A Journey for Self-Publishing

Setelah sekian lama menyimpan sebuah agenda besar dalam hidup saya, akhirnya pada suatu hari Rabu siang, pertengahan bulan November tahun lalu, saya memulai pertualangan saya mencari penerbit yang tepat untuk saya percayakan menerbitkan buku  impian saya. Saya telah mengantongi beberapa nama. Dan hari  itu, adalah jadwal saya berkunjung ke sebuah kantor  penerbitan, yang sepak terjangnya sudah saya amati sekian lama  dan namanya cukup familiar di dunia self-publishing.

Sekitar jam 13.00, saya diantar driver  ke kampung Makasar di daerah Cililitan sana. Saya memang tidak familiar dengan daerah itu, sehingga saya merasa nyaman kalau Muller yang mengantar saya. Melihat lokasinya saja, driver bertanya “ibu mau ketemu siapa, kok tempatnya begini..” Bayangkan, driver saya saja, meragukannya.

Benar saja, lokasi  kantor penerbit  itu terletak di sebuah lorong yang  tidak  bisa dilewati mobil, driver terpaksa menunggui mobil ditepi jalan dan sekali-kali menyusul saya takut saya kenapa-napa. Kantor penerbit yang terkenal itu hanya ditandai dengan sepotong spanduk yang sudah lusuh, di mulut gang. Hasil bertanya kepada tetangga, ditunjukkanlah sebuah rumah sederhana. Setelah mengetuk pintu saya dipersilakan masuk oleh seorang perempuan yang menggendong batita (yang saya duga, istri pemiliknya – maaf, nama terpaksa saya rahasiakan untuk menghormati lapak orang) dan kemudian Sahrul, orang yang selama ini cukup intens berkomunikasi dengan saya via telfon, dipanggilkan. (saya ganti namanya menjadi Sahrul aja ya, karena pegawai penerbitan tersebut mirip sekali dengan Sahrul Gunawan hehehe).

Rumah itu adalah rumah tinggal, bukan workshop / small office seperti yang ada dalam fikiran saya ketika saya memantau web dan page pemilik penerbitan, juga ketika mendengar suara Sahrul yang ramah  ’xxxxxxxx, selamat pagi”  di ujung telfon. Di ruang tamu rumah yang penuh dengan perabotan dan mainan si kecil itu, hanya kutemukan satu-satunya penunjuk bahwa rumah itu adalah kantor penerbitan, yaitu sebuah etalase kecil yang memajang beberapa judul buku cetakan mereka. Salah satunya adalah sebuah buku dengan 512 halaman yang digembor-gemborkan oleh pemiliknya, “mungkin” dilamar mas Hanung untuk difilmkan.

Tak lama terdengar suara tangisan si kecil yang merengek-rengek minta turun (mungkin tidak betah digendong ibunya). Suasana rumah itu cukup panas tanpa kipas angin. Saya dan Sahrul berkali-kali menyeka keringat yang mengalir dari pelipis. Dari dapur tercium aroma ikan goreng dan sambal terasi, kruyuk..kriuk.. Bikin laper aja nih ibu…

Satu-satunya pelipur hati saya adalah, raut  wajah Sahrul yang ramah, dan kesantunannya yang sempat mengingatkan saya kepada karakter pemuda beriman yang umumnya saya temukan di sinetron religi.. Percakapan pun bergulir, sambil sekali-kali saya mengamati kualitas kertas, cover, binding, ketikan aksara hingga kualitas bindingnya. Semua tak luput saya amati. Berada disana selama 1 jam, tidak terdengar ada suara dering telfon, atau suara mesin cetak yang harusnya menjadi warna dari sebuah penerbit bonafid yang bernaung dibalik nama besarnya.

Kesempatan saya datang itu saya maksimalkan untuk menanyakan segala sesuatu tentang biaya mencetak. Memang, pada saat online, saya sudah mendapat hitungan kasar yang memang masuk dalam budget saya. Sehingga, sebenarnya, saya hanya tinggal mensurvey percetakannya dan kualitas bukunya saja. Namun, inilah mengapa kita harus terlibat sendiri mengurusi dan tidak mudah tersihir oleh pesona yang diciptakan sedemikian rupa oleh kalimat-kalimat mereka dan tampilan profile mereka di internet. Pemiliknya, memang benar berhasil dalam personal branding.  Membaca tulisan-tulisan dia disana, otak saya pun terbuai dan ingin rasanya cepat-cepat menyerahkan naskah dan uang muka untuk project buku saya. Namun, sayangnya, personal branding yang begitu cantik dan apik itu, tidak didukung dengan profesionalisme dan business mindset  yang proper.

Ada beberapa hal yang mematahkan keyakinan saya seketika, ketika pemiliknya datang dan memergoki saya ada disana.. heheheh.., ia terlihat kaget dan shock barangkali, karena jarang-jarang mungkin ia kedatangan tamu tidak diinginkan seperti saya.  Ia rikuh dan gugup sekali  waktu itu.

Ada 3 pertanyaan saya, yang membuat ia gelagapan (saya fikir, jarang ada penulis yang bertanya sampai se detail itu), tapi karena saya memang sudah siap lahir batin untuk mencetak, semua daftar pertanyaan yang wajib sudah saya siapkan jauh-jauh hari.

1.  Mengenai micro-film (file naskah percetakan) yang sudah di edit oleh penerbit, adalah milik siapa? Untuk informasi saja, untuk jasa editor (mengedit aksara, mengedit layout, mendesain cover) saya di charge sejumlah uang per naskah / per judul buku, diluar biaya cetak buku. Awalnya beliau menjawab, milik saya sebagai penulis karena itu adalah karya saya. Lalu saya tegaskan lagi, kalau begitu microfilm file naskah saya yang siap cetak itu kembali kepada saya donk. Dia menjawab, akan kami kembalikan, dengan resolusi rendah (artinya saya tidak bisa menggunakan microfilm itu untuk mencetak di tempat lain suatu hari). Saya cukup mengerti tentang ini, karena beberapa kali saya sering mencetak brosur, katalog simple, kartu nama, company profile dan selalu micro film itu kembali pada kami dengan kualitas cetak. Lalu saya tanya, kalau kembali dalam bentuk file resolusi rendah, untuk apa saya membayar jasa editor, percetakan lain memprovide jasa editor cuma-cuma loh pak. Beliau gelagapan, lalu refleks menjawab, “karena harga editor itu harga subsidi.. Subsidi dari kami. Lagipula harga itu sudah sangat murah bila dibandingkan tempat lain.” Hehehhheeh.. Kualitasnya terkuak. Saya tersenyum. Saya tidak melihat ada kepentingan apapun mereka memberikan subsidi untuk itu, kalau saja, pertanyaan no 2 tidak saya ajukan.

2.  Bagaimana mekanisme menitipkan buku untuk dijual via mereka? Ini sudah saya dengar dari Sahrul via telfon, tapi saya ingin mendapat penjelasan langsung dari pemilik/pelaku utamanya. Beliau menjawab, “kita punya bursa buku. Buku ibu akan kami iklankan di website kami, juga di halaman kami. Kami kenakan sharing fee 50:50 setelah biaya cetak buku” Pertanyaan saya cukup banyak tentang itu, misalnya, bagaimana penulis tau berapa banyak bukunya dipesan dan siapa yang menanggung ongkos cetaknya. Luar biasa beliau menjawab “Kami yang akan mencetak, kami yang menghandle jual belinya. Ibu hny terima laporan saja per 2 bulan, berapa yang laku terjual” Pemesanan dilakukan via sms, HP dan BB saja. Wowwww.. Bagaimana kita tau angka yang dilaporkan itu angka yang benar kan? Saya baru kenal beliau 30 menit yang lalu. Hehehehe.. Ternyata tidak ada prosedur lain yg lbh transparan yang memihak kepada penulis. Semua ONE MAN SHOW. Bayangkan berapa banyak project yang di goalkan pemiliknya. Hanya sebagai broker penerbit, tapi, ia yang memegang microfilm, dan ia juga yang paling leluasa melakukan penjualan. Penulis? Ahh kau kan sekarang sudah punya buku… Itu barangkali alasannya. Dan selama microfilm itu tak bercacat, ia akan menjadi mesin uangnya pemilik. Maaf bila saya terkesan sarkasme, tapi please, “don’t trust anybody in Indonesia”, apalagi jelas-jelas ia telah melakukan penipuan massal tentang konsep penerbitan dan percetakan di website nya (bukan jasa penerbitan dan percetakan loh…). Kasihan penulis-penulis muda yang baru, yang berasal dari luar kota kan? (atau mereka-mereka inilah target market  yang empuk?) Atau mereka yang langsung main percaya saja tanpa survey ke lokasi. Untuk informasi saja, ketika saya bilang saya minta ketemu pemiliknya via HP, beliau  cepat berkata, “tidak juga tidak apa2 bu, semua tools diaktifkan di website. Ada pilihan pengiriman naskah via online, ibu tidak perlu datang untuk mengirimkan naskah ibu ke kantor.” Hehehehhehehe… Tapi, setelah beberapa kali menelfon Sahrul, menjalin komunikasi yang baik, akhirnya saya mengantongi alamat beliau.

3.  Saya bertanya tentang usia penerbitan itu dan apakah mereka punya percetakan sendiri atau bagaimana? Jawabannya adalah penerbitan itu baru berdiri 8 bulan, belum di legalkan atau di PT kan. Mereka melemparnya kepada percetakan rekanan. So.. Penerbit / Percetakan yang didengung-dengungkan itu tak lebih hanya makelar percetakan.

Sepulangnya saya dari tempat itu, saya mulai mengoogling ‘penerbitan indie label dan self publishing”, bahkan ada beberapa percetakan yang jelas-jelas memampang daftar harga ala carte pada web mereka, dimana harga yang di quote oleh penerbitan itu telah di mark up hampir 150%!!

Jadi, pertualangan saya akan semakin panjang dan saya hanya punya satu pilihan yaitu, menikmati setiap lika-likunya dar mengantongi database percetakan indie label dan mensurvey nya satu persatu, sebelum akhirnya memutuskan percetakan mana yang akan saya gandeng. Saya menyimpulkan sesuatu. Lebih baik, mencetak ya mencetak saja, pisahkan dengan mendistribusikan. Karena kalau tidak, tentu ada conflict of interest. Kalau memang mau dua-dua include ya, menulislah dan serahkan pada penerbit itu dengan sebuah agreement yang jelas dan lengkap yang mengatur hak-hak penulis. Atau serahkan saja sekalian pada penerbit mayor, penerbit besar yang memiliki toko buku yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan catatan ya harus nrimo kalau naskah kita ditolak, di pending atau gak di respon sama sekali. Karena mereka juga punya kriteria dan membiayai percetakan  untuk penulis menerbitkan sebuah buku.

Saya tidak pernah menyesal menghabiskan waktu untuk berkunjung ke kantor penerbitan itu. Saya juga tidak merasa sia-sia dengan kegagalan saya itu.  Saya justru bersyukur saya mengalami ini. Kenapa? Karena dengan itulah, saya berproses. Inilah bagian dari perjalanan saya, catatan saya dibalik setiap usaha saya meraih mimpi.

Saya ceritakan kepada suami, dia hanya tersenyum dan menepuk punggung saya sambil berkata “you are learning.. And this is your process”. So.. I take it as a very valueable experience. I am here because who I was yesterday. And my future is a part of my present and my past..

Itu saja  laporan saya. Cukup seru ya.. Setidaknya saya jadi kefikiran untuk menolong para penulis muda/baru yang masih idealis dan rindu sekali untuk membukukan karyanya. Membantu mereka untuk tidak terjebak dengan mulut manis seperti tokoh yang saya ceritakan ini. Entah bagaimana caranya nanti, siapa tau Tuhan mengizinkan dan menuntun saya untuk nyemplung beneran di bisnis ini. Sepertinya menyenangkan dan tentu saja.. saya menyukainya.

 

Ric Erica
Jakarta, 19 Januari 2013 : 21.30PM

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

4 Comments to “A Journey for Self-Publishing”

  1. Gafar says:

    Amin.. semoga doanya dikabulkan…

    Semoga suatu saat nanti buku hasil karya saya bisa diterbitkan oleh mbak. :)

  2. Hari says:

    Hai mbak, jadi akhirnya mbak pilih penerbit indie yang mana? Apakah rata-rata penerbit indie itu hanya makelar penerbitan kah? Terima kasih.

    • Erica Mascalova says:

      Akhirnya saya masuk jalur Gramedia, Hari. Ya.. sebagian penerbit indie memang makelar penerbitan, istilah kasarnya.. Tapi ada juga yang profesional memang ingin membantu menerbitkan dan ikut terlibat mendistribusikan. Pandai-pandai memilih saja. Dan terus hunting ya. Semangat!!!

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store