Serba Serbi Menjual

Kemarin sore aku berbelanja di sebuah hypermarket dekat rumah. Suasana memang lebih ramai dari hari biasanya..Dimana-mana terlihat ibu-ibu mendorong kereta belanjaannya, menghampiri counter buah dan sayur, daging segar sampai keperluan rumah.

Ada yang berbeda dibanding biasanya. Kali ini para sales girl di sana, aktif menarik perhatian para shoppers. Mereka dengan ramah dan luwesnya membahasakan ibu-ibu muda seperti aku, dengan sebutan bunda atau mamahhhhh (baca mamaaaahhhhhh… dengan huruf h yang panjang dan bergema). Dimana-mana, mereka menyapa dengan sebutan itu pada siapapun yang mereka kenali sebagai wanita.

Di lorong susu, mereka menyapaku “Bunda silakan diambil bunda… Ini untuk dedeknya di rumah, bagus mengandung DHA bunda untuk kecerdasan anak”.. Atau di lorong pelembut pakaian, mereka menyapaku “Bun, ini ada aroma baru bunda, M*lto pewangi, biar babynya makin disayang…” Hah? Maksudnya? Kl gak pake M*lto berarti sayangnya cuma separoh gitu??? dan sepanjang lorong-lorong makanan, minuman dan keperluan rumah tangga, suara mereka bergema..

Bahkan kasir pun ikut-ikutan latah, “sore bunda, tidak sekalian isi pulsanya?”, dan juga counter deposit, “bunda mendapat handuk wajah Ipin dan Upin ya. Mohon tanda tangan disini bunda…” Aihhh…. Seketika mengingatkanku pada sebuah tempat belanja di kota yang ramai dan meriah itu… “Dipilihhh.. Dipilihhh.. Dipilihhh..” *menghela nafas..

Sebenarnya oke-oke saja, para sales girl di encourage oleh trainer mereka untuk aktif menyapa para pembelanja, menyarankan membeli produk mereka, memberikan informasi dan keunggulan produk mereka dibandingkan produk serupa lainnya. Itu teknik marketing. Dan karena basic ku juga marketing, aku angkat jempol untuk trainer mereka, yang berhasil meningkatkan kinerja mereka dari hanya menjadi sales girl biasa menjadi seorang marketer. Tidak hanya menjual, namun juga menyapa konsumen, mengajukan pertanyaan, memberikan pilihan dan lain sebagainya.

Daripada mereka bergerombol, asyik sendiri bergunjing, “Eh eloe kan baru disini, sudah kenal Aziz control room belum? Eloe jangan mau ya dideketi Aziz itu. Playboy die..” atau, “tau nih, bawaan gue nguap melulu nih. Hamil ke 1 ke 2 kayaknya gak begini. Bawaan orok apa yakkkk?” Sering kan, kita mendapati para sales girl yang sibuk ngobrol seperti itu? Baru berhenti kalau dihampiri customer, lalu sibuk sebentar, dan begitu customer berlalu, lanjut lagi ngobrolnya.

Perubahan attitude yang aku tangkap di hypermarket dekat rumahku ini, selama bertahun-tahun menjadi customer setia disana, tentulah menjadi perubahan yang cukup terlihat. Tapi, mengapa di telingaku, sapaan bunda dan mamahhhhh itu kurang tepat ya?? Mengapa mereka tidak memanggil ibu saja atau kakak, yang jauh lebih santun dan enak didengar. Ah semoga itu hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan. Tidak ada salahnya kan kalau membiasakan diri dipanggil Mamaaahhh atau bunda??? Daripada mereka memanggil oma, sus, atau oom sekalian?

Aku jadi teringat mbak-mbak penjaga toko yang sangat kompak dan ramah sekali menyapa dari ujung ke ujung lorong, dekat jembatan penghubung dua buah komplek pertokoan besar di Mangga Dua, Jakarta Barat.
“Boleh yaaaaaaaaaa bajunyaaaa…”,
“Boleh yaaaaaa sandalnya….”,
“boleh ya kaosnyaaaa 20 ribuan aja.. banyak warna”,
Sementara, mata dan badannya celingukan ke kanan kiri tak terarah, kadang sambil tepok2 manggil temennya, sambil SMS an atau sambil benerin alis yang tebal sebelah.

Aku sering tersenyum-senyum geli memperhatikan. Apapun jenis produk yang dijual, kalimat dan nada sapaan harus sama, seperti telah menjadi trend disana. Mau yang lewat ibu-ibu, gadis-gadis muda, bahkan bapak-bapak sampai bapak-bapak macho, mereka tetap ramah dan bertahan dengan sapaan seperti ini,
“boleh ncik, diliat dulu…..”,
“bolehhhh ncik… Dipilih-pilih duluu…”,
“boleh ncik.. Masuk dulu…”,
“boleh ncik.. Dicoba duluuuu…”
sambil tentu saja, merapikan gelungan rambut, menjepit kuku, memainkan kancing baju, bahkan mengunyah sesuatu…

Tidak banyak yang bisa mereka lakukan, toh barang-barang yang sudah dijual terpajang dengan jelasnya, bisa langsung dilihat dan dipegang calon pembeli. Yang perlu dilakukan hanya bagaimana para pembeli lebih tertarik pada toko mereka daripada toko yang lain. Ini yang disebut “DIRECT SELLING.” Produk, pembeli dan penjual dapat langsung berinteraksi pada saat bersamaan.

Ah, tapi sikap para penjual atau gadis2 penjaga toko, tentu gak ada apa-apanya dibandingkan, pemilik kedai bakmi yang sangat terkenal di kotaku, berikut pegawai-pegawainya. Saking terkenalnya kedai bakmi itu, pembeli sudah antri 2 jam sebelum kedai dibuka. Dan itu terjadi dari dulu kala, sampai hari ini. Begitu toko dibuka, alih-alih pembeli dipersilakan masuk dengan halus dan ramah, malah dibentak-bentak, “mau beli apaaa? Bungkus berapa?” Boro-boro minta extra sambal atau extra kuah, dengan wajah sangar pemilik, siapa yang berani? Pernah sekali temanku iseng minta kuahnya dilebihkan, begitu garangnya dibentak pemilik “Enggak bisa!!!!! Endak payuk nandak sudahhh!” (Artinya kalau mau hayoo, enggak mau, ya sudah…).
Ada yg bisa nandingin? Aku kasih gelas cantik deh..

Belum lengkap kalau cerita tentang kedai bakmi itu kalau tidak ada bagian dibawah ini :
Begitu antrian sudah mulai banyak, suasana toko ramai, wajah pemilik dan pegawai-pegawainya yang sudah ditekuk dari toko dibuka, makin berlipat-lipat tekukannya. Jadi, begitu ada yang bertanya, “Pesanan saya sudah belum?” Langsung disambar dengan jawaban setengah makian, kira-kira bahasa Indonesia yang baik dan benarnya begini, “Beluuuuuuummmm! Gak liat ini penuh begini?”
Atau, ada seorang pembeli bertanya, “Masih lama gak? Masih banyak ya ko?”, tidak dijawab apa-apa kecuali tatapan tajam dan bantingan tutup panci. Duhhhh!

Tapi, anehnya… Kedai bakmi itu tetap ramai dan makin ramai. Heran kan? Ini namanya Brand recognition? Selain rasanya yang memang enak? Entahlah? Managementnya juga management toko yang sederhana. Aku suka tergeli-geli melihat pensil yang diikat dengan karet gelang dan satu tusuk paku yang ditancapkan ke sebuah kotak kayu untuk membinder bon. Sementara untuk bon masing-masing meja yang belum selesai, cukup dijejerkan dimeja dengan ditimpa batu-batu kecil marmer tebal supaya tidak berterbangan.

Promosi pun hanya cara tradisional, dari mulut ke mulut. Gak pakai bikin profile di fb terus tag2 an foto, juga gak pakai flyer-flyer, atau program promo buy one get one. Atau discount 25% bila pakai kartu kredit tertentu. Kedainya pun jadul abis, secara dari zaman dulu sampai sekarang tidak pernah di upgrade. Pegawainya masih yang itu-itu juga. Hanya bertambah tua. Itu saja.

Ah tiba-tiba aku rindu sekali pada kedai bakmi itu, yang dinikmati panas-panas, pedas dengan merica yang harum. Diseruput dengan teh kembang hangat.
Rindu dengan pemiliknya yang temperamental namun selalu lucu untuk dilihat. Lucu saja gitu, pembeli dianggap merepotkan. Pembeli dianggap annoying.

Yah unik sekali, tapi mungkin itu adalah strategi sukses si pemilik? Tapi, engkok pemilik itu memang selalu konsisten. Tidak pernah libur, buka dan tutup tepat waktu, tidak pernah lebih cepat, juga tidak pernah telat. Semua seperti rutinitas yang tidak pernah berubah. Mungkin itu juga ya yang membuat pemilik dan karyawan-karyawannya stress, hingga lupa caranya tersenyum?

Satu lagi berita terbaru tentang engkok pemilik kedai bakmi kesayangan semua warga daerah Palembang itu adalah, baru-baru ini kedai yang tidak pernah tutup apapun alasannya itu.. ternyata tergelitik juga untuk merenovasi kedainya. Wah, bayanganku akan kedai bakmi yang lebih nyaman, dengan kursi warna-warni menyejukkan mata, ada wifinya, mangkok-mangkok tebal berwarna putih, dengan sumpit-sumpit coklat khas Tiongkok, meja kayu yang nyaris tanpa sambungan, pelayan-pelayan yang luwes dan ramah, si engkok yang tiba-tiba berubah menjadi 20 tahun lebih muda, dengan pakaian Chef serba putih, lebih bersahabat murah senyum?

Entah kejutan apa yang engkok antik itu persiapkan untuk kami. Setidaknya sebuah tulisan sederhana di secarik kertas yang ia tempel di pintu kedainya “SEDANG RENOVASI!! GAK TAU KAPAN BUKA!!!” menandakan si engkok bakmi juga gak mau kehilangan pelanggannya bukan?

Nasib telemarketing kartu kredit, produk-produk saham dan kartu membership hotel / club agak kurang baik. Sudah menelfon panjang lebar, dari memperkenalkan diri, hingga menjelaskan produknya, hanya dijawab singkat dengan “gak tertarik. Sorry. Klik”, atau “maaf, saya lg meeting, telf lg ya..” atau bahkan langsung ditutup. Aku juga kadang dilema bila menerima telfon-telfon masuk seperti ini. Disatu sisi, telfon-telfon itu cukup mengganggu secara tidak pernah berminat dengan produk-produk itu, bahkan beberapa temanku sampai membeli ponsel baru dengan nomor baru demi menghindari telemarketing yang makin aktif saja menelfon. Namun di sisi lain, aku juga marketing yang tahu bagaimana sulitnya berjuang mendapat customer dan closing.

Menurutku, tidak semua orang mempunyai kemampuan sebagai marketing. Dunia marketing itu keras namun menyenangkan. Hanya bersahabat baik dengan pekerja keras yang fokus dan all out, juga believe it or not, “LUCK”.
Aku sangat menyukai dunia marketing. Bertemu orang yang beraneka ragam baik suku-bangsa, agama, sifat, pendidikan, kebiasaan dan lain-lain. Mengamati, mempelajari dan mengabadikan semua itu dalam bentuk tulisan, adalah salah satu kesukaanku yang lain. Berhadapan dengan setiap pribadi dengan keunikannya masing-masing, berinteraksi, mengeksplore, menggali, sampai mengubah sesuatu yang tidak potensial menjadi prospektif adalah tantangan untuk semua pelaku marketing termasuk aku.

Entah sampai kapan, aku menyukai dunia itu, karena aku sudah mulai merasakan passion ku sudah tidak utuh disana lagi. Tapi harapanku apapun pekerjaan kita, asal dilakukan dengan sukacita, tulus dan sepenuh hati, maka hasilnya bisa luar biasa.
Salam,
Ric Erica
Jakarta, 25 February 2014 : 12.22

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store