Orang Indonesia Timur identik dengan suka berkelahi, cepat naik pitam dan preman? Eitss.. baca ini dulu!

Ini kumpulan pengalaman pribadi saya selama beberapa kali ke Nusa Tenggara Timur. NTT juga bagian dari Indonesia Timur kan? Koreksi saya kalau salah, siapa tau seseorang telah memindahkannya ke wilayah lain.

Peristiwa pertama terjadi pada bulan February 2012 : Waktu itu ada motor menabrak mobil yang kami tumpangi karena ia melawan arah. Motornya terjatuh, dan ia terpental cukup jauh. Dalam fikiran kami, sebagaimana sudah terbiasa melihat pemandangan di Jakarta, pengendara motor itu akan menghampiri kami, meminta ganti rugi atau mengintimidasi kami. Yang menyetir, orang Jakarta pula dan di dalam mobil hanya saya dan Nate, yang sama sekali tidak bisa berbahasa daerah. Lengkaplah sudah.

Supir pun turun. Mereka berdialog. Orang-orang pun berdatangan. Saya dan Nate makin meriang membayangkan supir dikerjai. Ffiuh..
Tau apa yang terjadi? Kekhawatiran kami tidak terbukti.
Orang yang menabrak mobil kami itu malah tergugup gugup meminta maaf. Boro-boro ngeyel menuding / minta ganti rugi. Bahkan tanpa diminta, ia menjelaskan bahwa ia terburu-buru pulang ke rumah hingga mengambil jalan terdekat dengan melawan arus.

Bahkan kehadiran sekelompok orang yang berkerumun di antara kami lebih banyak mendengarkan dan sesekali meminta agar dimaafkan saja karena anak muda itu sudah meminta maaf.

Kami sangat terkejut juga terkesan. Kalau itu terjadi di Jakarta, yang ada malah sebaliknya. Kami lah yang harus mengeluarkan ganti rugi dan salah-salah, supir dan mobil jadi bulan-bulanan kekesalan. Padahal.. siapa yang nabrak, siapa yang korban. Ya.. kita sama-sama tahulah ya..

Kejadian kedua, sekitar bulan Juli 2012, yaitu ketika putra saya kehilangan HP nya di sebuah mall yang cukup ramai, Flobamora, di jl lalamentik, Kupang. Baru menyadari nya pun sudah cukup lama dan kami sudah tidak berharap menemukannya kembali. Di tengah usaha mencari, tiba-tiba kami di datangi oleh seorang petugas mall, menanyakan apakah kami kehilangan HP. Setelah mencocokkan beberapa ciri, akhirnya HP itu dikembalikan kepada kami. Menurut petugas supervisor, tiga orang anak muda yang menyerahkannya kepada beliau dan menyebutkan mungkin hp itu milik kami.
Bukankah ini berkesan?
Coba itu terjadi di kota Jakarta, Bandung, atau kota saya sendiri deh, Palembang, kira-kira balik nggak tuh HP?

Peristiwa ketiga, bertepatan dengan libur paskah 2013, yang tidak kalah berkesannya adalah ketika kami melakukan pelayanan pengobatan di salah satu desa, sekian KM dari SOE, Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang ditempuh berkendara sekitar 3 jam dari kota Kupang.

Anak-anak kecil itu menyambut mobil kami dengan antusias karena sudah diberitahu oleh pemimpin desa mereka bahwa seharian itu akan ada tamu dari Jakarta yang akan membagikan obat-obatan dan makan siang.

Pemandangan yang sangat kontras. Kami yang berkulit lebih terang, berpakaian rapi, berbaur diantara bapak ibu anak-anak yang berpakaian seadanya, berkulit gelap, berambut keriting, bahkan sebagian besar tidak memakai alas kaki.

Dalam fikiran saya, bagaimana mengatur orang sebanyak itu tanpa rusuh?
Bukan apa-apa.. kami juga pernah melakukan pelayanan serupa di pinggir rel kereta di beberapa lokasi, uh riwehnya jangan ditanya. Buru-buru tertib, orang-orang bisa bertengkar sendiri karena rebutan nasi kotak.
Tapi? Kami justru terkagum-kagum sendiri.
Mereka duduk dengan tertib. Menunggu nasi kotak dibagikan. Tidak pakai dorong-dorongan, tidak pakai adu otot adu mulut ketika belum kebagian, juga tidak membuka tangan meminta-minta meski mengetahui di dalam nasi kotak itu ada lauk pauk komplit yang harumnya sungguh menggoda.
Padahal, jangankan menu makan siang yang layak, air bersih saja jadi barang mahal yang langka.

Dan yang sudah kebagian mengucapkan terima kasih dengan santunnya, dan gak ada lagi tuh wajah yang sama tiba-tiba antri lagi mengaku belum kebagian padahal sudah dapat dua. Setelah makan, kami tidak mendapati sampah berserakan. Hebat gak tuh?

Selama bolak-balik NTT beberapa kali dalam kurun waktu 2012-2013, ini yang patut dipertanyakan. Mengapa di daerah yang cukup tertinggal dibandingkan Jawa dan Sumatra, tapi nyaris tidak permah saya temui pengemis. Baik orang tua yang sudah renta maupun anak-anak kecil. Kebanyakan yang saya lihat, anak-anak kecil di usia sekolah menggunakan waktu luangnya untuk bekerja entah jualan hasil kebun, menjual buah merah, mengangkut batu bata hingga menyerut kayu. Seolah sudah diajarkan untuk bekerja keras sejak muda daripada menjadi peminta-minta. Juga tidak pernah melihat orang berkelahi di jalan, atau mendengar ada yang dirampok atau diperas.

Dan tiga peristiwa itu, sungguh membuat saya memiliki kesan tersendiri tentang Nusa Tenggara Timur, kecantikan alamnya dan ketulusan orang-orangnya.

Jadi.. kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa orang NTT itu suka bertengkar, berjiwa preman dan beringas, kok yang saya lihat dan rasakan sungguh berbeda ya. Coba deh merasakan tinggal di Palembang, dimana jari manis saja bisa tau-tau putus kalau ada cincin bling-bling melingkar. Kapak, pisau dan kata ‘TUJAH’ sangat akrab di telinga. Dikit-dikit nak begoco. Salah ngomong dikit, salah jingok dikit, nyolot bae pacak ilang nyawo sio sio. *di google translate aja ya*

Atau gak usah jauh-jauh deh. Saya lebih sering bertemu preman dan orang beringas itu justru di Indonesia bagian media sosial. Sikat, hajar, bakar sudah jadi kosa kata sehari-hari. Saling memaki, saling mem bully.. yahhh.. biasa banget tuh. Gak mamang-mamang gak mas mas, inang-inang, mamak-mamak, mbakyu dan encik, sama temperamental dan garangnya. Mudah terpancing, mudah emosional. Lebih-lebih di musim kampanye begini, suhu nya lebih panas daripada masuk oven euy! Saya rasa habis pemilu psikolog laku!

Tapi yah sudahlah.. mungkin harus baca ‘statement’ beliau dulu agar saya punya kesempatan untuk menuliskan 3 pengalaman spesial kami di berbagai tempat di Nusa Tenggara Timur. Kalau nggak ya mungkin hanya akan tersimpan saja di memory.

Bagi saya, meski dari luar, kulit mereka gelap, suara mereka lantang, perangai mereka keras, sesungguhnya mereka genuine, jujur, lugu dan tulus. Belum terkontaminasi efek samping globalisasi yang garang, individualistis dan materialistis.

Saya beruntung pernah menapakkan kaki di NTT, dari Maumere hingga Rote. Dari Kupang hingga Atambua. Menyelami kearifan lokal beraneka suku disana.
Sampai kapanpun, Nusa Tenggara Timur menempati ruang khusus di sudut hati.

Ric Erica
Jakarta, 19 Juni 2014 : 11.03
Http://ericamascalova.com

 

Foto – foto pendukung :

Dari Kupang, keluar menuju Kabupaten SOE

 

*****

Rumah penduduk tradisional NTT, yang kami lihat di sepanjang perjalanan menuju SOE dan Atambua. Sahabat saya, Bintang, berkata,  sejuk sekali tinggal di rumah ini.

 

*****

 

Kantor Bupati Timor Tengah Selatan, dimana desa yang kami kunjungi bernaung

 

 

*****

Pelayanan Pengobatan di Soe, NTT. Serempak dalam 3 hari, melayani desa-desa tertinggal di Kupang dan sekitarnya.

 

****

Orang sebanyak ini bagaimana mengaturnya agar semua mendapat obat-obatan dan makan siang? Tertib dan lancar saja tuh. Inilah watak orang NTT asli, santun, genuine dan ramah

 

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

5 Comments to “Orang Indonesia Timur identik dengan suka berkelahi, cepat naik pitam dan preman? Eitss.. baca ini dulu!”

  1. beny says:

    trimakasih atas tulisan yg kk buat sy slaku org timur merasa di hargai lwat tulisan ini… salam sukses buat kk dan tman2 …

  2. Rina says:

    Org NTT mmg ramah2 mbak… apalagi orang atambua,,,hehehee

  3. aryo says:

    terima kasih atas share info pengalamannya mbak rica, sampai merinding saya membacanya, meskipun saya belum pernah menginjakkan kaki saya ke sana, namun saya cukup yakin bahwa sebenarnyalah sifat dan watak sebagian masyarakat kita yang tinggal di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota metropolis memang seyogyanya seperti itu, karena memang bangsa ini sudah dikenal dengan keluhuran budi pekertinya, mulai dari jaman keemasan kerajaan2 kita tempo dulu, semakin dianggap sebagai daerah tertinggal dan jauh dari jangkauan komunikasi menurut saya akan semakin banyak kita jumpai ‘keanehan2′ prilaku maupun pola kehidupan yang sangat berbanding terbalik dengan apa yang sering kita lihat di kehidupan kita sehari hari di kota2 yang kita tinggali, yang memberikan kesan bahwa dengan selalu memelihara kearifan lokal dan budaya nenek moyang, mereka mampu untuk bertahan menghadapi serangan budaya2 dari luar yang terbukti telah memecahbelah bangsa kita sendiri. Mereka tidak terpengaruh dengan issue2 ras maupun agama yang selama ini kita dengar, yang membuat kita akhirnya gontok2an dengan bangsa kita sendiri, menurut saya mestinya masyarakat kita sangat perlu membaca dari tulisan mbak yang ini.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store