Sungguh Ironis

Anak-anak itu masih berpakaian seragam putih biru ketika berkelompok mengendarai motor. Tangan kanan pada stang, tangan kiri memegang rokok sambil sesekali mengepulkan asap rokok dari wajah-wajah belia.
Sesekali motor-motor itu berjalan zig zag menyusup di antara kepadatan jalan raya.Teriakan riuh penuh canda menghambur dari pemilik tubuh-tubuh kurus tanpa pelindung kepala.

Wow! Mengagumkan! Hebat! Keren! Berani! Mungkin decak dan tatapan kagum yang diharapkan datang dari pengguna jalan lainnya.

Aku hanya bisa bergumam dalam hati. Aku baru saja melihat pemandangan yang sangat bertolak belakang. Di saat anak-anak itu menghabiskan waktu ngebut-ngebutan di jalan dan kumpul-kumpul gak ada juntrungan, sementara sebagian anak-anak lain di usia yang sama mungkin sedang duduk manis menyerap berbagai ilmu, berkelompok mengerjakan project sekolah bersama-sama atau memgerjakan PR di rumah. Dan di luar sana, masih banyak anak-anak pintar yang ingin sekali bisa bersekolah tinggi, namun harus putus harapan karena bergumul dengan kemiskinan. Sungguh Ironis.

 
Ric’s voice
Jakarta, 27 February 2014: 18.54

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store