Mesin Tik Tua Papa

MESIN TIK TUA PAPA

Tiba-tiba saya teringat masa-masa saya mulai menulis ketika masa sekolah. Dulu saya rajin membaca majalah cerpen remaja dan tulisan-tulisan itu meng inspirasi saya untuk juga menulis. Awalnya saya mencoba menulis puisi. Lalu pelan-pelan menulis karangan yang lebih panjang, dan menikmati aayiknya merangkai fiksi.

Mesin ketik tua satu-satunya milik papa pun kujajal. Berat, dan tutsnya keras sekali. Membuat jari-jariku sakit selesai mengetik. Kecepatan berimaginasi dan kecepatan mengetik di atas tuts tuts kaku itupun tak berimbang. Sementara dalam kepalaku puluhan kalimat menari, jari-jari menghentak dengan susah payah. Kerap jari mungilku merosot masuk ke sela-sela tuts. Alhasil kulit telunjuk mengelupas dan kuku rusak karenanya. Tapi tak juga membuatku berhenti meng explore mesin tik papa.

Bayangkan, bila aku membuat kesalahan, di coret tidak mungkin, di tip ex – ditiup – di back space – ditimpa dengan ketikan baru loh kok aneh, dihapus dengan hapusan tinta yang warnanya biru, yah kertasnya sobek. Akhirnya ganti kertas dan mengetik semua dari awal. Sungguh menjengkelkan.

Di awal-awal, aku hanya menulis untuk diri sendiri. Lambat laun, ada satu keinginan kuat tulisanku bisa menghias majalah kesukaanku. Lalu aku mengetik dengan menggunakan karbon. Lembar asli untuk dikirim, lembar karbon untuk arsip pribadi. Mengetiknya dengan berhati-hati. Bila hentakannya kuat, ketikan di karbon tegas, tapi begitu ketikanku melemah, huruf di lembar karbon jadi kabur. Belang-belang jadinya. Karbon yang sudah penuh ketikan tak bisa lagi dipakai. Bahkan kerap karbonnya bolong saking semangatnya aku mengetik dan kulit tangan menghitam akibat sering menyentuh karbon. *aku jadi senyum-senyum sendiri*

Tulisanku akhirnya tembus juga. Anita Cemerlang yang pertama kali memuatnya. Setelah sekian lama berlatih, mengirim, menulis, mengirim, menunggu, menunggu, kecewa, melupakan, menulis lagi, kecewa lagi dan terus dan terus..

Sebuah cerpen tentang roman percintaan ala anak sekolah yang harus dipisahkan oleh cita-cita. Topik umum yang selalu digila-gilai oleh pembaca remaja di sekolah manapun. Honornya hanya cukup untuk membeli satu rim kertas HVS (mengganti kertas papa yang habis sia-sia sebelumnya) dan lima mangkok bakso di perempatan sekolah.

Kini aku menikmati mengetik di tuts tuts lembut laptopku, aku bebas berimaginasi tanpa harus melawan rasa sakit pada jari-jariku, tanpa harus meringis jika aku salah mengetik dan sekali-kali mendelik pada putra tunggalku yang kerap complain tentang computernya.

Mau menjajal mesin tik opa, Nate?

 

 

Jakarta, 19 Juli 2013 : 13.45PM

Ric Erica

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store