Suara Hati Kecil?

Entah perasaan saja, entah memang ada yang tidak beres, tapi kok kali ini saya yakin betul, ada yang melakukan kecurangan. Begini ceritanya.

Tiga minggu lalu, saya membeli beberapa keperluan dapur termasuk 400gram daging sandung lamur untuk membuat soto betawi kesukaan Nate. Daging sudah ditimbang dan dilabeli harga, tapi ketika tiba di kasir, mbak kasir berkata, “bu, maaf, ini daging sapinya belum ditimbang rupanya. Mau menunggu atau bagaimana?”
Karena antrian cukup panjang saya memilih batal saja, saya bisa mampir ke pasar tradisional setelahnya toh masih pagi, demikian fikir saya. Dan, daging sapi itupun berpindah tangan, tidak masuk dalam transaksi.

Satu jam yang lalu, saya mampir lagi ke swalayan yang sama, yang berada satu gedung dengan tempat gym kami. Saya membeli beberapa keperluan kulkas dan 300gram daging gandik untuk membuat empal kesukaan Nate.

Dilayani dengan kasir yang sama, saya ingat betul daging sapi itu sudah ditimbang dan dilabel harga bahkan saya hafal betul berapa jumlah gram dan harganya.

Kasir itu tersenyum dengan ramah dan men scan belanjaan saya satu persatu, hingga..

“Maaf bu, ini daging sapinya belum ditimbang.”

Saya kaget. “Masa iya? Tadi saya lihat kok stikernya nempel. Harganya 36ribu an”

Lalu dia memperlihatkan kantong daging sapi saya, dan benar saja, polos tanpa stiker.

“Bagaimana bu..mau menunggu? Kami timbang dulu?”

Arghh antrian panjang begitu, dan Nate sudah gelisah ingin cepat-cepat pulang. Saya putuskan untuk membatalkannya dan daging sapi itupun tidak jadi dimasukkan dalam transaksi.

“Langsung dikembalikan ya mbak, supaya gak rusak” demikian saya berpesan. Mbak kasir menganggukkan kepala. Dan daging sapi itu lenyap entah disimpan dimana.

Entah mengapa, sekarang saya sudah di rumah, namun saya masih memikirkan kejanggalan tadi bahkan sejak masuk ke mobil tadi. Masa iya saya lupa? Saya melihat si mas tadi menimbang dan membacakan jumlah gram nya sebelum di print dan ditempel. Dan saya sempat melirik stikernya loh. Kok tiba2 tadi bisa polos kantongnya. Agak menyesal juga tidak mau menunggu daging tersebut ditimbang lagi.

Hmm.. entahlah.. intuisi saya tajam berkata, seseorang telah melakukan kecurangan. Meski saya tidak mengalami kerugian apapun, tapi kok ya saya merasa ikut berperan membiarkan kecurangan itu terjadi. Fresh product yang tidak memiliki bar code tentu bisa lari kemana saja tanpa bisa ditelusuri lagi kan?

Minimal, besok-besok saya akan lebih ketat lagi, lebih cerewet. Bersikap masa bodoh memang gampang, toh lu kan gak rugi materi.. tapi kok ya hati ini gak sejahtera. Mungkin ini yang namanya suara hati kecil ya..
Ric Erica
Jakarta, 19 February 2014: 20.21

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store