Paragraphku untuk Ratna Sarumpaet

 

 

Pertama kalinya saya mendengar, melihat dan membaca sosok Ratna Sarumpaet adalah ketika saya berusia hampir 14 tahun waktu itu. Dengan ketidakmengertian, ketidakperdulian, dan sambil lewat saja, karena waktu itu saya hanya fokus dengan bermain dan belajar, saya terpaku pada layar TV di rumah saya. Lalu pelan-pelan menyimak setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Kata-kata tegas yang tersusun begitu apik, lugas, menggambarkan kecerdasan dan keteguhan hati pemiliknya.

Meski ia tidak cantik, tidak gemulai, tidak feminin, tidak berambut panjang (sebagaimana sosok perempuan yang disukai oleh anak-anak perempuan usia 14 tahun saat itu), namun entah mengapa, sejak saat itu, saya memasukkan nama nya dalam hati. Saya catat diam-diam namanya, karena perempuan ini tentu bukan perempuan biasa.

Sejak saat itu, kemunculan ia di TV yang dulu hanya TVRI saja, akan sangat saya tunggu-tunggu. Hanya untuk mendengarkan apa yang ia fikirkan tentang segala sesuatu. Saya akan terkagum-kagum dengan gayanya berbicara. Tidak gentar akan apapun, meski pada masa-masa itu kebebasan berbicara amatlah ber resiko.

Lalu, pada tahun 1993, setelah saya pindah ke Jakarta, saya lebih mudah lagi mendapati Beliau di TV-TV karena pilihan channel TV lebih dari satu. Apalagi waktu itu ada kasus terbunuhnya Marsinah (‘Marsinah Menggugat’), seorang aktivis dan buruh sebuah perusahaan, yang diculik selama 3 hari dan ditemukan di sebuah hutan dalam keadaan teraniaya berat.

Entah mengapa, pada zaman itu, yang seharusnya para remaja putri lebih tertarik dengan berita musik, video klip, komedi dan serial remaja, saya justru tertarik untuk mengikuti berita tentang Marsinah, dimana saya bisa mendapati sosok Ratna Sarumpaet yang bicara dimana-mana menyuarakan ketidakadilan yang didapati oleh seorang buruh miskin Marsinah, yang harus mati teraniaya hanya karena memperjuangkan haknya untuk hidup lebih layak.

Juga lebih tertarik pada pernyataan-pernyataan frontalnya, yang mengkritisi pemerintahan Orde Baru yang ditentangnya, hingga pada masa-masa menjelang Kampanye Pemilu 1997 dimana terjadi ‘Tragedi Kudatuli’, pengambil alihan markas sebuah partai berlambang banteng ‘penyerbuan berdarah 27 juli 1996′ yang meluas kepada kerusuhan politik di berbagai daerah di tanah air.

Bertahun-tahun saya menyimpan kekaguman tak biasa pada sosok perempuan itu. Beberapa teman saya yang tahu biasanya akan terheran-heran. Mengapa bukan Tamara Blezynski saja yang memiliki wajah kebule-bulean dan iklan sabun nya selalu menawan? Mengapa bukan Kris Dayanti saja yang semua lagu-lagu yang ia nyanyikan akan mencetak hits di Indonesia? Mengapa bukan si manis multitalented Deasy Ratnasari, si Ratu Sinetron, yang selalu No Comment itu? Mengapa harus Ratna Sarumpaet? Memang gak ada tokoh yang lain?

Mungkin ini yang saya sebut, jatuh kagum pertama kalinya pada sosok itu, dan tidak mudah melupakan nama itu bertahun-tahun kemudian, meski sosok-sosok cantik, mempesona bergonta-ganti menghiasi layar kaca.

23 tahun telah berlalu,  saya telah bertumbuh dewasa, dan memilih karir menjadi ibu rumah tangga dengan seorang putera yang beranjak remaja, yang masih perlu banyak membaca, menyimak, dan belajar tentang banyak hal dari kehidupan.. Ah rupanya masih saja saya menyimpan kekaguman yang tak habis-habis kepada sosok Ratna Sarumpaet.

Pagi ini, ketika saya menemukan halaman Ratna Sarumpaet pada newsfeed Facebook saya, lekas-lekas saya klik tombol ‘Like”, karena saya tidak mau kehilangan satu moment pun untuk menyimak celotehan-celotehannya tentang hidup, politik, sosial dan lain sebagainya.

Page nya bisa dilihat di http://www.facebook.com/pages/Ratna-Sarumpaet/152810521485998

Lepas dari sepak terjangnya yang kontroversial yang menuai banyak kritik bagi banyak orang yang tidak sepaham dengan beliau, bagi saya, Ratna Sarumpaet, adalah sosok perempuan luar biasa yang sedikit banyak telah membuka wawasan dan kepemahaman saya tentang hidup bernegara, dan bertanah air dalam kemajemukan yang tak terbantahkan.

Saya berharap Ratna Sarumpaet  diberkahi umur yang panjang, kesehatan karena Indonesia butuh inspirator perempuan yang cerdas, tegas, lugas dan tak gentar, dan pejuang intelektual perempuan seperti Beliau. Karena menurut saya, Beliau lah yang sebenarnya ‘RA. Kartini – Tjoet Nyak Dien – Krsitina Martha Tiahahu – Dewi Sartika’ abad ini..

Meski ini hanya sebatas mimpi yang mungkin tidak ada artinya untuk Beliau, saya berharap suatu hari saya bisa membuat sebuah tulisan yang bagus tentang kekaguman saya pada  Beliau, dari kacamata saya dan tulisan itu sampai padanya. Semoga, suatu hari nanti..

Ric Erica, 5 Maret 2013: 07.45 AM

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

4 Comments to “Paragraphku untuk Ratna Sarumpaet”

  1. liy says:

    moga terwujud deh ric cita2 kamu itu……moga cepet keluar bukunya….

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store