My Motherhood

My Motherhood

 

 

Pagi pagi saya sudah terkekeh geli sekali. Hari ini putra saya libur, sehingga kami punya banyak waktu santai untuk saling bercerita dan menggoda tanpa drama serial dan “special effect” eperti pagi-pagi biasanya.
Ya.. hubungan kami itu unik.
Pagi hari stress. Sore dan malam hari hura hura. Hahahha.
Kesimpulan : pagi ini berlalu dengan gencatan senjata, aman, damai, terkendali, diselingi hahahihi.

Sambil saya memanggang roti dan membuat jus sirsak berry untuknya, ia membuka percakapan:

“Ma.. kenapa mommy and daddy itu bisa berbeda sekali ya 180 derajat.”

Saya menjawab, ” oh pasti itu. Pernah denger gak.. man from mars and woman from venus?”

Dia : “Ya pernahlah.. aku juga bisa rasakan kok dengan para girls di kelas aku. Maksud aku.. mom and dad itu beda banget cara nge handle nya. Aku lagi belajarin nih.”

Cieeeeee nge handle lohhhh.. mommy mah apa atuhhhh..

Saya mendengarkan dengan seksama. Soalnya kalau sudah begini, si Nate sering mengeluarkan isi hatinya yang paling dalam tanpa harus dipancing pancing.

Nate : “Contohnya nih.. kalau minta uang sama daddy ya.. tinggal bilang perlu berapa.. dad hanya nanya untuk apa terus langsung kasih. Lebih malah. Nahhhhh kalau sama mommy.. sudah nanya nya banyak, untuk apa, kapan, dimana, sama siapa, ditawar lagi.. ehhh disuruh bantu bantu pula. Ya rapiin bed, bawa piring ke dapur, beresin meja.. ”

Meledak tawa saya seketika. Ohhh jadi itu profil saya di mata anak laki-laki berumur 14 tahun itu? Pelit, penjajah dan tukang nawar? Hahahahhaah.

“Jadi aku putuskan.. untuk urusan minta uang, aku langsung ke daddy aja. Tapi urusan jemput-jemput, makan, sama hal hal kecil lainnya.. aku sama mommy aja. Mommy itu payah kalau soal uang.” Sambungnya lagi sambil menggigit roti isi yang saya buatkan.

“Iya ya.. mommy gitu ya.. hahahahha..” Gak ada pilihan selain mengaku. Abis gimana.. faktaaaaa..

Saya jadi ingat, beberapa minggu sebelumnya, dengan senang hati saya menjemput putra saya dan teman teman perempuannya pulang dari KKR Hillsong, Dua teman perempuannya saya antar hingga di depan pintu rumah masing-masing. Waktu itu menjelang tengah malam.
Dalam perjalanan kami bercanda dan suasana di mobil jadi hangat dan ramai.

Rupanya perjalanan itu berkesan sekali bagi dua teman perempuan Nate. Dan hal tersebut disampaikan Nate kepada saya keesokan harinya.

“Ma.. tadi B and C bilang.. you’re so nice and thank you for taking them home. Lagu di mobil juga enak enak. Bahkan B bilang – I wish my mom kayak mommy”

“Oh iya.. mommy juga seneng kok bisa anter temen-temen kamu pulang.” Begitu jawab saya.

Jujur saja.. saya menikmati aktivitas antar jemput seperti ini. Bisa ngobrol dengan anak anak itu. Memahami karakter mereka, cara bergaul mereka. Bahasa mereka. Cara berpakaian dan cara berfikir mereka. Sangat menarik.

“Mommy tuh ya.. mungkin terlalu cerewet and noisy.. sampe aku gak inget kalau mom itu nice dan menyenangkan, kalau mereka gak bilang tadi.”

Lagi lagi saya hanya bisa tertawa waktu itu.
Abis gimana.. emang bener. Hahahahahah.

Tapi, setelah pembicaraan pembicaraan itu, setelah saya sendirian, saya jadi berfikir.

Bukankah keren, dimana seorang anak remaja laki-laki yang selalu sibuk dengan teman temannya itu masih bisa mengungkapkan isi hatinya dengan cara dan waktunya?

Mengingat, gap saya dengan papa dan mama di masa masa sekolah saya terlalu besar. Bercanda begitu bisa menuai masalah. Apalagi bicara terus teramg tentang ketidakcocokan saya tentang cara mereka mendidik dan memperlakukan saya.

Yah.. Tidak permah rasanya saya bicara seperti itu kepada mereka pada saat makan pagi atau makan siang.
Mama sudah terlalu lelah dengan pekerjaaan pekerjaan rumah yang tidak pernah habis yang ia kerjakan sendiri tanpa bantuan pembantu.
Dari bangun pagi hingga beristirahat tidur, ia tak pernah berhenti bekerja.
Mama sudah terlalu ribet dengan dua adik-adik yang juga butuh perhatian.
Itupun diselingi lagi dengan membuat kue pesanan langganan untuk membantu perekonomian keluarga. Hal ini membuat saya cepat mandiri dan mengambil alih bersih-bersih rumah dan mengurus adik-adik.

Dan di zaman itu, semua ayah pasti sangat fokus dengan pekerjaannya sehingga ketika mereka pulang ke rumah, jarang sekali kami berani mengganggunya.

Bagi mama.. jika rumah rapi dan bersih, pakaian tersetrika harum dan licin, selalu tersedia makanan yang baik setiap hari, kamar mandi bersih dan selalu terisi air, artinya ia telah melakukan tugasnya dengan baik. Sehingga tak jarang, di waktu-waktu luang ia lebih suka bicara dengan tetangga-tetangga sebaya nya untuk melelas lelah, jenuh dan stress ketimbang bicara dengan saya.
Tapi nanti giliran saya agak bandel sedikit atau melakukan hal yang tidak berkenan, ya gitu dehhhh hahaha..

Makin saya dewasa, saya makin memahami mama. Ya sejak saya menjadi ibu untuk putra saya, saya mengerti dan memahami mama.
Di hari tua nya pun mama bermetamorfosa banyak. Terlebih sekarang ia dianugerahi 6 orang cucu yang lucu-lucu.

Kembali kepada Nate.
Ia belajar bagaimana menghandle saya, sebaik saya belajar menghandle dia.
Saya terus belajar loh.. untuk gak selalu mengomel meski kesalnya sudah sampai ubun-ubun.

Seperti hari Senin sore kemarin. Dimana ia minta dijemput mendadak dan tanpa menunggu saya langsung meluncur ke rumah temannya, tiba tiba saya diberitahu kalau anak saya sudah diantar pulang oleh temannya yang lain.
Ditelfon gak jawab, hanya sms “iya ma. Lupa kasih tau.”
Seperti menelan biji kendondong kan yaaa?
Saya tau, jika saya langsung pulang dan melihat bayangannya, saya pasti langsung noel telinganya dan menghadiahinya dengan kalimat kalimat indah.

Jadi.. saya mampir dulu ke kedai es kelapa muda.. membiarkan kesegaran kelapa muda itu membasahi tenggorokan dan menyejukkan hati dan kepala yang panas, lalu pulang dengan kecepatan 30km/jam ditemani lagu Sugar – Marron Five, Blank Space – Taylor Swift, Problem – Arianna Grande dan teman temannya itu, sambil memikirkan kata kata apa yang bagus dan “nampol” untuknya dan ketika sampai di rumah mendapati anak itu selonjoran di sofa tanpa melepas kaos kaki dan baju sekolahnya, dan melototi HPnya kok rasanya LUCU bangettttt kann yaa?

Saya masuk kamar, mandi, menimbang badan, ngaca dikit untuk menghitung jumlah uban yang hadir akibat kejengkelan kejengkelan kecil dengan putra kesayangan.

Dan setelah merasa agak baik, saya keluar dan mengusap rambutnya.

“Ko.. maafkan mommy ya.. Tadi mommy salah.. waktu koko bilang minta dijemput tadi, mommy langsung jemput aja. Jadinya waktu mommy sampe, eh kokonya sudah pulang diantar temen koko deh.. ”

“Trus.. mommy juga sorry.. tadi nelfon koko.. tapi koko gak angkat. Cuma sms lupa”

Tanpa diduga.. anak itu tertawa tersipu-sipu dengan pipi yang merah jambu khas jika ia merasa disindiri atau merasa bersalah. Lalu ia mengalungkan tangannya, memeluk leher saya, mengecup pipi saya dan menepuk punggung saya dan berkata..
“Iya ga pa pa.. aku maafin. Lain kali jangan begitu lagi ya. ”

Lalu kami berdua tertawa dan saling mengatakan “I love you”. Dan kesal yang sempat ditahan-tahan tadi entah menguap kemana.

Sssttt.. jangan bilang bilang ya.. doi kayaknya bakal tumbuh jadi laki-laki yang tenang dan romantis deh..

Ric Erica
Jakarta, 27 Mei 2015

 

 

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

No Comments Yet.

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store