Pembantu Metropolitan 1

Ngomongin pembantu gak ada habisnya. Tadi pagi abis ngobrol di telfon sama temen baikku yang kayaknya selalu memiliki pembantu yang 1001 masalahnya. Sebenernya, dulu aku juga sempet ngalamin hal-hal yg kayak temenku certain. Jd paham banget lika liku punya pembantu, so cocok banget deh kl dia curhat soal pembantu ke aku. Seperti menelfon ke Hotline Service 24 jam. Krn aku bisa kasih masukan dan komentar-komentar yang sesuai dengan kebutuhannya.

Temenku itu, sepanjang yang aku pantau sudah puluhan kali gonta ganti pembantu. Ya aku hafal betul, nama-nama dan urutan pembantunya. Dari yang muda, dewasa muda, tua sampe udah nenek-nekek. Phewww.. capek deh..

Tadi pagi dia habis berkeluh kesah lagi soal Lastri, pembantu barunya, umur 16 tahun yang baru saja diambil dari yayasan langganan. Lastri adalah pembantu ke 7 yang diambil setelah Lebaran usai tahun lalu dan baru bekerja 2 minggu lamanya.
“Rik, pusing aku.. masa sudah berani comment-comment begini “wah bu, bapak pegi pagi pulang malam itu kerja atau gak betah di rumah, BU?” tet totttt.. atau bisa-bisa comment “ditinggal nih yeee.” waktu temenku tinggal di rumah sementara suaminya pergi ke mall sama Wilson, anaknya. Wuih.. untung tuh pembantu dapat temenku yang sabar dan gak banyak omong, paling temenku hanya bisa mengurut dada, sambil pasang tampang bete, dan 10 menit kemudian pasti.. telfon di rumahku berdering penuh emosi, KRINGGGGGGGGGG..

Sebelumnya, aku cukup dihibur dengan cerita-cerita tentang Lastri dan sejuta keajaibannya, misalnya Pantang makan makanan yg berumur lebih dari 12 jam, selalu tebar pesona tiap-tiap jam 16.00-18.00 dimana semua tukang bakso, siomay, gorengan, tukang es, sampe kuli-kuli bangunan, numplek di depan rumah temenku. Pantesan pada hobby ngumpul di depan rumah temanku, karena Lastri ini sering menyuguhi mereka teh manis hangat dengan senyum maut yang tidak kalah manisnya dari kue lapis legit bikinan nyokap. Bayangkan bagaimana gatalnya telinga temanku itu, bila saatnya tiba semua abang-abang itu lewat dan mendapati Lastri absen dari pandangan mereka. Dan yang paling aku suka ngikik waktu temenku cerita kl si Lastri punya hobby unik, tiap hari Senin tidak pernah mandi pagi… aihhhh…

Kejadian yang paling ajaib yang dialami oleh temenku adalah ketika ia menerima pembantu dari pesisir pantai Jawa Barat, namanya Sri. Sri ini umur 17 tahun, temanku kolektor ABG rupanya.. Secara fisik dan psikis tidak ada yang aneh dalam diri Sri. Badannya kecil, dengan kulit hitam, rambut sebahu. Kalau disuruh harus 2-3 kali baru dikerjakan, suka menghilang di jam-jam tertentu, kerja cepat hasil tak maksimal, kalo diomelin suka pura-pura budek, dan sering ketiduran kalau temanku pergi. Normal kan, umumnya pembantu kita semua begitu…

Satu-satunya keanehan Sri dan fatal.. adalah Sri sering menerima telfon aneh dari ibunya, berbicara berbisik-bisik, bahasa tubuhnya mencurigakan. Hingga suatu hari temanku yang mulai penasaran mengangkat telfon nguping, “Sri.. siapa nama lengkap boss mu sri.. jangan sampe salah.. nanti ibu liatkan ke dukun sri, spy boss kamu itu nurut sama kamu dan gak macem-macem.” Temanku merinding seketika… aih.. serem..

Sebenernya bukan kemauan temenku juga sih, bisa gonta-ganti pembantu sebanyak itu. Aku rasa soal pembantu adalah masalah yg cukup berat buat dia. Punya bermasalah, gak punya juga bermasalah.
Aku rasa pasti sebagian besar dari kita semua, pernah mengalami masalah dengan pembantu rumah tangga, tapi untungnya sudah sejak 3 tahun lalu, aku terbebas dari sumber permasalahan yang satu itu.

Apalagi sejak menjadi aktifis di facebook, setiap hari, pasti ada saja status-status temen yang bicara tentang pembantu. Dan biasanya dibanjiri dengan komentar-komentar lucu seputar pembantu. Terlebih saat pra lebaran atau pasca lebaran kemarin. Memang mendapatkan pembantu yang ideal untuk setiap rumah tangga, masa-masa kini, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Melelahkan dan membutuhkan kesabaran, trial dan error sudah merupakan seni dari pencarian itu.

Aku sekarang punya dua pembantu setia, (Kris dan Ida) yang tinggal di dalam, dan satu pembantu harian (mbak Tini) yang datang setiap hari, dengan jam kerja antara jam 14.00 sampai 18.00. Dan aku sangat-sangat happy dengan mereka. Khusus Kris dan Ida, mereka berdua memang benar-benar tim work yang hebat. Satu pendiam (tipe kolerik kayak kata temenku) dan satu tukang berkicau (tipe sanguine, juga kata temenku). Kris, trampil memasak, mengurus rumah dan kadang-kadang membantu merekap pekerjaan aku (aku menahan nafas menyaksikan kecepatan dia mengetik. Lima menit satu kalimat), tetapi untuk urusan jalan kemana, kirim dokumen, beli ini, beli itu, pengadaan barang, bantuin Nate, ah jangan dipertanyakan.. Gesit, sigap dan lebay kadang-kadang hihi.. Sementara Ida cukup bisa diandalkan sebagai asistennya Kris. Walaupun hati ini sering mempertanyakan dan mengamati, bahagiakah Ida? Hihi. Sedangkan mbak Tini memang sudah lama ikut aku, masuk tahun ketiga. Tinggal di deket rumah, dan siap diandalkan kapan saja dibutuhkan.

Tapi jauh sebelum itu, complicated juga… Aku punya banyak pengalaman yang menarik yang kalau aku ceritakan semua disini, akan menjadi rentetan cerita bersambung puluhan episode.

Dulu aku pernah dapat pembantu yang kuambil khusus dari Indonesia Timur. Dengan administrasi pengambilan yang cukup mahal, aku tergiur karena menurut ‘marketingnya’ – mohon maaf: tolong dibaca calo -, pembantu dari daerah-daerah Timur, selama 3 tahun pertama tidak akan pulang, karena ongkos pulang mereka sangatlah mahal dengan perjalanan minimal 6 hari menggunakan kapal laut. Ditambah garansi selama 1 tahun berhak mendapatkan penggantian pembantu bila kurang cocok.
Selain itu, kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga miskin yang memang benar-benar membutuhkan. Bahkan sebagian sudah tidak memiliki orang tua sejak balita. Waktu itu aku mengambil dua sekaligus.. Yang satu umur 18 tahun, yang satu lagi lagi 16 tahun. Aku fikir, 3 tahun tidak pulang dengan membayar biaya administrasi diatas rata-rata tidak mengapa, dibandingkan tiap beberapa bulan sekali aku musti bolak balik menghabiskan uang ratusan ribu karena pembantu pulang sebelum waktu perjanjian.

Tapi ternyata, masih bermasalah juga. Lebih ke masalah tingkah laku sebenarnya. Mereka ini benar-benar belum mengerti manners dan sopan santun, dan bermasalah dengan bau badan. Aduh.. yang ini aku dan suamiku sempet mabok dan tidak betah di rumah, sampai akhirnya kami mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli pengharum ruangan otomatis untuk mengurangi bau mereka dan tentunya, obat-obatan untuk mereka yang bisa mengurangi / menghilangan bau badan dan obat kumur-kumur untuk masalah nafas tak segar.. Tata bahasa mereka yang cukup keras (untuk orang Jakarta), dan selera makan mereka yang melebihi standard, juga salah satu pertimbangan kenapa aku melepas mereka kembali ke yayasan tempat aku mengambil. Dan seperti yayasan-yayasan yang lain, realitas tidak pernah semanis janji-janji di awal. Garansi penggantian pembantu sampai 1 tahun, hanya ucapan saja.

Sebelum itu, aku pernah mendapat pembantu umur 19 tahun asal Lampung. Wah anaknya manis sekali, namanya Rianti. Penampilannya baik, tutur katanya baik. Siapa yang tidak senang punya pembantu seperti Rianti. Keliatan terpelajar dan cekatan. Dua minggu bekerja, aku dibuatnya benar-benar jatuh hati. Semua pekerjaan diselesaikan dengan baik, pintar masak, dan tidak banyak bicara. Rumah bersih mengkilap. Tapi setelah dua minggu, di satu kesempatan dimana kami semua tidak berada di rumah, dia menyikat habis beberapa benda yang ada di rumah, tapi lucunya, justru perhiasan, HP, camera, laptop dan jam tangan mahal tidak diambilnya. Yang diambil justru pakaian-pakaian pestaku, setelan blazer ke kantor, jaket casualku, sandal-sandal cantikku, gelang / anting imitasi berbagai warna, biscuit 2 kotak, buah-buahan yang tinggal beberapa biji di kulkas dan astaga! ini yang paling lucu aku rasa, coca cola dan poccari sweat 3 kaleng. Sungguh modus pencurian yang aneh. Meributkannya pun hanya membuang-buang energi.

Sebelum Rianti, dari yayasan yang sama, aku mendapat Narti, baru 3 hari bekerja, dia sudah menangis melolong-lolong sepanjang malam sambil memanggil-manggil nama ibunya yang sudah rest in peace. Tidak mau makan, tidak mau minum, sepanjang hari hanya bengong duduk di anak tangga dan sesunggukan tanpa sebab. Serba salah aku jadinya.. Akhirnya kukembalikan ke yayasan tempat aku mengambilnya.

Lalu ada Iroh, pembantu umur 15 tahun, asal Jawa, cukup memusingkan kepala. Belum apa-apa dia sudah memproklamirkan dirinya begini : “Ibu saya tidak bisa masak, tidak bisa urus anak, hari Minggu saya minta libur. Sama ibu saya, saya tidak boleh makan sayap ayam, dan tidak boleh makan telur.” Kepalaku berdenyut-denyut.. Dan seperti Narti dan dua almamaternya dari Indonesia Timur, Iroh tidak berhak mendapatkan wild card untuk lolos ke babak spektakuler.

Ada juga Septiana dalam list ku, entah nama asli atau bukan.. aku gak sempat punya KTP doi. Nah yang satu ini aku dapat dari temenku, dari pembantu temenku tepatnya. Nah Septi ini gaul sekali. Bacaannya saja novel Harry Potter yang tebal itu, mungkin sekarang bacaannya adalah LASKAR PELANGI oleh Andrea Hirata atau AYAT – AYAT CINTA yang ngetop sekali itu. Aku juga pernah diperlihatkannya beberapa koleksi CD/MP3 nya dari Peter Pan, Sheila on 7, Ungu, Dewa 19 dan Dewi Sandra.. Wow.. Anak ini leave-in maid terakhir yang aku punya, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk hanya punya pembantu harian saja, mbak Tini.

Bagaimana aku tidak kapok. Anak satu ini pinter sekali bicara. Tidak mau terima kritikan/teguran. Sepertinya majikan yang tepat untuk Septiana ini adalah presenter TV, pengacara atau politisi. Dia selalu merasa seperti pembantu eksekutif dan professional.. Pendelegasian tugas harus jelas dan sesuai dengan job descriptionnya. Ehem.. dan dia dari kampung sudah berangan-angan menjadi pembantu selebritis.. Dan berobsesi ingin mengikuti audisi Indonesian Idol, program RCTI yang keren itu.. Tok Tok Tok.. Tokoh Septi ini kalau dibuatkan novel, pasti selling pointnya cukup tinggi. Karena sungguh, Septi ini berani tampil beda.

Cerita tentang Septi tidak berhenti sampai disitu, ketika suatu hari aku mendapati beberapa tulisan tangannya di dapur, seperti dibawah ini :

Cahyo, cakep, pinter main gitar, sayang gak punya motor
Taufik, cakep, lucu, sekolah STM, sayang sudah punya pacar. Pacarnya belagu lagi.. Anj#?@
Ipul, anak tunggal, berduit, punya motor, sayang emaknya galak
Misro, lucu, perhatian, gak pelit, sayang jelek dan emaknya nyolot..

Waktu aku menemukan tulisan itu, kontan aku senyam senyum sendiri. Unik sekali dia. Cerita tentang Septi menjadi lengkap karena ketika aku pergi, dia sering request begini, “Bu, Ibu mau pergi ya.. Kl ibu pergi lama, boleh gak DVD ibu aku pinjam? Sepi nih di rumah bu.. “ Panas menjalar ke kepala. Septi hanya bertahan 1.5 bulan di rumahku, sebelum aku E.L.I.M.I.N.A.S.I atas kesepakatan kami semua. Dan sejak itu, aku mulai melirik kemungkinan memiliki pembantu harian,sampai akhirnya bertemu dengan mbak Tini, Kris dan Ida, yang akhirnya menciptakan hari-hari nyaman di rumah.

Yah, pembantu dan persoalannya, tidak pernah habis-habis untuk dibahas. Kadang menimbulkan senyum dan tawa, tapi kebanyakan ya sakit kepala.. Buat temen-temen yang lagi mencari, jangan putus asa, karena sendiri mengerjakan pekerjaan rumah juga bukan hal yang mudah. Waktu akan habis, sementara kita sendiri membutuhkan banyak waktu yang berkualitas untuk diri sendiri dan keluarga.

Mungkin sedikit tips bagaimana menghadapi pembantu2 zaman sekarang, adalah dengan menjadi happy dan relaks dengan diri sendiri dan rumah. Santai. Tidak perlu terlalu otoriter dan perfectionis. Beri mereka rasa nyaman dan tenang tinggal di rumah kita, perlakukan mereka dengan halus, tapi sebaliknya bila mereka melakukan kesalahan, atau keluar dari jalur yang seharusnya, tegur pada tempatnya. Jangan juga selalu tahu beres, sekali-kali ikut mengerjakan pekerjaan rumah. Ada banyak kejadian juga, justru karena pembantu sudah merasa teramat penting di rumah, merasa sangat dibutuhkan dan besar kepala. Diperlukan sepasang mata yang setengah tertutup, sepasang telinga yang setengah tuli, dan satu bibir yang setengah terkatup untuk membuat mereka betah bekerja di rumah kita.
Semoga mendapatkan pembantu yang ideal.. Happy Hunting.

Selamat sore,

Ric Erica, 20 Oktober 2009 : 15.45PM

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

3 Comments to “Pembantu Metropolitan 1”

  1. robert anggora says:

    “Diperlukan sepasang mata yang setengah tertutup, sepasang telinga yang setengah tuli, dan satu bibir yang setengah terkatup untuk membuat mereka betah bekerja di rumah kita.” —->nice quote

  2. keren masbro webnya…. mantapppp

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store