As You’re More Than Worthed

Seorang sahabat karib menemuiku suatu sore dua minggu yang lalu. Begini katanya, “Ric, kok ada ya orang yang dulu dekat sekali dengan kita, selalu menganggap kita keluarga, bahkan waktu sama-sama susah di Luar Negeri, saling mendukung saling melengkapi, bahkan sering juga ikut makan siang – makan malam bahkan kadang sering main di rumah, tapi begitu pulang ke tanah air, lenyap tak berbekas seperti hantu.”

Aku masih menebak-nebak arah pembicaraannya. Dengan sabar aku menunggu ia menuntaskan curhatan hatinya.

“Kalaupun belakangan hari bertemu lagi di Facebook, ya hanya sekedar menambahkan di friendlist,  tidak pernah bertegur sapa. Tapi, dengan teman-teman lain yang tidak punya sejarah apa-apa,  hanya karena tiba-tiba dekat di media sosial, yah akrabnya luar biasa. Amnesia apa ya?”

Ini menarik. Sangat menarik.

“Siapa yang kamu maksud Wi?”

“Teman kita  juga lah Ric. Heran aku, kenapa orang bisa cepat melupakan kenangan manis bertahun-tahun silam, dan bisa bersikap seolah-olah tidak kenal. Tapi dengan orang-orang yang baru saja ketemu lagi satu per satu, menemukan kecocokan, langsung mendapat tempat yang istimewa. ” Ia berhenti sejenak, mengaduk-ngaduk cangkir kopinya yang masih panas mengepul.

“Bahkan, suamiku yang dulu dianggapnya kakak kandung sendiri, sudah tidak dianggapnya. Menikahpun boro-boro ingat mengundang.”

Dan tiba-tiba semua menjadi terang. Aku jelas-jelas tahu siapa yang dia maksud.

“Yah itulah manusia Wi. Berharap kepada manusia hanya kekecewaan yang kita tuai.” begitu kataku sok bijak. Bingung juga mau menjawab apa.

“Kamu diundang gak Ric?” begitu dia bertanya dengan sangat berhati-hati.

“Wi, kalau kalian saja tidak diundang, apalagi aku? Siapalah aku ini?” begitu kataku lugas.

“Apa kamu merasa sakit hati Wi? Apa kamu cemburu dengan teman-teman barunya?” tentu dia tidak menjawab pertanyaan ku terakhir, karena aku hanya menggumamnya dalam hati.

Yah, sahabat karibku ini tengah galau. Foto-foto bahagia yang terus di uplad di sebuah situs media sosial beberapa minggu belakangan ini mengusik hati kecilnya.

Adalah wajar, jika dia mempunyai perasaan seperti itu. Aku cukup sering dibagi cerita-cerita manis tentang hari-hari yang dia dan keluarganya habiskan di luar negeri hampir 7 tahun silam. Kadang, berada di tempat yang asing dan jauh, memang  menebalkan semangat “persaudaraan” yang tinggi, karena tumbuh dari merasa senasib, sebangsa, se tanah air, rasa saling memiliki sangatlah kental, tapi yah aku menyayangkan juga, bila silahturahmi yang semanis itu, harus tercoreng dengan beberapa catatan  tak manis begitu masing-masing kembali ke tanah air.

“Wi, janganlah kau rusak harimu dengan memikirkan hal-hal seperti ini apalagi berhari-hari membuatmu sakit hati dan sedih. Rugi besar Wi, sementara orang yang dimaksud, ingat saja tidak. Lepaskan dia. He is not worthed. At least, kamu masih punya seorang aku yang siap kamu culik kapan saja kamu butuh kan? Apa kurang?” aku  mencandainya agar sejenak ia lupa dengan rasa kesal yang ia simpan di hati.

Kenangan-kenangan manis itu memang akan sulit dilupakan begitu saja.  Bagaimanapun, satu episode hidup tidak dapat dipisahkan dari seluruh perjalanan hidup. Sebuah buku tidak akan lengkap jika ada satu chapter yang dihilangkan. Meski ada bagian-bagian cerita yang menyakiti, mendukakan, namun, kita tetap harus menuliskan buku hidup kita dengan berbagai tinta aneka warna agar menjadi sebuah buku kehidupan yang indah.

Menyimpan rasa kesal, dendam dan sakit hati, sama saja seperti menghirup sebuah zat yang tidak berwujud, yang bersemayam dalam tubuhmu, dan kemudian bila dipupuk terus menerus perasaan itu, zat itu bertumbuh menjadi benih penyakit yang subur meracuni diri.

Anggaplah sebuah pembelajaran tentang hidup, dari Universitas Kehidupan yang tidak pernah selesai sampai kita menutup mata nanti. Ambil hikmah positifnya, buang gulma-gulma yang mengotori hati. Hidup terlalu indah bukan?

Ric Erica

Untuk sahabat karibku, as you’re more than worthed.

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store