Biarkan Kelak Ia Mengenangku Seperti Ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku mungkin tidak pernah akan bisa menjadi ibu yang terhebat atau terbaik di seluruh negeri. Aku adalah seorang ibu yang sangat jauh dari kategori “IDEAL” dan bahkan tidak pantas dipertimbangkan sebagai ibu yang “BAIK” untuk anakku. Namun setiap hari, aku belajar dan mencoba, setidaknya, aku boleh menjadi Ibu yang yah.. okelah buat anakku sendiri, Nate, seorang anak laki-laki berumur 9 tahun, yang sekarang duduk di kelas 4SD sebuah sekolah swasta di Jakarta.

Dari Nate lahir, aku tidak pernah memakai baby sitter. Dari memandikan, menyiapkan makan, membuatkan susu, sampai menyuapi nya makan dan menggendongnya hingga dia lelap, aku mengerjakannya sendiri. Semua aku kerjakan dengan suka cita. Aku percaya, setiap sentuhanku, setiap belaianku, gumamanku dan lantunan suaraku untuknya, sejak dia pertama kali membuka mata, hingga berumur 9 tahun seperti sekarang, adalah bibit kasih yang tidak pernah sia-sia. Dan itulah yang membangun ikatan batin yang kuat antara aku dan NATE.

Nate, tumbuh menjadi anak yang sensitif, periang dan mudah dihandle. Dan aku sangat bersyukur sebab Ia boleh tumbuh menjadi anak yang baik, cerdas, ceria, sehat, dan mandiri .

Aku percaya, semua ibu pasti ingin memberikan yang TERBAIK untuk anak-anak yang dilahirkannya. Semua Ibu tentu punya mimpi yang indah untuk masa depan anak-anaknya, dan akan melakukan yang terbaik yang bisa ia berikan, untuk membahagiakan mereka. Namun kadang, kita, para IBU, lupa, bahwa anak-anak itu juga manusia. Punya perasaan, punya keinginan, punya mimpi, yang mungkin kita, sebagai wanita dewasa, tidak bisa mengerti dan kadang, kita melupakannya atau tidak menghiraukannya. Yang ada dalam fikiran kita, “Hei nak, percayalah padaku. Aku ibumu, aku tahu yang terbaik untukmu. Sudah, turuti ibu saja. Karena ibu yang paling tahu tentang kamu.”

Ada 3 kejadian dalam hidupku, yang tidak pernah aku lupakan, tentang NATE.

Pertama, ketika dia berumur 3.5 tahun, dan dia hilang di Singapore, di TAKASHIMAYA Shopping Centre, hanya karena ia memberikan signal LELAH, namun aku dan daddy nya terus membujuknya untuk sabar, karena acara shopping kami terlalu seru untuk ditinggalkan. Waktu itu, NATE menghilang selama 3 jam. Bayangkan, bagaimana aku lemas dan stress menghadapi itu. Anak yang lucu dan menggemaskan itu, HILANG, di Negara orang, disebuah pertokoan yang besar, dimana banyak orang lalu lalang (waktu itu public holiday). Setelah 2 jam mencari, bekerja sama dengan management dan security TAKASHIMAYA, akhirnya Nate ditemukan. Dimana? Dia meringkuk dengan sedih, di sebuah sudut ruang ganti di lantai 3.
Waktu kami tanya, dengan raut sedih dan suara pelan menahan tangis, Nate berkata dengan bahasanya yang masih terbatas, terbata-bata, “I hate mommy and daddy. You never listen”.
Hanya satu kalimat singkat dan sederhana, yang membuat tangisanku pecah. Lalu kami merangkulnya pulang dan semalaman kami berdoa untuk Nate, memohon ampun atas kesalahan besar yang kami buat.

Pelajaran yang kami dapatkan adalah, “MENDENGARKAN.” Walaupun Nate baru berumur 3.5 tahun dan belum mengerti banyak hal, namun NATE juga mau didengarkan dan dia juga punya feeling dan kemauan.

Kejadian kedua, adalah ketika aku mengalami pemulihan atau rekonsiliasi dengan Nate, beberapa bulan lalu. Di note ku sebelumnya, yang berjudul “TENTANG KITA” aku menceritakan bagaimana aku dan Nate terlibat dalam sebuah percakapan yang merupakan titik balik hubunganku dengan Nate. Nate, dengan kecerdasan anak umur 9 tahun, benar-benar gamblang menyebutkan apa yang ia harapkan dan inginkan dari aku, juga hal-hal apa yang melukai hatinya selama 9 tahun menjadi Nate ku. Pelajaran yang aku ambil adalah, “Anak kecil, mempunyai suara hati yang murni dan mereka mau membicarakannya dengan pendekatan yang baik.” Pada fase ini, aku beruntung, Nate dianugerahi kemampuan untuk mendefinisikan keinginannya dan ketidaksukaan nya akan sesuatu keadaan.

Kejadian ketiga,tepatnya satu bulan yang lalu, Nate pergi meninggalkan rumah, karena tidak suka dengan perlakuan daddy nya. Pada fase ini, aku yang salah, ketika Nate mengirimkan signal tidak nyaman, aku malah sibuk berdandan untuk pergi ke pesta pernikahan seorang sahabat. Malam minggu itu menjadi kalut, ketika aku sadar, Nate sudah tidak di rumah. Sebaliknya, aku melihat daddy Nate tenang-tenang saja, masih menduga Nate hanya bersembunyi di dalam rumah.
Seketika, kukeluarkan mobil dan menyusuri komplek perumahan. 30 menit aku menemukannya berdiri di salah satu rumah tetangga, kebingungan, dan menangis. Di fase ini, aku merasa hancur hati, karena tidak bisa melindungi dia dan meraih hatinya. Setelah bicara baik-baik, pemulihan terjadi, aku belajar bahwa “Aku harus selalu MEMPERHATIKAN dia bagaimanapun keadaanku.”

Kejadian demi kejadian yang tidak bisa aku lupakan itu, membuat aku menjadi dekat dan semakin dekat dengan Nate, terlebih beberapa minggu terakhir ini. Aku meluangkan waktu hanya berdua saja di akhir minggu untuk jalan-jalan dengan Nate, berdua saja, makan di restoran favoritnya, entah makan sushi atau pizza, ke toko buku (Nate hobby membaca.. salah satu koleksi bukunya adalah buku Geronimo Stilton). Kadang kami pergi ke cinema, atau ke playland favoritnya. Sebisa mungkin kami pergi bersama, entah Sabtu atau Minggu, berdua saja. Biasanya, pada saat-saat itu, aku dan Nate bisa berkomunikasi dengan jernih dan relaks, dan aku menjadi semakin mengerti “WHO IS NATE”.
Apakah kita benar-benar TELAH MENGERTI siapa anak kita?

Kadang, kami juga hanya duduk di mobil, berkeliling kota Jakarta, sambil melihat-lihat gedung-gedung tinggi di Sudiman, dan selalu aku putarkan lagu-lagu kesukaanku tahun 80-90an, sambil sesekali aku bersenandung dan membelai rambutnya. Aku ingin, sedari dini, Nate kuperkenalkan dengan hal-hal yang kental sekali dengan ke “aku” an ku. Aku ingin, Nate juga mengenal aku dengan baik. Bukan hanya sebagai ibunya, tapi mungkin seperti SAHABAT BAIK.

Sampai hari ini, aku masih belajar, mengenal anakku, mengenal sifatnya, mengenal keinginannya, kesukaannya. Dan semakin aku belajar, aku menemukan banyak hal-hal ajaib dalam pribadinya. Sebagai contoh, ternyata dia suka menulis (walaupun menulis hal-hal di luar prediksiku.. aku masih bingung tentang ini, sedang dalam proses mencari tahu dan mengarahkannya). Dia suka science, semua hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, dia akan sangat tertantang untuk membaca atau mencari informasi). Bicara soal menulis, aku pernah mendapat sebuah surat cinta yang ditulis oleh Nate untukku, dan aku sangat-sangat terharu karenanya. Dari situ, aku mulai menemukan ada satu bakat Nate, MENULIS, yang harus aku perhatikan dan kembangkan.

 

Aku ingin, suatu hari, di masa depannya, Nate akan mengenang aku, dan mungkin ada beberapa hal indah yang bisa ia ceritakan pada teman dan orang-orang yang dicintainya kelak tentang aku.

Aku ingin, dia mengenangku dengan hal-hal manis.. mungkin seperti..

“Dulu mama sering mengajakku keliling Jakarta, dan kami melihat gedung-gedung tinggi, dia sering memutarkan aku lagu-lagu kesukaannya, dan sekali-kali kami ngobrol tentang keinginanku KELILING DUNIA.” Atau

“Dulu mama sering mengajakku ke cinema, menonton film-film kesukaanku. Setelah itu, kita akan duduk di restoran pizza, menikmati satu Loyang pizza hangat, sambil diskusi tentang film yang kami lihat tadi. Apa bagian favoritku, dan apa bagian favorit mama.”

“Dulu mama sering mengantar jemputku bermain basket.. Dan sambil menungguku main basket, mama menghabiskan waktu dengan mengabadikan permainanku, atau lari sore, sambil tetap menatapku lekat-lekat dari kejauhan. Setiap aku mencarinya, aku selalu mendapati mama memperhatikan aku.”

Atau, ketika tiba-tiba dia mendengarkan ada sebuah lagu yang sangat familiar, dan tiba-tiba dia akan membesarkan volumenya dan berkata “ Hai ini lagu kesukaan mama.. Dulu mama sering memutarkan lagu ini di rumah, dan dia sering bersenandung pelan. I miss that moment.”

Atau, “Aku kangen bitterballen bikinan mama. Aku ingat, waktu aku kecil, aku sering ke dapur, memperhatikan mama membuat makanan itu dan aku sering mengambilnya diam-diam.

Atau “Dulu mama sering duduk di balkon menjelang senja, dia akan menulis berjam-jam dan kerap menghadiahi ku tulisan-tulisan manis tentang bagaimana dia mencintai aku. Aku rindu mama.”

Yah, aku ingin Nate mengenangku seperti itu, dengan cara yang special, dan mengenalkan sisi ke “AKU” an ku, sebagai SAHABAT BAIKnya, bukan hanya sebagai IBU, adalah salah satu pilihanku.

Di atas segala itu, berlebihankah aku, bila aku ingin Nate menjadi pribadi yang hangat, ramah, penolong, lembut hati, dan bisa mengekspresikan perasaannya dengan cara yang baik kepada orang-orang yang ia kasihi.

Bagaimana dengan kalian?

Jakarta, 23 November 2009 : 06.15 PM
Ditulis dengan hati,
oleh Ric Erica

Dari sebuah balkon, ditemani sejuknya angin sore
Karena aku telah jatuh cinta pada NATE berkali-kali, dengan cinta yang sama ketika pertama kali aku menyentuhnya.

 

 

 

Written by

Just a middle 30s ordinary woman who is easy smile-easy laugh, a writer, a wife, a mother, of a teenager boy, a family woman, a free-unthinkable mind who loves reading-dreaming-writing, laughing all day, multitasking one, sport-addicted, adventurous traveler, independent, a friendly best friend for those people who loves the same passion and humor, loves cooking, a great partner for movie date for her best friends, sometimes doing her consultant works, a lady who loves seeing things at her funny sight.

5 Comments to “Biarkan Kelak Ia Mengenangku Seperti Ini”

  1. Very says:

    “Di doa ibuku ada namaku disebut” ….

  2. Englelina says:

    Wow,,, andai semua Ibu seperti Anda,, pasti menyenangkan, tidak hanya ingin didengar, tapi juga mau mendengar. Bahkan, seorang guru pun tidak selamanya menjadi pengajar yang baik, meskipun mereka pernah berada di posisi yang sama, yakni murid. Ku berharap,, ku tak lebih seorang wanita yang melahirkan, tapi juga seorang wanita yang membesarkan..

    Terima kasih, Bu Erica

    • Erica Mascalova says:

      Saya juga masih belajar mbak Englelina. Setiap hari adalah sekolah buat saya dan anak saya. Saya doakan mbak Englelina mengalami moment-moment manis dan berkesan dengan buah hati. Karena setiap hari kita berjuang dan belajar..

  3. sutan says:

    Ibu itu pelita hidup…seperti yang di uraikan oleh bondan feat 2 black…anak adalah inspire..obat segala letih dan lelah akan kehidupan dikala lelap nya merupakan masa haru yg membuat seorang ayah tuk mengecup nya…kasih anak sepanjang penggalan,cinta dan kasih ibu sepanjang jalan…

Leave a Reply

Message

Current day month ye@r *

x

Click dan Download App Android ERICA MASCALOVA dari Google Play Store