Socialite Wives

istri istri metropolitan

 

Perempuan itu merapikan dandanannya. Ia baru saja menyelesaikan beberapa perawatan kulit, rambut dan tubuh di sebuah klinik kecantikan plus spa terkenal langganannya.

Ia meraih telfon smart phone nya, sibuk mendial sebuah nomor, sambil memulas bibir nya dengan lip gloss.

“Ti… anak-anak sudah makan? Jangan lupa habis makan, semua vitaminnya di siapkan ya. Saya pulangnya telat. Banyak urusan.”

Suara di seberang sana mengiyakan tanpa banyak tanya.

Perempuan cantik itu menutup telfonnya, membayar tagihannya, memberi tips kepada beberapa therapis yang membantunya hari itu dan berlalu.

Sedan mercedez s-class berwarna silver ia kemudikan dengan santai, sambil sesekali ia menurunkan kaca kecil, ia memeriksa matanya, blush on nya. Sempurna.

Ia meraih handphone nya. Bibirnya tersenyum sambil membalas pesan pesan yang masuk.
“Iya. On the way.” Begitu balasnya.

Tiga puluh menit kemudian,
Sesampainya di sebuah restoran mahal di sebuah superblock mewah di jantung kota, ia di sambut oleh beberapa teman sebaya yang tak kalah cantik dan gayanya. Mereka terlibat pembicaraan seru. Tentang tas, sepatu, operasi mata, sulam alis 4 dimensi yang harganya bikin menjerit, tentang si A yang jadi istri ketiga, tentang si B yang baru jadi bini muda, tentang si C yang affair dengan personal trainer nya dan semua nya.. baik yang dikenal maupun tidak.

Telfon genggamnya bergetar, ia sejenak meraihnya, menyingkir sebentar, dan suaranya terdengar manja.
“Aku masih arisan. Kamu kelar jam berapa? Mau jemput? Tapi gak bisa pulang malam malam. Nanti jadi masalah.”

Ia lalu terlihat sibuk berbisik-bisik lalu menutup telfonnya dengan mata berbinar.

Teman temannya menggoda. Seperti sudah saling mengerti jika diantara mereka punya cinta rahasia.

Arisan berlangsung ciamik. Musik cantik, dan photographer langganan sibuk mengabadikan senyum-senyum cantik bertaburan.
Arisannya tak begitu mahal. Hanya 15juta per orang. Bisa dalam bentuk dollar, perhiasan, tas bermerk atau benda benda mahal yang sedang mereka inginkan.
Suami-suami mereka tak akan keberatan. Selama bisa membungkam mereka agar asmara dengan perempuan muda pujaan tak dipermasalahkan.

Enam jam kemudian, ia diantar kembali ke mall oleh seorang laki-laki yang hampir sebaya. Mereka saling bertukar senyum setelah menghabiskan beberapa jam pertemuan di sebuah tempat.

Mobil laki laki itu memang tak semewah miliknya. Tapi ia punya cinta. Cinta yang tak permah ia kecap sebelumnya.

Perempuan itu pulang dengan berbagai perasaan berkecamuk.

Diraihnya ponsel nya,
“Ti.. anak anak sudah bobok? Bapak sudah pulang?”
Ia tersenyum lega mendapati jawaban yang sesuai dengan harapan, dari pembantu kepercayaan.

“Ya saya jalan pulang sekarang. Stand by ya Ti, nanti bukain pintu 20 menit an lah. Oh ya.. tolong potongkan buah buat bapak nanti pulang, lalu masukkan di kulkas ya.”

Ia menutup telfonnya. Dikeraskannya musik dari playlist kesukaannya.
Ia sempatkan mengetik sesuatu di messenger kepada seseorang.
“I miss you already”
dan bergegas pulang.

Ric Erica
Jakarta, 17 Juni 2015 : 10.07

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store