertama kami, dan ketika aku hamil Safa, putra kami. Kalau bukan demi anak-anak kami mbak, mungkin sudah aku tinggalkan dia.” demikian Andrea menjelaskan. Rasa sesak menghimpitku seketika apalagi ketika Andrea mengeluarkan beberapa lembar puisi yang memang pernah aku tuliskan untuk Rangga juga beberapa lembar foto keluarga mereka. Rangga yang kukenal baik, kharismatik dan lembut itu, tidak lebih dari seorang pembohong besar. Ia tidak saja mengingkari statusnya, namun juga keluarganya sendiri.

“Tanpa sepengetahuan mas Rangga, aku membuka hp. inbox facebook nya dan emailnya, penuh dengan kata-kata mesranya kepada mbak Nadya. Aku merasa yakin, kali ini mas Rangga benar-benar jatuh cinta pada mbak Nadya. Aku juga membaca banyak tulisan-tulisan mbak Nadya untuk dia. Dari sana, aku berkesimpulan bahwa mbak Nadya seorang yang berperasaan halus dan peka, sehingga aku memberanikan diri untuk menghubungi mbak Nadya dan membicarakan masalah kami.”

Aku menarik nafas, menatap Andrea lembut, dan menyentuh tangannya.”Andrea, aku mengerti perasaanmu, namun yakinlah, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku tidak akan mengganggu rumah tangga kalian. Sekarang kamu pulang, dan tidak usah kamu ceritakan tentang pertemuan kita, cukup menjadi rahasia kita berdua.”Sulit sekali bagiku mengeluarkan kata-kata itu, karena aku sangat mencintai Rangga.

*************************

Setelah hari itu, aku mencoba melupakan Rangga. Menyingkirkan semua kado pemberiannya, juga jam tangan berwarna putih yang setia melingkari pergelangan tanganku selama ini. Facebook ku ku set private, no HP aku ganti pelan-pelan, email dan messengerku kubersihkan dari unsur-unsur yang mengingatkanku padanya. Aku sudah tidak mau mengenalnya lagi.

Empat bulan lamanya aku berhasil menata hatiku. Memang selama ini kesalahanku juga. Aku tidak pernah berusaha keras mencari tahu siapa Rangga. Aku hanya terpukau pada penampilan luarnya, profile FBnya yang bersih dari foto anak kecil atau foto keluarga. Rangga tidak saja berhasil menghancurkan hati, namun juga membuatku benci setengah mati kepadanya.

Aku hampir saja berhasil melupakannya, kalau saja aku tidak bertemu dengan Rangga dan Andrea serta kedua anaknya yang manis, di sebuah pesta pernikahan sahabat lamaku. Andrea melambaikan tangannya kepadaku, sementara Rangga terlihat tidak perduli atau pura-pura tidak mengenalku.. Entahlah. Namun, rasanya seperti sebuah bola yang berat menimpa kepalaku. Andrea mendekatiku, memperkenalkan Safira dan Safa, sementara Rangga menghilang entah kemana.

Pertemuan tak sengaja yang hanya beberapa menit itu, menjungkirbalikkan aku kepada kenyataan bahwa, memang aku telah menjadi korban perasaan yang salah. Tak lama aku meninggalkan pesta itu, dan sepanjang perjalanan aku tak berhenti menangis. Yah, sekali itu, aku menangis. Menangis untuk cintaku kepada Rangga yang ternyata tidak pupus juga. Menyedihkan.

To Be Continued,

Ric, Erica

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

4 Comments to “Fireworks In My Heart – Part 1”

  1. T. Verina says:

    wah…aq punya banyak tulisan n love writing so much ;) setiap kenalan di FB, YM, tagged apa aja selalu aq kirim email panjang2 walau mereka cuma nanya hai..rasanya tersiksa banget liat org balas sms cuma “ok” haha apapun yg bisa dipakai menulis seharusnya ditulis dan diisi dg sesuatu yg bermanfaat n informatif hehe tp aq gak penah seberani mb Erica utk menulis dan dibaca banyak orang….mungkin mulai besok aq bikin blog….thks ya mb Erica, you inspring me today!! Gbu abundantly!

  2. Erica Mascalova says:

    dear Verina, seneng banget lho aku, kamu mau mampir dan meninggalkan jejak disini.. wowww… Btw, jangan lupa baca chapter 2 nya, hanya 2 chapter langsung tuntas. Menulis itu susah susah gampang. Yang penting pede ketika menulis. Dan libatkan emosimu disana. Sehingga, ketika orang membaca, mereka juga bisa merasakan dan terbawa dalam “emosi” mu. Ayo, menulislah, gunakan media yang kau punya. FB, Tagged, adalah media yang cukup baik untuk mematangkan kemampuan. Kalau sudah banyak, buatlah blog, dan menulislah disana. Nanti aku di undang ya di blog mu.. Pasti dengan senang hati aku datang dan meninggalkan jejak disana.. Thank you so much Verina.. Hv a great day.. GBU

  3. iDon says:

    keren ceritanya… tapi pernah kejadian ama temen ku…
    dari segi tingkah laku cowok bandel seperti itulah… karena teman saya pernah mengalami cerita ceperti itu dan curhat kepada saya

    liat cerita yang kedua ah…

    • Erica Mascalova says:

      @Idon, wahhhhhhhhhhhhhhhhhh kisah hidupnya nyontek fiksikuuuuuuuu nihhhhhhhhhhhh.. SUE ahhh .. hahhahahaha

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store