One Was Our Best Scene


Suatu hari dari ribuan hari di tahun 1990an.


“Pak, boleh gak saya request sesuatu?” Begitu saya membuka percakapan di ruangannya pada sebuah sore. Ia terlihat santai dan temperatur nya aman dan stabil.

“Sini… sini.. duduk.. request apa sih.. tumben kamu.” Si boss menyandarkan punggungnya pada kursi tahta kulitnya yang empuk itu. Swear.. empuk! Saya sering nyobain.. pagi-pagi kalau pak boss belum datang, sambil berkhayal, saya yang jadi pimpinan dan pak boss yang jadi sekretaris. Asyikkk.. bisa gantian galak!

“Mau ngomong apa sih?” Begitu katanya sambil meraih mug tinggi berisi teh hijau yang sumpahh pahittt! Pernah nyobain dulu sekali secara gak tau itu punya pak boss hihi.

“Bener nih.. bapak mau dengerin, gak pake marah..” Jawabku dek-dekan. Saya pun duduk di kursi panas di hadapannya.

“Yah tergantung.. tergantung permintaanmu donk.. kalau bikin saya marah, ya saya marah.” Dek! Gak jadi aja apa ya?

“Owww.. kalau gitu lain kali saja deh pak request nya. Saya belum siap…” Jawabku pelan. Takutt..

“Enak aja! Kamu sudah duduk disini trus mau kabur. Ayo ngomong..” Katanya dengan melotot.

Dengan mengumpulkan keberanian yang sempat kabur dari tempatnya, saya bicara.

“Saya minta pindah ruangan boleh gak pak?”

Yang langsung disambarnya,”Pindah ruangan? Kemana?”

“Yah dimana ajalah pak.. asal pindah.”

“Kenapaaa? Gak cocok sama saya?” Suaranya menggelegar. Glegh. Yah 40 persen bener sih.. siapa yang cocok dengan boss galak kan?

“Gimana.. gimana.. kenapa kamu pengen pindah. Ruangan kamu kan disini. Kalau pindah gimana kalau perlu kamu?”

“Yah kan ada telephone pak. Or bapak tinggal teriak saja, pasti saya langsung hadir kok..” Jaminnnn…wong suara pak boss 1000 desible, keras, tinggi, cetarrr menggelegar.

“Jawab dulu donk.. kenapa tiba-tiba kamu minta pindah. Saya perlu tau.”

“Saya gak bisa konsen kerja pak kalau saya disitu..” Emang ada alasan yang lebih bagus? Masa mau bilang ada setan nya?

“Lho selama ini kamu kan bagus-bagus saja. Kok sekarang pakai gak konsen segala..” Pak boss mulai mengendus sesuatu yang tidak beres akhirnya. “Sejak kapan?”

Akhirnya dengan berat hati saya menceritakan mengapa.
“Ruangan yang tadinya tenang jadi banyak bunyi-bunyian pak.. suara radio non stop, dan jadi banyak orang hilir mudik tapi gak ada kepentingannya sama kerjaan saya pak. Ya lebih baik saya pindah saja daripada stress.”

“Selain itu?”Argh.. memang gak bisa menyembunyikan apa-apa dari Pak boss. Ya sudahlah, kepalang.

“Ide bapak memberikan saya asisten itu adalah ide yang kurang pas pak. Saya frustasi mengajari, dia gak bisa diajak kerjasama dan bikin saya makan hati pak. Saya jadi gak semangat kerja.” Begitu saya menjelaskan.

Pak boss manggut-manggut.”Maksudnya frustasi mengajari itu, orangnya gak bisa, sok pintar, atau …..?” Kalimat pak boss terputus seperti membiarkan saya menyelesaikannya.

“Atau pak.”

“Coba coba… saya mau dengar satu kata saja.. ayo belajar berani terus terang.” Katanya sambil memain-mainkan pena.

Setengah mati saya menahan kata-kata itu meluncur tapi wajah pak boss yang menunggu dan memaksa, membuat saya gak tahan juga.

“Dia dungu pak.”

Pak boss sontak tertawa terpingkal-pingkal membuat saya bernafas lega. Dia tidak marah sama sekali meski ia mendengar ‘benda titipan’nya saya sebut dungu.

“Ya sudah.. Senin kita pindahkan dia ya..” Begitu katanya menepuk punggung saya setelah reda ketawanya.

Pak boss, that’s one of some best scene I had when I worked for you. Sedikit banyak, beliau berperan membentuk karakter dan jalan fikiran saya. Kadang hal-hal begini bikin saya rindu untuk duduk di kursi kantoran seperti waktu itu. Tapi sayangnya, passion saya sudah berada di tempat lain menunggu diterbangkan setinggi langit.

Eh… tapi siapa tau suatu hari nanti bisa ngobrol ngobrol dengan pak boss lagi ya..

Ric Erica
Jakarta 10 February 2014: 13.30

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

2 Comments to “One Was Our Best Scene”

  1. josep says:

    iya kapan yah ketemu pak bos seperti itu,…………………
    makasih udah share yah mba,………………

    • Erica Mascalova says:

      iya.. makanya saya terkenang-kenang selalu.. kayaknya gak ketemu lagi deh pak boss galak tapi ngangeni seperti beliau hehehe

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store