Unbelievable, Unforgettable

Perjalanan liburan kami di bulan September 2010, mungkin akan menjadi catatan tersendiri untuk keluarga kami. Bahkan kelak menjadi satu bab khusus yang tidak akan pernah terjadi lagi sepanjang sejarah hidup kami.

Selama 14 hari berlibur bersama 5 keluarga yang lain, yang baru saja kami kenal, tidak sulit untuk kami saling beradaptasi. Selalu bersama-sama dalam susah dan senang, membuat kami menjadi dekat satu sama lain.

Kekompakan kami mulai terlihat ketika masalah demi masalah kami hadapi. Dari local tour guide yang gak beres, dari tour leader yang ternyata jam terbangnya gak memadai, sehingga kendala demi kendala mengharuskan kami duduk bersama, bertukar fikiran, untuk menyelesaikannya satu demi satu. Sungguh, 13 hari yang panjang, yang menggerus karakter dan kekompakan kami. Sangat sangat berarti untuk keluargaku. Karena di saat itu, kami benar-benar mencurahkan waktu dan perhatian untuk kebersamaan kami di trip itu.

Trip ke China, dipilih akhirnya karena situasi dan lain hal yang tidak memungkinkan, diubah 10 hari sebelum kami berangkat, karena seharusnya kami berangkat ke Amerika tanggal 7 September sampai 27 September 2010. Tidak punya pilihan, satu-satunya travel yang memungkinkan kami berangkat ke China adalah Tar* Tour. Setelah bertanya ke teman-teman, track record Tar* Tour cukup baik, akhirnya kami memutuskan untuk Ya, join Tar* Tour ke China.

Tidak pernah kami sangka, bahwa perjalanan kami kali ini, tidaklah semulus yang kami harapkan. Bagaimana tidak? Dari hari pertama, masalah sudah datang. Tour leader dari Indonesia, ternyata tidak sepandai, sesigap dan se profesional yang kami harapkan. Bayangkan, di bego-begoin tour guide local aja diemmm aja. Gemes kan?

Tapi memang bukan rahasia lagi, kalau tour guide China jarang ada yang lurus. Aku dan keluargaku pernah mengalami bagaimana tour guide China (pada perjalanan kami kesana tahun 2007) berusaha membodoh-bodohi kami, orang Indonesia. Sejak saat itu, aku dan suami sudah memasang taring-taring tajam kalau saja ada celah-celah yang dipakai mereka untuk menipu lagi.

Di hari pertama sampai hari ke lima, lelah rasanya complain. Yah soal makanan, yah soal servis, masa bayar VVIP dapatnya kelas festival??? Suamiku kerap mengeluh, “coba kalau kita jadi ke Amerika ya. Pasti gak begini”. Atau Nate yang bilang “Mommy, Tour Leader kita itu sebenarnya leader atau peserta trip sih?” Arghhh.. Menjengkelkan sekali. Luggages kita urus sendiri, seat arrangement kacau. Aku dimana, Nate dimana, suami dimana. Sementara Tour Leadernya asikkk ngobrol sama tetangganya. Aduh kalau diceritain satu-satu bisa naik darah. Sumpah.. Secara, kami terbiasa tau beres bila ikut tour. Tour Leader-tour leader yang kami kenal bekerja dengan sangat baik. Semua masalah dapat diantisipasi dan diselesaikan dengan baik. Sementara tour leader yang ini???? Aukkk ahhh gelapppp!! Kelak, aku yang lebih banyak bicara kepada peserta, Tour Leader dan Tour guide local.

Di hari ke 4, ketika kami baru mulai enjoy dengan perjalanan itu, (karena seperti Tour Leader kami mulai menangkap apa yang kami harapkan), dimana komunikasi berjalan dengan baik, hubungan antara peserta trip semakin dekat, servis sudah mulai meningkat, ehhhhhhh masalah besar datang.. Sepasang suami istri tiba-tiba bertengkar hebat. Waktu itu kami sedang menikmati pemandangan The Bund yang indah di Shanghai. Suasana langsung tidak enak. Mereka saling memaki-maki sepanjang jalan, bahkan ketika kami harus kembali ke bus untuk pergi berbelanja ke Nanjing Road.

Akhirnya, Tour Leader menengahi, suaminya didekati, sementara kami para peserta wanita mendekati pihak istri supaya sama-sama tenang. Ternyata tidak sampai disitu, si suami terlihat tidak senang dengan perlakuan istrinya yang tidak berhenti melawan. Duhhhh… Aku sampai gemes, kenapa gak diem aja sih wanita ini? Beressss. Ini malah makin jadi karena wanita itu gak mau tenang. Sibuk membela diri dan memojok-mojokkan suaminya di depan kami. Tentu harga diri si suami makin terluka.

Alhasil, malam yang harusnya diisi dengan canda tawa, berubah menjadi malam yang sangat mencekam. Si suami MENGAMUK. Tidak kepalang, waktu kami turun untuk berbelanja di Nanjing, dia membeli 15 botol bir dan meminumnya sekaligus di bis. Pulang-pulang ke bis, dia pun bersikap seperti Teroris, minus senjata api! Bagaimana rasanya? Takut yang amat sangat! Anak-anak menjerit dan menangis ketakutan (ada 3 anak kecil sebaya Nate, dan 1 anak kecil berumur 5 tahun). Kami para wanita dag dig dug, takut anak-anak jadi sasaran. Aku sampai berbisik ke suamiku, “Kalau orang itu berani menyentuhku daddy, aku boleh berteriak?” Suamiku mengangguk, “ya jangan diam saja. Teriak  kalau dia berani menyentuhmu. Nanti yang laki-laki yang membereskan.” Saat itu yang ada dalam fikiranku, orang ini tidak bisa dibiarkan saja semena-mena mengamuk, karena dia gak punya HAK untuk itu.

Dalam mabuknya, dia meracau “Gue bubarin trip ini!” Astagaaaaaaa! Emang kita gratisan ikut trip ini? Emang cuma dia doang yang bayar?. “Gue bakar bus ini!”, atau “Gue bunuh ini sopir kalau ada yang berani ngelawan gue!” Duhh si supir salah apa? Elu yang berantem berdua, kok supir yang dibunuh? Benar-benar sudah gila! Dan yang lebih menggemaskannya dia bilang, “anak-anak di bus ini bisa gue tusuk, kalau loe orang belain bini gue” Astagaaaa plis dehhh, siapa eloeee? Bwehhhhh kami-kami semua panasssss… Para suami dan anak muda sudah berdiri dan mendekatinya, untung para istri menarik lengan suami-suami untuk duduk kembali.

Tapi, karena ini orang sudah bermata gelap, mulutnya bau alkohol, aku melepaskan anak-anak dari bangku tengah, untuk berlindung di bagian belakang, dan para ibu pindah ke belakang memegang anak-anak itu. Sementara kaum bapak-bapak maju ke kursi tengah untuk menghalaunya. Tangan suamiku sampai hari ini masih biru lebam ketika berusaha menangkis pukulannya yang diarahkan ke Tour Leader kami.

Persoalannya sepele. Suami marah istrinya pergi ke toilet tanpa izin. Astagaaaaaaaaa…. Yah cuma itu pemicunya. Salahnya, si istri menyiram bensin, dan api menyala besar. Rasanya kita-kita kaum ibu juga menyesalkan sikap istrinya yang tidak menjaga perasaan suami. Bilang aja sorry, usap punggungnya, beres kannnnn… Kenapa harus dilawan dengan kata-kata yang pedas, di depan kita-kita lagi?

Malam itu berlalu sangat lambat. Sopir diancam dengan pisau lipat, bus sempet berhenti 2 jam. Jadi sandera, di negara orang, oleh rekan sendiri, sebangsa setanah air, peserta trip juga. Ayoooo… Ada yang pernah mengalami???????

Akhirnya setelah emosi si suami mereda, bus pun berjalan kembali menuju hotel. Kami menginap di Courtyard Marriott Shanghai Puxi. Di hotel pun berlanjut. ckckckck.. Selain berteriak-teriak mau membakar hotel, duh dia kira bisa gitu? Hotel sekelas Mariott kl bisa dibakar mah jempolll…  pasti didukung, biar masuk daftar teroris, ciduk aja sekalian.. biar sekali-kali merasakan bagaimana dinginnya penjara china.. hihi..terus meracau lagi mau lompat bunuh diri.. hihihiih kita-kita senyum-senyum aja mendengar bualan kampungannya itu.. Paling juga takut..  Dan.. hampir saja passport kami-kami dirampasnya dari tangan Tour Leader, untung sigap, satu kantong passport dilempar ke salah satu teman dan langsung cepat-cepat dititipkan ke pihak hotel. Apa jadinya kalau jatuh ke tangan orang itu??

Dengan dalih Nate sedang ketakutan, akhirnya kami lebih dulu mendapat kunci kamar, gak fikir panjang, langsung kabur.. aih kasihan yang kebagian paling terakhir..

Rencananya keesokan harinya, kami akan mengikuti Shanghai World Expo seharian penuh. Dengan perasaan ketar ketir, kami semalaman tidak bisa memejamkan mata. Tidak siap membayangkan apa yang akan terjadi besok hari. Yang kami tahu, suami istri itu dibukakan kamar yang berbeda. Untuk meredakan emosi. Dan apapun yang akan terjadi besok, kami tetap menjalani trip sesuai jadwal.

Keesokan harinya, semua berjalan normal. Si suami tidak menampakkan batang hidungnya bahkan di coffee shop tempat breakfast, sementara si istri tetap ikut trip seperti biasa. Kami, peserta wanita, memilih tidak mau ikut campur dan tidak mau bertanya. Pura-pura tidak tau apa-apa akan jauh lebih baik. Daripada ketempuan amarah yang salah alamat kan?

Sepulangnya dari Shanghai World Expo dan makan malam sudah jam 10 malam, dan esok harinya pagi-pagi sekali kami akan terbang ke Xi An. Akhirnya meeting mendadak di kamar salah satu peserta diadakan, setelah sepasang suami istri yang naasnya berkamar di seberang kamar si suami yang mengamuk, diancam dengan pisau. Bweeehhh, bak detektif ulung, kami berinisiatif bergerilya mengevakuasi oom dan tante Solo (demikian kami menyebutnya). Pihak security hotel sampai terlibat, secara pintu kamar oom dan tante penuh dengan goresan pisaunya. Parah ya? Brrrhhh.. Udah tindakan anarkis ini.

Setelah oom dan tante pindah kamar, kami meeting sampai jam 2 pagi. Mengantisipasi dan voting, bagaimana perjalanan esok hari. Suara bulat, kami akan pergi ke Xi An tanpa suami istri pembuat onar itu. Semua langkah disusun. Berikut pagi-pagi buta menyelundupkan luggages ke bus, dan early check out, juga mengirim belasan botol bir ke depan kamarnya supaya doi fly fly flyyyyyyyyy awayyyyyyyy… Jadi besok tinggal naik bus dan bye byeeeeee… Tidur dengan tenang, karena yakin semua bekerja sesuai dengan rencana.

Besoknya, pagi-pagi jam 4 cepat bangun, mandi, anak-anak siap. Jam 5 mengendap-endap di lobby, langsung menuju ke parkiran bus. Tetttt tottttttt… Astagaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Doi dengan wajah sangarnya berdiri bertolak pinggang di lobby lengkap dengan luggages nya dan si istri menyempil tanpa dosa di tangan kanannya. Ckckckckckckckck.  Udah baikan mereka… Jadi semua rencana ituuuuuuuu????? Lahhhhhh jadi kita meeting sampai jam 2 pagi ituuuuuuuuuuuuu???? Capeeeee duehhhhhh!!!! Tour leader pucat seperti melihat hantu. Hatiku bergemuruh tidak karuan, antara takut Nate kena sasaran, dan marah gak terima. Wajah suamiku sudah tegang menahan emosi. Demikian teman-teman yang lain. Dek-dek annnnn bener deh. Rasanya gak bisa kutuliskan dengan kata-kata. Sampai gak nafsu makan, dan langsung sakit kepala, mual dan ulu hati tak enak, kepalaku berat. Sepertinya, aku depresi serius.  Sampai pulang ke Indo pun, aku jadi susah tidur. “Siapa yang berani larang gue berangkat ke Xi An? Siapa????????” Suaranya menggelegar, memancing perhatian orang. Duh preman bener tuh orang..

Semua diam, para wanita diantar duluan naik ke bus, dengan anak-anak dan mengambil tempat duduk paling depan. Just in case kenapa-napa, kita keluar duluan. Tour Leader melobby dia, sementara kita meeting lagi di bus. Ckckckkckc.. Meeting meluluuuu… Hahahaha.. Sekarang udah bisa ketawa.. Waktu kejadian???? Bwehhhhh… Pucetttttttttt!!!

Akhirnya, diputuskan, dia boleh naik, tapi kalau macam-macam, sopir siap mengarahkan bus nya ke kantor polisi, dan para pria mengepung dia dan mengikatnya di kursi belakang, dan bubuhkan satu botol bedak gatal ke punggungnya, 5 ekor cicak dan satu ekor tarantula .. ah nikmatnya pembalasaaannnn …. *ah sayang hanya ilusi..

Setelah masuk bus, dia sempat menunjuk wajahku “Loe pasti yang mempengaruhi orang-orang untuk gak bolehin gue ke Xi An. Loe kan juru bicara disini!!! Bwehhhhhhhh.. Ge er amat nih orang. Bagaimana rasanya? Kesel, panas, marah, takut, depresi campur aduk. Suamiku mendekat. Dia menjauh.

Di bus jam 5.30 pagi menuju airport Shanghai, semua tegang, Anak-anak apalagi. Pada telungkup di punggung kursi. Menyedihkan! Nate kupegang erat-erat. Orang gila itu bisa melakukan apa saja dalam kondisi mabuk dan emosi. Jangan sampai kena sia-sia. Begitu fikirku. Ahhh, andai saja tidak ada anak-anak dalam trip itu, akan lebih mudah buat kami membereskan perkara itu. Seperti kata salah seorang peserta, “gampang… Pancing aja dia berbuat onar, biar emosinya keluar, biar sekalian polisi shanghai menciduknya. Syukur-syukur di penjara! Aman kitaaaa” atau ‘jejalin aja sama bir yang banyak.. jadi gak sempet seger, heyaaa jejalin lagi..” Hihihihihihi… Langsung disambut dengan tertawa gemuruh.

Singkat kata, dia bersikap baik selama di Xi An sampai di akhir trip kami. Dia melobby kami, dengan harapan bisa mencairkan kebekuan suasana. Sayang, kita semua sudah terlanjur tawar hati. Bahkan kompakan sama Tour Leader, untuk meletakkan dia di kamar hotel yang jauhhhh dari kami. Di pesawatpun, kami di depan, dia di belakangggg berdua. Hihihihihi… Bahkan di tempat wisata pun, gak ada yang mau dekat-dekat sama dia. Ya iyalahhhh…

Trip berlalu dengan aman, karena ternyata dia sudah berbaikan dan mesra lagi dengan istrinya. Sampai berakhir trip, tidak pernah ada kata “MAAF” terucap. Atau setidaknya pernyataan atau apalah. Kami terheran-heran. Ada ya orang kayak begitu. Baik suami atau istri kok gak punya sedikitpun rasa bersalah atau sungkan. Semua diperlakukan seolah-olah hanya mimpi buruk dimana begitu terbangun, semua terlupakan begitu saja.

Hikmah dari perjalanan ini, kami jadi memiliki sebuah keluarga besar baru yang solid. Bahkan setelah ini, kami merencanakan untuk trip lagi bersama-sama satu rombongan, tentu minus Mr dan Mrs. Trouble Maker. Pasca kepulangan kami ke tanah air, kami bertukar nomor hp, email dan alamat rumah. Yah, perjalanan kali ini, sungguh lengkap. Ada manis, ada kesel, ada pahit bahkan ada aksi terorisme lagi. Hihihi…

Pengalaman ini tak mungkin hilang dari ingatan kami. Dengan satu kata kunci “China”, semua memory itu akan terbangkit kembali. Dan begitulah, cara kami mengingat satu sama lain, dan mengikat persaudaraan dan persahabatan kami, sesama peserta Grand China Trip 5 – 19 September 2010.

Ditulis oleh : Ric Erica

Jakarta, 20 September 2010: 21.15PM

 

dengan anak-anak manis itu, kasihan sempat stress di bus..

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

1 Comment to “Unbelievable, Unforgettable”

  1. liyana lestari says:

    wow…….like movie….but it’s real…..ternyata ada ya kejadian nyata seeprti itu…

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store