Mencari Kekaguman?

MENCARI KEKAGUMAN

Tadi siang waktu saya main cross trainer di tempat gym, di sebelah saya ada oom-oom berumur sekitar 60an, sedang latihan treadmill, dan tak lama ia mengajak saya bicara.

“Kamu rajin ya.. saya perhatikan habis kelas, kamu pasti main cross trainer dan sepeda. Emang mau ngurusin apalagi? Sudah kurus gitu.”

Saya menjawab, “Cari sehat oom. Buat jantung juga. Hari gini, banyak yang masih muda udah sakit-sakitan.”

“Oh ya ya.. itu bagus. Olahraga itu tujuannya sehat, bonusnya langsing. Orang suka kebalik-balik ya. Cari kurus, taunya malah sakit. Diet ini diet itu. Malah kurang gizi.”

Saya tersenyum saja.

“Kalau saya, saya disini hanya main 3 alat. Treadmill, butterfly sama yang untuk pinggang.”

“Oh gitu oom? Alat-alat lain gak pernah disentuh?”

“Oh, semua saya sudah punya, kecuali 3 alat itu. Ada sebagian di rumah, di apartemen saya di Sudirman, sebagian juga ada di dua villa saya.”
Glegh.

“Ini aja saya, sebelum ke gym, saya lari pagi jam 4, lanjut main golf, baru deh saya lari kesini. Nanti abis lunch, high tea sebentar di mulia, terus berenang, malamnya bowling.”

Eh busetttttt! Saya hanya bisa menahan senyum saja sih.

“Eh kamu kemarin tebak deh, kira-kira Prab*w* itu ke luar negeri apa enggak?”
Eisss.. politik nih oom?

“Wah gak tahu deh oom. Kan pamitnya ada urusan di Luar Negeri.”

“Enggak… Dia di Jakarta. Kita ngopi-ngopi kok di mulia. Malah kita kongkow kongkow sampai pagi.”

“Oh iya oom.”

“Prab*w* itu kakak saya. Hasy*m itu adik saya. Makanya saya kemarin bilangin, you harus dateng ke pelantikan J*k*wi. Makanya dia datang kan?”

Saya hanya bisa senyum senyum, sambil menunggu ada teman yang menghampiri saya ngajak ngobrol kek, supaya saya punya alasan untuk kabur. Iuhhhhh…

Saya gak tahu deh, ini oom serius apa enggak. Sudah terlalu banyak cerita tentang oom dan ‘kehebatannya’ yang saya dengar, Yang pasti saya gak pernah liat beliau di layar TV, dan penampilannya biasa saja.

Saya banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang berusaha keras untuk dikagumi, diperhatikan atau diterima di sebuah komunitas. Bicaranya harus tinggi, pakaian / tas yang digunakan harus bermerk, setiap tampil semua harus baru, sering berpergian ke luar negeri. Kadang terlihat memaksakan diri, padahal ia bukanlah orang yang seperti itu.

Saya fikir, tidak perlu berlebihan untuk mendapatkan perhatian / kekaguman.
Karakter yang genuine, dibungkus dengan senyum yang tulus, sikap yang simpatik, pembawaan yang santun dan asyik diajak bicara, itulah sebenarnya modal awal untuk bisa melebur pada sebuah lingkungan.

Kalau bisa lucu, ya bagus. Biar gak membosankan, selalu ada bahan pembicaraan yang segar.
Penampilan, harta, jabatan, isi dompet, itu nomor sekian lah. Gak terlalu penting. Selama kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri, PEDE aja kali.

Ric Erica
Jakarta, 21 Oktober 2014 : 20.55
Ilustrasi diambil dari www.dailymail.co.uk

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store