Pembantu Metropolitan VIII : Resolusi 2013

 

Pembantu Metropolitan 8

 

 

Semua orang sibuk membuat resolusi 2013 dengan keinginan-keinginan yang spektakuler seperti  menerbitkan buku, bermain film (si UNYIL???), ke Hawaii naik becak, punya bisnis sendiri, punya komodo (saking sudah desperado ditinggal mati anjing kesayangan beberapa kali), jadi Presiden 2014 (ehennn), sampai ingin mendapatkan jodoh dan membahagiakan ibu dan bapak..  Lalu, banyak juga status-status di medsos  yang bunyinya begini  ”daripada sibuk membuat resolusi 2013 mengapa tidak menyempurnakan resolusi 2012 yang belum tercapai?” Atau “yang penting itu bukan resolusinya, tapi bagaimana caranya agar resolusi anda tercapai.” Dan masih banyak lagi, yang tentu saja membuat saya tersenyum membacanya.

Bagaimana kalau saya menyumbang 1 resolusi sederhana ini untuk menjadi resolusi 2013 anda? Memiliki pembantu yang baik dan bisa mempertahankan ia bekerja di rumah anda hingga musim lebaran tiba, syukur-syukur lanjut hingga bertahun-tahun.

Mengapa saya usulkan sebagai resolusi 2013 anda? Karena, makin sering saja saya mendengar dan membaca, sahabat-sahabat online saya, kalang kabut ditinggal pembantu pulang dan gak kembali lagi.

Begitu anda menginjak sebuah pernikahan, anda akan bergaul sangat karib dengan permasalahan satu ini. Dan seperti narkoba saja layaknya profesi yang satu ini, sekali anda mencoba, seumur hidup anda merasa tidak bisa hidup tanpanya!  Jadi tidak berlebihan kalau saya mengklaim bahwa saya adalah ‘penulis topik pembantu ter konsisten, ter kini, terdepan dan terterbaik’ yang ada di friendlist facebook saya! Hahahahhaha…

Kali ini, saya tidak akan membanjiri anda dengan kalimat-kalimat yang painful itu tentang pengalaman dengan pembantu yang lika-likunya tak berujung itu, tapi, kali ini akan saya isi dengan wejangan-wejangan bermakna dan saya berharap anda tidak tertidur sebelum tulisan ini saya tutup.

Saya bukan penyedia jasa pembantu, apalagi konsultan khusus pembantu hehehe.. Kalaupun  profesi yang terakhir ini ada, huihhh.. Saya pastikan saya tidak akan mengambilnya! Nanti siapa yang meneruskan predikat ‘Penulis Terbaik Topik Khusus Pembantu’, ya kannn?

Tapi percayalah, meskipun begitu, saya dulu pernah punya pengalaman menghadapi lebih dari 25 pembantu dengan beraneka rupa, sifat, latar belakang dan tingkah laku (tanya Vinny adik saya, dia hafal di luar kepala, nama-nama mereka, asal, tempat tanggal lahir, hingga masa jabatannya.. Hahahhhahah!).  Dan 6 tahun terakhir ini hidup saya bebas dari masalah pembantu dan liku-likunya. Sesuatu banget kannnn!!! Entahlah, mungkin saya lebay, tapi saya merasa ini juga pencapaian yang baik.

Semua kesalahan saya. kekurangan saya, kekurangan mereka, kebaikan mereka selalu menjadi catatan tersendiri untuk saya, yang terangkum cukup lengkap  pada serial Pembantu Metropolitan yang saat ini sudah menginjak season 8. Cieee Season 8.. Ahoyyyy!!!

Banyak pemasalahan pembantu dan majikan yang terjadi karena komunikasi macet, ekspektasi yang berlebihan dan ketidakjelasan dari awal.

BEDA EKSPEKTASI Majikan berharap mendapat pembantu yang tangkas, sigap, siaga 1 mode on, setia, trampil, tahan banting  dan sejuta kelebihan-kelebihan lain yang hanya ada di dunia mimpi saja (catat, dunia mimpi saja!).

Sementara pembantu berharap mendapat pekerjaan yang gajinya besar, keluarga kecil, tidak ada anak kecil (resiko besar), majikan yang lembut hati dan tidak pelit, selalu makan enak, tidur nyenyak, bisa beribadah, bisa jalan-jalan (butuh hang out juga mereka loh), pekerjaan sesuai job desc (capek disuruh mandiin anjing melulu, sekali-kali disuruh merapikan tanaman pagar (itu kan kerjaan tukang kebon, bu!), mijet dan creambath in anak majikan, dan lain-lain sebagainya) yang juga hanya ada di dunia khayalan mereka.. (Catat, dunia khayal) yang mereka andai-andaikan sebelum memutuskan bekerja di rumah anda.

Mari tarik garis diantara Mimpi anda dan Khayalan mereka. Mencong kan?

KOMUNIKASI MACET Kadang-kadang apa yang kita ucapkan, tidak bisa ditangkap 100 persen oleh pembantu anda, dan paling banyak yang dilakukan adalah 70 persen nya saja, dan yang mendekati sempurna mencapai 50 persen saja sudah bagus. Itu KODRAT. Memang begitu. Kecuali anda mengimport pembantu dari Uni Eropa dan Amerika sana!

Dan apa yang pembantu anda ucapkan, mungkin hanya 60 persen masuk dalam logika anda, yang 40 persen lagi masuk dalam hati anda, dan anda panas dingin karenanya. “Gak sopan banget sih dia.. Masa saya dijawab begini begitu..”

Dan…. Jreng jreng.. Ketegangan demi ketegangan pun mengalir lancar di rumah anda..

KETIDAKJELASAN DARI AWAL Meliputi : 1. Jumlah gaji + THR 2. Job desc, apakah mengurus rumah saja, apakah termasuk memasak, apakah mengurus anak, apakah ikut juga bantu-bantu toko 3. Hak dan Kewajiban Selain gaji dan job desc, perlu dibicarakan: kesehatannya-waktu tidurnya-kesempatan beribadah- dan lain-lain. 4. Latar belakang pembantu, termasuk: apakah pernah bekerluarga, punya anak, status pernikahan, kampungnya, siapa nya siapa yang membawa pembantu itu ke rumah anda, pendidikan, penyakit bila ada, pekerjaan terakhirnya, dan gerak-geriknya (gunakan insting dan logika anda..)

2 hal yang terakhir ini penting, saya sungguh berharap ada satu lembaga yang bersedia serius mengolah data ini, mereka bisa diberikan sertifikasi dan izin kerja, sehingga tindak tanduk mereka dapat benar-benar dipertanggung-jawabkan. Bila tidak benar, sertifikat / izin kerjanya bisa ditarik. Karena, pekerjaan dan profesi pembantu, sama banyaknya dengan jumlah PNS loh! Jangan hanya gaji saja yang mengikuti market, skill dan standard kualifikasi juga lah.. Upsssttt kok saya curhat.. Hahahahha..

Yang paling banyak terjadi, kalau sudah kepepet, siapa sih yang sempat memikirkan ‘ketidakjelasan’ ini. ” Yang penting cepat dapat pembantu deh, saya sudah harus masuk kerja, anak-anak sudah sekolah, saya sudah lelah dengan urusan rumah yang gak ada habis-habisnya, dan saya perlu pembantu segeraaaaaaaa!!!”

Tapi ingat juga, untuk memasukkan seorang asing dalam rumah anda, untuk bekerja melayani anda dan anak-anak anda, dan menetap bersama-sama anda, selalu ada resikonya..

Kembali ke saya..( Lah emang dari tadi kalian kemana?)

Saya mencatat beberapa hal yang bisa mencederai  hubungan kerja antara pembantu dan nyonya rumah:

1. Malas mengajari, tapi berharap hasil  pekerjaan yang sempurna. Hanya mengajari 2-3x belum tentu cukup membuat mereka trampil melakukan segala sesuatu. Ingat, kalau IQ mereka 3 digit, mereka sudah kerja di kantor sekarang! Terus diajari, terus diberitau, anggap saja anda menabung, nanti hasilnya anda sendiri yang menikmati.

2. Malas memberi pujian, tapi rajin complain Anda sendiri juga sebel kan kalau pimpinan anda di kantor begitu?

3. Mengungkit-ngungkit kesalahan yang sudah expired. Bayangkan, suami saja bisa kita cemberutin kalau begitu terus kan?

4. Selalu tau beres, tidak mau mengerti bahwa mereka hanya punya sepasang tangan dan satu otak pas-pas an yang tidak bisa bekerja seperti robot. Contohnya, baru saja disuruh mengepel, sudah diminta mengangkat jemuran dan menggendong si kecil.

5. Terlalu banyak curhat dan ngobrol sama pembantu. Heiiii, mereka bukan teman curhat yang asyik. Semakin banyak rahasia anda yang ia tahu, semakin besar peluang konflik anda dengan pembantu anda.

6. Memendam kemarahan dan memuntahkannya sekaligus dengan lebay. Kesalahan terbanyak adalah, tidak pernah menegur kesalahan pembantu secara langsung, hanya ditabung berikut bunga-bunga nya, dan di klaim sewaktu-waktu ketika kita sudah berada pada titik terpanas. Air teh saja bisa mendidih bila diletakkan di atas kepala anda.

7. Memberi instruksi beberapa sekaligus, tidak terlalu detail, tidak begitu jelas, lalu emosi ketika yang dikerjakan salah. Ingat, daya ingat mereka tidak sekuat anda.. (Meskipun jadwal bulutangkis suami, anda suka lupa-lupa juga..) So, beri instruksi dengan detail, satu per satu, jangan 10 sekaligus, bila perlu dicatat, tempel di kulkas.. Dan anda tinggal nanya deh..

8. Mindset “Saya ini boss kamu, saya yang bayar kamu dan kamu adalah pembantu saya” Ada otoritas disitu, bahwa : saya telah membeli kamu dan kamu adalah budak saya! Tentu saja, mindset ini harus digeser sedikit bahwa: “kita bermitra. Kamu ada disini untuk membantu saya, dan saya bisa menolong kamu (dengan memberi pekerjaan)”

9. Terlalu memberi otoritas kepada pembantu “Nah, kamu butuh apa? Pilih sendiri ..” (Di supermarket) “Nem, ini duit dipake aja, mungkin selama 3 hari saya gak ada kamu mau beli apa atau apa..”

Lalu ketika si Ina memilih shampoo yang lebih mahal dari shampoo anda, anda meradang. Lalu ketika si Inem ketauan jalan-jalan ke pasar malam membelanjakan uang saku yang anda beri, anda meriang.. So, yang complicated itu Ina atau anda sih?

10. Jaga nada suara anda. Peach control ditata.. Lebih-lebih kalau lagi pengen makan orang! Rumah anda gak segede stadion bola kan? Biarpun maksudnya tidak marah, tapi siapa sih yang bahagia kalau nada suara anda cetarrr membahana?

11. Sering terlambat memberikan gaji (=menahan gaji) Bayangkan, kita saja yang bekerja di kantor dengan penghasilan memuaskan, seringkali dongkol kalau pada waktunya, menerima gaji, perusahaan menunda 1-2 hari dengan alasan boss gak ada.

12. Berat hati memberi THR (Perhitungan sekali) Cara menyiasatinya mudah sekali, setiap bulan tambahkan 10persen gajinya,  dan sisihkan 10 persen itu dalam kotak yang tidak akan anda ganggu gugat sampai saatnya Lebaran tiba. Menyisihkan 10 % sebulan untuk THR mereka  tidak membuat anda kelaparan kan? Kalau anda bisa merasa sukacita  memberikannya, bagaimana indahnya hari mereka ketika menerimanya.

Banyak juga ya.. Tapi, jangan putus asa, saya juga bukan nyonya rumah yang sempurna, tapi, mari sama-sama benahi kesalahan-kesalahan itu. Saya juga belajar loh.. Menulis bukan hanya me refleksikan sesuatu tapi juga mengajari penulisnya juga untuk mematuhi apa yang ia tulis..

Merasa sudah melakukan semua itu tapi kok ya pembantu masih saja bikin gak enak hati..Owww.. Itu bukan salah anda. Sudahi saja baik-baik, buat apa memelihara orang yang hanya membuat rusak hati anda tiap hari? Saya yakin, banyak pembantu-pembantu teraniaya, yang mau bekerja di rumah anda kok.. Ayo, hunting lagi..

Smile…its time to do New resolution 2013 Pembantu Metropolitan…

 

Ric Erica Jakarta, 6 January 2013: 10.55AM

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store