Antara Jakarta dan Taipei 2 : Pertemuan Pertama

 

Patricia tidak jauh berbeda dari foto-foto profilenya yang selalu penuh senyum. Matured, ramah dan menarik tentu saja.

“Hai Sam.. Sudah lama menunggu?” Sapanya ramah, mengulurkan tangannya dengan hangat.

Sam menyambut Patricia dengan senyum tipis. Rasa tak percaya menyergap, bahwa ia tiba juga pada suatu kesempatan, dimana Patricia berdiri tepat di hadapannya, yah Patricia, perempuan yang selama ini hanya bisa ia amati dari ponsel I phone nya. Perempuan yang selama ini menemani malam-malamnya lewat kalimat-kalimat lembut yang terketik dari whatsapp mereka.

Sam sudah tak ingat lagi telah berapa lama ia menginginkan pertemuan ini. Berminggu-minggu ia membayangkan perempuan itu, tutur katanya, tatap matanya, senyumnya, dan sekarang, Patricia ada di depan mata.

Patricia, here I am…” Sam menerima uluran tangan Patricia. Jantungnya berdetak cepat. Senyum Patricia seperti menghipnotisnya beberapa saat.

Cafe itu begitu sepi. Hanya satu atau dua pelayan saja yang lalu lalang, Lagu “Bridge over Troubled Water” mengalun sangat lembut.

“How was your filight?” Patricia berinisiatif membuka percakapan. Samuel begitu pendiam sedari tadi. Hanya sekali-kali tersenyum dan menatapnya lekat-lekat namun tak satupun kata-kata meluncur dari bibirnya.

Lagi-lagi Samuel hanya tersenyum tipis, melipat tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Diraihnya ponselnya. Ia terlihat mengetik sesuatu.

Patricia tersenyum mendengar notifikasi SMS nya berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk “You look great today, dear. I miss you so much..” Ia tertawa kecil “Saaaammm.. You’ve been travelling so far, just to text me this?”

Patricia sangat tau, Samuel sedang sibuk menundukkan perasaannya yang bergemuruh.
“I miss you too, Sam” begitu ia membalas pesan itu.

Sam menghela nafasnya lega. Diraihnya jari Patricia lembut, namun tetap saja tak ada satu katapun yang bisa ia ucapkan “Sudah lama saya menunggu saat ini Patricia hingga saya sulit berkata-kata karenanya.” Hanya dalam hati.

Patricia tertawa kecil, mata bundarnya berkilat-kilat jenaka. Samuel pun tidak banyak berbeda dengan foto yang selalu ia amati akhir-akhir ini. Bahkan lebih menawan, lebih menarik lagi. Kulit coklat kemerah-merahan, sorot mata yang ramah berbinar-binar cerdas, dibingkai dengan rahang yang kokoh dan sepasang lesung pipi menukik dalam.

Sore itu adalah pertemuan pertama Sam dan Patricia. Ditingkahi oleh senyum dan tawa, pertemuan siang itu menjadi pertemuan yang manis buat Sam. Laki-laki tenang dan datar itu, dan pandai menyembunyikan perasaannya itu, sangat menikmati setiap menit yang dilaluinya dengan Patricia.

“Sam, tidak ada rencana pulang ke tanah air for good?” Patricia bertanya dengan pelan.

“Saya belum punya rencana apa-apa, Patricia. Masih banyak rencana yang harus saya lakukan di Taipei. Entah sampai kapan saya disana..” Samuel menjawab berhati-hati. Ia sangat menyukai perempuan itu.

“Tidakkah kau rindu pada tanah air, keluarga,sahabat lama dan ………”

“Pasti ada kerinduan itu Patricia. Apalagi .. Hmm… Yah, memang akhir-akhir ini saya rindu Indonesia.”

Tentu Patricia mengerti kalimat-kalimat itu. Samuel memang berbeda. Ia tidak seperti laki-laki kebanyakan. Sikapnya sangat santun, berhati-hati. Tutur katanya pun tertata rapi. Dan ia sedikit pemalu. Sam, laki-laki yang begitu dekat dengannya berminggu-minggu terakhir, sudah tak lagi jauh. Antara Jakarta dan Taipei, hanya sekedip mata saja jaraknya.

Musik lembut “Close To You” dari The Carpenter, mengalun jazzy dan menularkan atmosfir tenang di sudut cafe itu. Patricia dan Sam, tak pernah menduga akan saling menemukan satu sama lain. Berawal dari perkenalan dan persahabatan yang sangat biasa, yang kemudian membawa mereka pada satu kekaguman dan kekaguman yang lain, yang kelak mengantarkan mereka pada sebuah perasaan yang tak biasa yang tak hanya dapat dirangkaikan dengan kata-kata.

Tiga jam berjalan begitu cepat. Mereka pun berpisah di penghujung hari dengan perasaan masing-masing. Membawa pulang rasa yang semakin menguat, tentu saja.. Dan setelah pertemuan itu, tentu akan ada beberapa pertemuan lagi sampai Samuel kembali ke Taipei.

***************

Pesan singkat diterimanya, jam 10.00 malam tepat. “Boleh saya menelfonmu? Namun, dengarkan saja.. Hanya dengarkan saja..”

Lalu sebuah panggilan telfon masuk beberapa detik kemudian. Lagu “Wonderful Tonight” mengalun dengan sangat lembut di ujung sana, dimainkan begitu indah dari tuts tuts piano yang didentingkan. Dimainkan dengan segenap rasa sepertinya. Damai menyentuh hati. Dan Patricia tersenyum. Senyumnya yang paling manis, untuk Samuel.

Ditulis dengan hati oleh Ric Erica
Jakarta, 8 November 2012: 13.45PM
Pada sebuah sore yang hangat diantara November yang dingin.

 

Baca juga : Antara Jakarta dan Taipei Chapter 1 : Kasmaran
http://ericamascalova.com/message-in-a-bottle/antara-jakarta-dan-taipei1/

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

4 Comments to “Antara Jakarta dan Taipei 2 : Pertemuan Pertama”

  1. Grace says:

    Akhirnya muncul juga lanjutan Jakarta – Taipei nya. Sip Ric.. kayak biasa.. KERENNNN!!!

  2. Very S says:

    Cerita yang bagus, Erica …

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store