Not A Runaway Groom

not a runaway groom

“Whatttt? Sadar! 10 hari lagi kamu menikah! Fokuslah pada hari bahagia kalian. Jangan fikirkan yang aneh-aneh.” Begitu kataku pada sahabatku Edo tadi malam.

“Tapi.. justru perasaanku pada perempuan itu makin kuat dari hari ke hari.” Begitu katanya terbata-bata.

Dan ribuan kata mengalir lancar dari mulutnya. Tentang bagaimana perkenalannya dengan gadis itu. Pertemuan pertama yang justru biasa saja hingga hari-hari yang diisi oleh gadis itu dengan canda tawa dan keceriaan yang manis. Yah.. selalu manis.
Ada satu jam kami berbincang via telfon semalam, dan aku merasakan perubahan suaranya setiap ia menyebutkan nama gadis itu.

“Ia tidak secantik Inge. Tidak secerdas bahkan tidak seanggun dia.. kau juga tau. Untuk merengkuh hatinya aku harus menyingkirkan beberapa nama laki-laki yang mendekatinya. Tapi.. justru bersama gadis sederhana itu, hatiku luluh. Senyumnya, tutur katanya. Arghhhh.. kenapa harus sekarang?”

Ya.. itu juga menjadi pertanyaan besar dalam kepalaku.

“Mengapa ia harus bertemu dengan perempuan itu. Mengapa ia harus jatuh hati pada gadis yang terpaut 20 tahun lebih muda itu? Mengapa ia baru hadir setelah acara bertunangan, lamar lamaran bahkan ketika undangan sudah disebar, gedung sudah dipesan, pakaian pengantin sudah di tangan? Dan mengapa ia jadi ragu antara meneruskan pernikahan itu atau membatalkannya demi mengikuti kata hati.”

“Ah come on.. Aku sudah bukan anak remaja lagi. 43 tahun usiaku dan ini tentang pernikahan satu kali seumur hidup. Dan kau pun tahu aku juga pernah gagal menikah 9 tahun yang lalu, aku tau rasanya patah hati.” Begitu katanya lagi.

Ah ya.. aku tau sekali bagaimana keadaannya setelah pembatalan pernikahan pada tahun 2005 itu. Meski ia terlihat oke oke saja, tapi butuh 9 tahun untuk menentukan pilihan hati hingga jatuh pada Inge, perempuan yang membuatnya jatuh hati atas kesabarannya mendampingi Edo melalui banyak waktu jatuh bangun, jatuh sakit hingga ia dinyatakan bebas dari vonis operasi dokter.

Edo secara fisik telah berubah. Kehilangan 32 kilogram dalam 6 bulan, memutuskan hubungan dengan rokok, angin malam dan makanan makanan lezat yang membahayakan kesehatannya itu bukan perkara gampang. Inge lah yang menjadi motivasi hidupnya satu tahun terakhir ini.

Kendati demikian, Edo tetaplah Edo yang sama, yang kukenal.
Edo yang berprinsip, Edo yang tak kenal berdamai dengan skandal, Edo yang selalu akan mati-matian memperjuangkan segala hal yang diyakininya.

“Karena kau pernah gagal menikah, aku yakin kau tak akan mundur. Betulkah?”

“Jika kau tak pernah bertemu dia, apakah kau akan ragu seperti sekarang?”
Dua pertanyaanku berhasil membuatnya terdiam sejenak.

“Aku tidak tau. Akal sehatku mengatakan begitu. Tapi tidak hati dan jiwaku. Dan saat ini aku hampir menyerah pada kegilaan ini.”

“Salahkah aku jika aku menjemput cintaku?”

“Kelirukah aku jika aku memilih menjemput mimpiku?”

Percakapan telfon itu diakhiri dan menyisakan sesuatu yang membuatku terus berfikir.

Bukankah kisah seperti ini sering kita nikmati dalam film drama hollywood? Runaway Bride, My Best Friend’s Wedding, Made of Honor, atau beberapa judul lain. Meski tak semua happy ending, tapi kok saya yakin, cerita ini tentu banyak terjadi menghantui pasangan-pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan mereka.

Arghhh Tuhan, mengapa KAU senang bercanda dan meng-galau-kan insan-insan yang KAU cinta?
Bukankah KAU yang menghembuskan nafas cinta kepada Edo dan Inge hingga mereka berdua sepakat saling menyematkan cincin yang mengikatkan kebersamaan mereka, namun KAU juga yang mengizinkan Edo bertemu dengan seorang perempuan yang mampu menumbuhkan rasa
cinta yang berbeda pada keduanya,? Maksudnya apaaaa?

Edo tidak butuh diajari, diarahkan atau dinasehati. Ia hanya perlu didengarkan. Apakah ia akan mengikuti kata hatinya, atau memutuskan setia pada janji, dia sudah tahu semua resikonya.
Edo hanya perlu menyingkir sejenak, mengambil saat khusus untuk melihat segalanya dari sudut pandang yang jernih.

Kufikir, masih baiklah keraguan dan godaan itu datang sekarang, justru 10 hari menjelang hari bahagia itu tiba. Coba kalau datangnya pada hari H atau beberapa hari setelah menikah. #mikir

Lagipula, ini tahun 2014 mannn.. bukan tahun 1980 an dimana semua sepertinya aman-aman saja. Ini zamannya Syahrini mannn, I pilll priiiii… bukan Hetty Koes Endang atau Obie Messakh yang masih ngobrol sama semut-semut rangrang.

Jatuh cinta emang bisa direncanakan? Jatuh hati emang bisa ditunda, di cancel atau di bookmark dulu lalu ketika dapat wifi baru download deh. Lagipula, kalau ada yang menghakimi Edo karena kesalahannya jatuh cinta lagi, aku cuma bisa bilang, “ahhhh.. jangan-jangan kamu nyinyir karena kamu kurang menarik aja sih”

So.. Edo still has 10 days to think.. wish he’ll find the best answer.

Ric Erica
Jakarta, 13 September 2014 : 17.35
*dituliskan atas izin pemilik cerita

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

2 Comments to “Not A Runaway Groom”

  1. Irwanto says:

    wah galau segalau galaunya si Edo…..anyway tulisannya menarik, thanks

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store