Teman Semusim

Sudah lama gak ada khabarnya, suatu hari dia menelfon. Katanya, dapat nomor telfon dari papa.
Setelah berbasa-basi cukup panjang, rupanya.. lagi butuh uang. Kebetulan saya bisa, lagi punya, ya……
Tidak mengharap balasan apa-apa, yang penting keadaannya membaik, ya sudah senang saya.
Lalu dia menghilang. Gak ada sms, telfon, atau sekedar say hello di media sosial.

Sekian lama sekian bulan, eh dia datang lagi. Kali ini hanya SMS. Cukup panjang. Katanya, anaknya masuk rumah sakit. Demam berdarah. Saya juga punya anak, pernah demam berdarah juga. Dan saya mengerti betapa berbahayanya jika telat ditolong. Ia menawarkan untuk mengembalikan, tapi ah sudahlah. Kalau mau membantu ya bantu sajalah. Jangan ada syarat, jangan hitung-hitungan.

Lalu dia menghilang. Apakah anaknya sembuh, apakah sudah pulang dari rumah sakit, saya gak pernah dengar khabarnya.
Hari-hari berlalu, saya sibuk menulis, dan mungkin dia juga sibuk bergelut dengan hidup.

Saya ada disini, dia juga ada disini. Saling melihat, dalam kebisuan.

Suatu hari dia datang lagi. Kali ini SMSnya lebih pendek. Anaknya tidak bisa ujian karena menunggak sekian lama. SMSnya saya diamkan saja. Dan dia pun berlalu.

Beberapa bulan kemudian, dia datang lagi. Ia perlu berobat karena sakit kepalanya tak kunjung sembuh. Di SMS itu dia meratapi keadaannya. Saya melongok profile fb nya. Tiap hari dia ada. Aktif. Malah sibuk berkicau disana sini.
Saya ada disini, dia juga ada disini, tapi saling membisu.
Saya katakan padanya, saya gak bisa membantunya. Dan dia hilang lagi.

Dua minggu yang lalu, ya dia datang lagi. Dia SMS perlu uang untuk bayar SPP dan uang bimbel anaknya dan beberapa keperluan lain.

Saya terdiam.
Merenung.
Enggan saya menjawabnya.
Bosan punya teman musiman.
Yang hanya datang jika ia membutuhkan..
Yang hanya ada ketika kita punya..
Tapi tak pernah saya dapati hadirnya disaat-saat tertentu.
Natal, tahun baru, paskah, ulang tahun, hari ibu, thanksgiving, dan moment moment spesial lainnya berlalu saja.

Bukankah teman yang fisiknya nyata di depan mata lah yang harus lebih dihargai..
Yang sehari-hari ada di sekitar kita, tak pernah kehabisan bahan bicara..
Bicara tentang apa saja,
Selalu saling menyapa,
Dan tak pernah membicarakan siapa yang lebih penting dari siapa,
karena kita sama pentingnya.

Teman Semusim, tunggu ya..

 

Ric Erica
Jakarta, 5 Juni 2014 : 11.08

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store